Anak SD Bundir karena Tak Mampu Beli Buku, RG: Negara Lebih Pilih Sumbang Rp17 T ke Donald Trump!

Anak SD Bundir karena Tak Mampu Beli Buku, RG: Negara Lebih Pilih Sumbang Rp17 T ke Donald Trump!

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Anak SD Bundir karena Tak Mampu Beli Buku, RG: Negara Lebih Pilih Sumbang Rp17 T ke Donald Trump!

GELORA.CO -
  Akademisi Rocky Gerung sindir kegagalan pemerintah atas kasus Siswa SD di Ngada, NTT, yang memilih bunuh diri karena tak mampu membeli buku seharga Rp10 Ribu

Diketahui, peristiwa pilu ini dialami siswa kelas IV SD di Ngada, NTT berinisial YBS (10) yang bunuh diri karena orang tua tidak mampu membelikan buku dan pena.

Dalam sebuah acara kuliah di UGM bertema Masa Depan Demokrasi: Polisi, Militer, Gerakan Sosial, Rocky menyebut negara gagal menjalankan Republikanisme.

Di sesi awal kuliah, Rocky tersentak mendengar kabar anak SD memilih mengakhiri hidup demi tak menyusahkan sang ibu. 

“Saya tadi baca berita di NTT, anak umur 10 tahun memilih bunuh diri, saya pakai kata memilih, untuk menyelamatkan hidup ibunya. Dia minta dibelikan buku, ibunya bilang tidak punya uang lalu, dia memilih untuk bunuh diri. Satu tindakan republikanisme,” katanya dikutip Disway.id dari Youtube Department of Politcs and Government - Universitas Gadjah Mada, Rabu, 3 Januari 2026. 

Rocky lantas menyinggung keseriusan negara dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem. Hal itu berbanding terbalik dengan sikap Presiden Prabowo Subianto yang rela menggelontorkan Rp17 triliun untuk mendukung Board of Peace besutan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Menurut Rocky, perbuatan anak SD itu rasional. Sebab, rakyat kecil seringkali dihadapkan situasi sulit yang luput dari perhatian negara. 

“Anak 10 tahun bisa memilih bunuh diri dan menulis surat kepada ibunya, ibu saya pergi dulu, ibu tidak perlu bersedih. Harga buku itu berapa? 10 Ribu. 10 ribu itu berapa per mil dari Rp17 triliun yang disumbangkan Prabowo kepada Donald Trump,” singgungnya

Rocky lantas menyindir kepekaan Prabowo dan etos kerja Republik. Sehingga, lanjut Rocky, apa yang dilakukan YBS di NTT merupakan tindakan rasional meski harus merelakan nyawanya. 

“Apakah prabowo punya etos republikanisme atau anak 10 tahun yang memilih secara rasional untuk bunuh diri itu tindakan rasional yang sangat dewasa walaupun dengan konsekuensi yang secara psikologis kita perlu periksa,” ucapnya

Ironi di Negara Republik


Rocky menilai peristiwa YBS di Ngada mengindikasikan ada yang tak beres dalam urusan Republik.

“Tapi dia memilih untuk dia mau pergi, tanpa ragu dia putuskan hidup saya harus saya hentikan supaya hidup ibu saya berlanjut, supaya hidup lima adiknya berlanjut, supaya hidup kecamatan itu berlanjut, supaya hidup kabupaten di NTT berlanjut. Supaya publik mengerti bahwa ada yang enggak beres dengan urusan Republik,” tegasnya.

Untuk diketahui, YBS Asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, ditemukan tewas bunuh diri dengan meninggalkan secarik kertas. Usut punya usut, YBS memilih mengakhiri hidupnya karena ketidakmampuan sang Ibu membelikan buku tulis dan pena atau pulpen.

Hal ini lantas menyita perhatian publik dan kecaman masyarakat. 

Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menilai kejadian tewasnya siswa kelas IV sekolah dasar (SD) yang diduga mengakhiri diri karena tak mampu membeli alat tulis, menjadi teguran keras kepada pemerintah. Khususnya dalam dunia pendidikan.

Peristiwa mengenaskan itu terjadi di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Tragedi ini bukan sekadar kabar duka, melainkan alarm keras bagi negara dan masyarakat. Peristiwa yang sangat menyayat hati dan tidak bisa diterima di negara mana pun," katanya dalam komfirmasinya, Rabu, 4 Febuari 2026.

Ia menegaskan, pendidikan anak seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah yang harus dipenuhi serta dilindungi.

"Anak usia 10 tahun seharusnya dilindungi dan dibantu, bukan sampai merasa putus asa hanya karena buku dan pena," tegasnya.

Kasus ini, lanjut Dia, menunjukkan bahwa sangat penting bagi semua pihak, untuk mengoreksi sistem pendidikan, perlindungan sosial, dan kepedulian lingkungan sekitar.

"Pendidikan dasar seharusnya benar-benar gratis dan inklusif, tanpa membebani anak dari keluarga miskin," ucapnya.

Ia menambahkan bahwa kedepan, sistem pendidikan harus benar-benar menjamin sekolah dasar gratis termasuk perlengkapan belajar.

Hal itu agar tidak kembali lagi tragedi mengenaskan ini.

"Perlindungan sosial harus aktif dan tepat sasaran bagi keluarga rentan tanpa menunggu tragedi terjadi," pungkasnya.

Menurutnya, kepedulian sosial juga wajib dibangun kuat. Baik itu di sekolah maupun keluarga dan lingkungan sekitar.

"Di sekolah dan masyarakat agar setiap anak yang kesulitan segera dibantu dan tidak pernah merasa sendirian menghadapi kemiskinan," imbuhnya.

Sumber: disway
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita