Pemeriksaan digelar di dua lokasi utama: Aula Dinas Kesehatan Kapuas Hulu dan halaman Puskesmas Putussibau. Layanan yang diberikan mencakup pemeriksaan gigi dan mulut secara menyeluruh, scaling (pembersihan karang gigi), penambalan gigi berlubang, pencabutan gigi yang sudah rusak, serta edukasi perawatan gigi sejak dini. Antusiasme masyarakat sangat tinggi; sejak pukul 07.00 WIB, ratusan warga—mulai dari anak sekolah, ibu rumah tangga, hingga lansia—sudah mengantre dengan tertib. “Kami sangat bersyukur ada kegiatan seperti ini. Di Kapuas Hulu, jarak ke dokter gigi jauh, biaya juga mahal. Hari ini gratis dan ditangani tim profesional dari Poltekkes,” ujar Siti Aminah (42), warga Kecamatan Bunut yang membawa dua anaknya.
Peran Poltekkes Kemenkes Kapuas Hulu sangat menonjol. Direktur Poltekkes Kapuas Hulu, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, memimpin langsung tim yang terdiri dari 15 dokter gigi, 20 perawat gigi, dan 50 mahasiswa semester akhir. “Ini bagian dari Tri Dharma kami: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Mahasiswa kami belajar langsung melayani di lapangan, sekaligus membantu masyarakat di daerah terpencil seperti Kapuas Hulu yang masih kekurangan dokter gigi spesialis,” jelas Dr. Siti. Dalam sehari, tim Poltekkes berhasil menangani lebih dari 300 pasien, termasuk 120 kasus scaling, 80 penambalan, dan 50 pencabutan gigi. Semua layanan menggunakan alat steril standar WHO dan obat-obatan gratis dari Dinkes.
Kepala Dinas Kesehatan Kapuas Hulu, dr. H. Ahmad Syaifuddin, M.Kes, menyampaikan apresiasi tinggi. “Kegiatan ini sangat membantu mengurangi angka karies gigi dan penyakit mulut yang masih tinggi di Kapuas Hulu. Terima kasih Poltekkes yang selalu siap menjadi garda terdepan,” katanya. Ia juga menambahkan bahwa di Kapuas Hulu, rasio dokter gigi terhadap penduduk masih 1:25.000—jauh di bawah standar nasional 1:10.000. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini menjadi solusi sementara sekaligus edukasi jangka panjang.
Selain pemeriksaan, tim Poltekkes Kapuas Hulu juga menggelar penyuluhan tentang pentingnya menyikat gigi dua kali sehari, penggunaan pasta gigi berfluoride, serta bahaya konsumsi gula berlebih—khususnya pada anak-anak Dayak yang sering mengonsumsi makanan manis tradisional. Setiap anak yang diperiksa mendapat sikat gigi dan pasta gigi gratis sebagai “oleh-oleh” edukasi.
Kegiatan serupa juga berlangsung di Kabupaten Sintang dengan jumlah pasien yang tidak kalah banyak. Koordinator kegiatan di Sintang, drg. Yohanes, menyatakan bahwa total pasien di dua kabupaten mencapai lebih dari 700 orang dalam sehari. “Ini rekor baru untuk pemeriksaan gigi gratis di Kalbar bagian utara,” ujarnya bangga.
Ke depan, Poltekkes Kapuas Hulu berencana menjadikan pemeriksaan gigi gratis sebagai agenda tahunan, dengan target menjangkau kecamatan terpencil seperti Lanjak dan Badau di perbatasan Malaysia. Kolaborasi dengan PDGI dan Dinkes juga akan diperluas untuk program “Desa Bebas Karies” mulai 2026. Dengan semangat pengabdian, Poltekkes Kemenkes Kapuas Hulu membuktikan bahwa kesehatan gigi bukan lagi barang mewah, tapi hak dasar setiap warga—bahkan di pelosok perbatasan sekalipun.
