GELORA.CO - Penampilan Donald Trump saat meresmikan Board of Peace atau Dewan Perdamaian di Davos, Swiss, pada Kamis (22/1) menjadi sorotan. Memar di tangan kirinya yang terlihat mencolok memicu spekulasi tentang kesehatan Presiden AS berusia 79 tahun ini.
Menanggapi spekulasi tersebut, Trump memberi penjelasan kepada wartawan yang menanyainya di atas pesawat Air Force One dalam perjalanan dari Swiss kembali ke AS.
Trump menyalahkan konsumsi aspirin yang tinggi sebagai penyebab mudahnya dia menderita memar.
Trump mengatakan, memar tersebut muncul setelah ia membentur meja di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos. Dan aspirin yang rutin dia konsumsi untuk kesehatan jantung membuatnya mudah memar.
"Mereka (dokter) bilang minumlah aspirin jika Anda sayang dengan jantung Anda, tapi jangan minum aspirin jika Anda tidak ingin mengalami sedikit memar. Saya minum aspirin dosis besar," kata Trump dikutip dari Reuters, Jumat (23/1).
"Dokter bilang, 'Anda tidak perlu meminum itu, Pak. Anda sangat sehat.' Saya jawab, 'Saya tidak mau ambil risiko,'" tambah Trump.
Aspirin adalah obat pereda nyeri dan demam yang juga berfungsi sebagai antiplatelet dengan cara mencegah agregasi platelet, sehingga mengurangi risiko pembentukan bekuan darah yang dapat menyumbat pembuluh darah.
Sementara itu, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tangan Trump terbentur sudut meja penandatanganan saat pengumuman BoP atau Dewan Perdamaian.
Empat dokter—dua ahli bedah dan dua dokter penyakit dalam—yang berbicara kepada Reuters sepakat bahwa ada kemungkinan aspirin berkontribusi pada munculnya memar tersebut.
Trump mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal awal bulan ini bahwa ia mengkonsumsi aspirin harian dalam dosis yang lebih besar dari yang direkomendasikan dokternya karena ia menginginkan "darah yang bagus dan encer mengalir melalui jantung saya."
Ini bukan kali pertama tangan Trump terlihat memar. Musim panas lalu, Leavitt mengatakan kepada wartawan bahwa memar di tangan Trump disebabkan oleh terlalu banyak bersalaman.
Trump menjadi orang tertua kedua yang pernah memegang jabatan kepresidenan di AS, mengikuti pendahulunya dari Partai Demokrat, Presiden Joe Biden.
Biden membatalkan pencapresannya kembali pada tahun 2024 di tengah pertanyaan tentang kebugarannya. Dia lengser setahun yang lalu pada usia 82 tahun.
