GELORA.CO - Ketegangan geopolitik global antara Amerika Serikat (AS), Rusia, dan Eropa kian meningkat usai keinginan Presiden AS Donald Trump untuk memiliki Greenland dan perang di Ukraina yang tak kunjung mereda.
Situasi tersebut dikhawatirkan menimbulkan Perang Dunia ketiga, seperti yang disampaikan Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Senin (19/1/2026).
"Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah," tulis SBY melalui unggahan platform media sosial X @SBYudhoyono.
Kekhawatiran yang sama tampaknya juga dirasakan para pemimpin Eropa.
Para pemimpin negara itu disebut diam-diam tengah menyiapkan skenario apabila Perang Dunia ketiga terjadi.
Hal itu diungkap Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban dalam sebuah agenda demonstrasi anti-perang pada Sabtu (17/1/2026).
Lantas, seperti apa skenario kemungkinan Perang Dunia ketiga yang disiapkan Eropa?
Membentuk Dewan Perang
Dilansir dari International Business Times, Orban mengklaim, saat ini Eropa tengah membentuk "dewan perang" untuk menyiapkan potensi Perang Dunia ketiga yang memicu kekhawatiran akibat meluasnya konflik global.
Dia mengatakan, Uni Eropa tidak lagi berfokus pada diplomasi, tetapi telah beralih ke persiapan konfrontasi militer skala besar.
Kondisi ini memperingatkan bahwa blok tersebut terus bergerak menuju ke konflik langsung dengan Rusia.
Perlu diketahui, gesekan geopolitik yang sedang terjadi memang tidak seperti sebelum-sebelumnya.
Di Timur misalnya, perang berkepanjangan di Ukraina tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.
Sementara itu, di Barat, Trump telah mengguncang aliansi NATO dengan hasratnya untuk mencaplok Greenland.
Dengan latar belakang inilah, Orban menyatakan bahwa elite Eropa telah membuat pilihan mereka, yakni mempersiapkan konfrontasi langsung dan dahsyat dengan Rusia.
Strategi di balik Dewan Perang bentukan Eropa
Lebih lanjut, Perdana Menteri berusia 62 tahun yang sering mengkritik kebijakan Eropa itu menggambarkan dengan jelas bagaimana strategi rahasia di balik pembentukan Dewan Perang bikinan Eropa.
Orban menjelaskan, Dewan Perang tersebut dibentuk melalui pertemuan 27 kepala negara.
"Saya duduk di antara mereka. Dan saya katakan dengan tegas bahwa mereka akan berperang," kata Orban, masih dari sumber yang sama.
Menurutnya, para pemimpin itu berasal dari negara-negara adidaya di benua Eropa, terutama Perancis dan Jerman.
Dalam pertemuan tersebut, mereka tidak lagi membahas soal perdamaian, tetapi mekanisme menaklukkan Rusia.
Orban mengatakan, pertemuan tersebut berkisar pada upaya memaksa Moskow untuk membayar ganti rugi dan merebut kembali miliaran dolar yang saat ini disalurkan ke upaya perang Ukraina.
"Mereka bukanlah anak-anak yang duduk di sana," tuturnya sambil memperingatkan bahwa alokasi keuangan dan militer yang saat ini dilakukan oleh para pemimpin terpilih adalah langkah awal dari konflik global lebih luas.
Orban sendiri menyampaikan sikap Hongaria terkait kemungkinan Perang Dunia ketiga ini.
Dia bersumpah bahwa pemerintahannya akan menutup pintu rapat-rapat sekuat tenaga dan menolak mengirim tentara maupun uang ke garis depan.
Eropa bantah klaim Orban
Sementara itu, para pejabat Uni Eropa membantah klaim Orban.
Mereka menegaskan bahwa pertemuan tingkat tinggi yang dilakukan bukan untuk membahas persiapan perang, melainkan berfokus pada langkah-langkah keamanan defensif yang mengutamakan kemanusiaan.
Terkait dengan pernyataan Orban, Uni Eropa menilai bahwa pejabat tinggi Hungaria itu seolah-olah menggambarkan Eropa sebagai entitas gemar berperang.
Hal itu, menurut pejabat Eropa semata-mata dilakukan untuk menggemakan narasi yang menguntungkan bagi Moskow guna memperkuat basis mendukung domestiknya.
Mereka juga menilai bahwa pemimpin Hungaria itu tengah memposisikan dirinya sebagai satu-satunya benteng melawan benua yang ia gambarkan sebagai 'sedang menuju jurang kehancuran'.
Dikutip dari KYPCNB, para kritikus turut mempertanyakan waktu penyampaian pernyataan tersebut, mengingat pemilihan parlemen Hongaria dijadwalkan pada April 2026.
Para ahli mengatakan, pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan global, yakni perang di Ukraina yang terus berlanjut dan ketegangan baru di dalam NATO menyusul kontroversi pernyataan Trump tentang Greenland.
