Kepala Dinkes Kabupaten Cirebon, dr. Eni Suhaeni, menjelaskan bahwa gangguan celah bibir dan langit-langit dapat menghambat kemampuan anak dalam berbicara, mengunyah, dan berkomunikasi, yang berdampak pada kualitas hidup mereka. “Operasi ini penting untuk mendukung tumbuh kembang anak agar mereka bisa beraktivitas normal dan percaya diri. Dari 21 anak yang mendaftar, 15 lolos skrining, dan 14 di antaranya menjalani operasi di RS Pasar Minggu Cirebon,” ujar dr. Eni, seperti dikutip dari https://poltekkescirebonkab.org. Ia menambahkan bahwa program ini selaras dengan komitmen pemerintah daerah untuk memberikan layanan medis yang aman dan memadai, terutama bagi keluarga kurang mampu yang sering kesulitan akses spesialisasi.
Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Cirebon memainkan peran krusial sebagai mitra pendidikan dan pengabdian masyarakat. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes tidak hanya mendukung fasilitasi operasi, tapi juga terlibat dalam skrining awal dan edukasi pasca-operasi. Direktur Poltekkes Cirebon, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa lembaga ini bangga berkontribusi dalam program ini. “Mahasiswa kami dari Jurusan Kebidanan dan Keperawatan turun lapangan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk bantu skrining dan dampingi perawatan luka pasca-operasi. Celah bibir bukan cacat, tapi kondisi yang bisa diperbaiki dengan intervensi dini. Edukasi kami fokus pada nutrisi pasca-operasi untuk percepat penyembuhan dan cegah infeksi,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan modul edukasi untuk orang tua, mencakup cara membersihkan luka dan tanda bahaya seperti demam atau pembengkakan.
Ketua IDI Kabupaten Cirebon, dr. Catur, mengapresiasi kolaborasi ini sebagai wujud pelayanan inklusif. “Operasi bibir sumbing ini komitmen tenaga kesehatan untuk berikan layanan mudah dijangkau. Kolaborasi dengan Poltekkes Cirebon memperkaya program, karena mahasiswa mereka bantu edukasi yang krusial untuk pemulihan,” katanya. Dari 14 anak yang dioperasi, mayoritas berusia 1–5 tahun, dengan prosedur dilakukan oleh tim dokter bedah plastik di RS Pasar Minggu. Hasilnya, anak-anak kini bisa makan dan berbicara lebih baik, meningkatkan kepercayaan diri dan integrasi sosial.
Program ini selaras dengan target nasional Kemenkes untuk turunkan angka kematian ibu dan bayi melalui layanan kesehatan anak dini. Di Cirebon, di mana 20 persen kelahiran lahir dengan celah bibir, fasilitasi seperti ini krusial untuk akses setara. Poltekkes Cirebon berencana perluas program ke 10 kecamatan pada 2026, dengan pelatihan 200 bidan desa untuk skrining dini. Dengan fasilitasi ini, Poltekkes Cirebon bukan hanya sekolah, tapi mitra masyarakat—untuk Cirebon sehat dan inklusif.
