Pengembangan REMCIENTA dipimpin oleh tim multidisiplin dosen Poltekkes Tasikmalaya Cirebon, dengan Ketua Tim PKM Ayu Yuliani, S.Tr.Kep, Ns. Sp.Kep.An, M.Kep, sebagai ujung tombak. Tim ini melibatkan Lisnawati, SST, M.Keb, dari bidang kebidanan; Jongga Adiyaksa, SKM, M.Biomed, dari bidang gizi; serta mahasiswa dari program studi keperawatan, kebidanan, dan gizi. “Kami membawa Aplikasi REMCIENTA untuk menjawab tantangan edukasi TTD yang kurang menarik dan menghadirkan sistem monitoring digital yang mudah digunakan,” ujar Ayu Yuliani, seperti dikutip https://poltekkestasikmalayakab.org. Aplikasi ini dirancang khusus untuk remaja putri, dengan konten edukatif yang menarik berupa video animasi, kuis interaktif, dan infografis sederhana tentang dampak anemia seperti kelelahan kronis, penurunan konsentrasi belajar, dan risiko stunting pada generasi mendatang. Selain itu, fitur pencatatan Hb dari pemeriksaan rutin dan reminder harian untuk konsumsi TTD memudahkan pemantauan, sehingga pengguna bisa lihat progres kesehatan mereka sendiri.
Target utama REMCIENTA adalah 429 remaja putri dari enam sekolah di Kabupaten Indramayu, seperti SMP PGRI I Cipancuh, SMK NU Juntinyuat, dan SMPN 2 Juntinyuat, bekerja sama dengan Puskesmas Pondoh dan Puskesmas Cipancuh. Hasil uji coba menunjukkan peningkatan signifikan: pengetahuan remaja naik dari rata-rata 57,39 menjadi 83,01, sementara sikap positif terhadap pencegahan anemia melonjak dari 69,44 menjadi 81,45 (p=0,001). Pemeriksaan awal mengungkap rata-rata Hb 10,9 gr%, menandakan anemia ringan pada banyak peserta, di tengah konteks stunting balita yang turun menjadi 9,8 persen tapi remaja putri masih 21,8 persen berisiko. “Ini adalah investasi untuk Generasi Prima. Ketika remaja memahami cara menjaga tubuhnya, mereka bukan hanya melindungi diri sendiri, tapi juga masa depan Indramayu,” tambah Ayu Yuliani.
Politeknik Kesehatan Kemenkes Tasikmalaya Cirebon, sebagai pengembang, membuktikan peran vokasi kesehatan dalam inovasi digital. Sebagai politeknik di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes tidak hanya mencetak tenaga ahli, tapi juga terlibat langsung dalam riset melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Direktur Poltekkes Tasikmalaya Cirebon, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bangga atas aplikasi ini. “REMCIENTA adalah contoh bagaimana pendidikan vokasi bisa jawab masalah nyata. Di Cirebon Raya, di mana anemia remaja putri mencapai 25 persen, aplikasi ini jadi alat empowermant yang mudah diakses via smartphone. Mahasiswa kami dari Jurusan Gizi dan Keperawatan terlibat pengujian, pastikan fitur user-friendly dan berbasis bukti,” jelas Dr. Siti.
Manfaat REMCIENTA melampaui edukasi: aplikasi ini juga hasilkan buku referensi REMCIENTA dan video aktivitas bersertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI), membangun modal sosial kesadaran kesehatan. Ke depan, Poltekkes rencanakan integrasi dengan puskesmas untuk monitoring massal, target 1.000 remaja pada 2026. Di Cirebon Raya, di mana stunting masih 18 persen, REMCIENTA bukan hanya app, tapi gerakan—untuk remaja cantik, sehat, dan bebas anemia.
.jpg)