Kegiatan dibuka oleh Kepala Puskesmas Sedau, dr. Rina Wulandari, yang menyambut baik inisiatif Poltekkes. “Singkawang Selatan memiliki prevalensi stunting 28 persen, tertinggi di kota ini. Edukasi MSPMI sangat tepat karena mengajarkan ibu hamil memanfaatkan pangan lokal murah seperti ikan teri, daun kelor, dan telur ayam kampung,” ujar dr. Rina, seperti dikutip dari https://poltekkessingkawang.org.
Tim dosen Jurusan Gizi yang dipimpin Widyana Lakshmi Puspita, S.Gz, M.Gizi, tidak hanya memberikan teori, tapi juga praktik langsung:
- Demo memasak 10 menu MSPMI berbiaya di bawah Rp 15.000 per porsi
- Pembagian 120 paket bahan makanan lokal
- Pemeriksaan antropometri ibu hamil dan suplementasi tablet tambah darah (TTD)
“Menu MSPMI dirancang memenuhi 100% kebutuhan protein, zat besi, dan asam folat ibu hamil dengan bahan yang mudah didapat di pasar Sedau,” jelas Widyana. Salah satu menu favorit adalah “Nasi Teri Kelor” yang kaya protein dan zat besi, serta “Telur Rebus Daun Singkong” yang murah meriah.
Mahasiswa semester akhir Jurusan Gizi juga terlibat penuh melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL). Mereka mendampingi ibu hamil secara door-to-door selama tiga hari, memantau konsumsi TTD, dan mengedukasi keluarga tentang pentingnya suami mendukung gizi istri. “Kami ajarkan juga cara menyimpan ikan asin agar tidak berjamur dan tetap bergizi,” tambah mahasiswa Rizky Whibawa.
Hasil awal sangat positif: 95% ibu hamil yang hadir berkomitmen menerapkan MSPMI selama kehamilan, dan 30 ibu yang sebelumnya anemia ringan menunjukkan peningkatan Hb setelah dua minggu suplementasi. Kepala Kelurahan Sedau, Bapak Rahman, menyatakan terima kasih. “Poltekkes Singkawang benar-benar membantu kami. Anak-anak lahir sehat, ibu kuat—itu harapan kami.”
Direktur Poltekkes Singkawang, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menegaskan bahwa Pengabmas MSPMI akan diperluas ke lima kelurahan pesisir lainnya pada 2026. “Stunting bukan takdir. Dengan edukasi gizi berbasis lokal, Singkawang bisa turunkan stunting di bawah 14 persen nasional,” katanya. Poltekkes juga berencana mengembangkan buku resep MSPMI dalam bahasa Melayu Singkawang agar lebih mudah dipahami masyarakat.
Dengan Pengabmas ini, Poltekkes Singkawang tidak hanya mencetak ahli gizi, tapi juga menjadi agen perubahan langsung di tengah masyarakat. Edukasi MSPMI menjadi bukti: gizi sehat tidak harus mahal—cukup pintar memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita. Singkawang sehat dimulai dari perut ibu hamil yang terpenuhi gizi.
