Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Cianjur, Javed Sumawe Matapung, menekankan bahwa lingkungan tidak sehat menjadi pemicu utama. “Untuk menghindari penyakit yang tercemar dari lingkungan itu tentunya masyarakat harus meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan yang tidak sehat. Jadi harus berperilaku hidup bersih dan sehat,” ujar Javed, seperti dikutip dari https://poltekkescianjurkab.org. Ia menyoroti genangan air sebagai sarang nyamuk Aedes aegypti penyebab DBD. “Adanya genangan air di lingkungan sekitar itu merupakan sarangnya nyamuk Aedes aegypti yang dapat menyebabkan penyakit demam berdarah. Jadi masyarakat harus seminimal mungkin hindari genangan air.” Contoh sarang meliputi air selokan macet, vas bunga, bak mandi, atau ember terbuka di dapur. Dinkes mencatat dua pasien terkonfirmasi DBD melalui tes laboratorium, meskipun kasus masih terkendali. “Untuk demam berdarah sendiri memang beberapa minggu ini ada peningkatan kasus. Tapi masih belum menjadi kejadian luar biasa, maksudnya masih bisa kita kendalikan.”
Poltekkes Kemenkes Cianjur merespons dengan memperkuat program pengabdian masyarakat berbasis PHBS. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes tidak hanya mendokumentasikan kasus, tapi juga mendorong pencegahan proaktif. Direktur Poltekkes Cianjur, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyoroti urgensi surveilans. “Berbagai penyakit mengintai saat musim hujan, dari DBD hingga diare akibat air tercemar. Kami soroti ini melalui sosialisasi di 15 kecamatan prioritas, ajak warga terapkan 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang, plus Menabur larvasida). Mahasiswa kami dari Jurusan Kesehatan Lingkungan turun lapangan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk demo cuci tangan pakai sabun dan bersihkan genangan air,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan layanan skrining cepat DBD di kampus, mendeteksi 50 kasus positif sejak Juli 2025 untuk rujukan ke puskesmas.
Imbauan Javed melengkapi upaya ini: jaga kebersihan ruangan agar pakaian lembab tidak jadi sarang nyamuk. “Terus juga baju-baju yang habis dipakai itu jangan sampai digantung di kamar. Itu juga karena kondisi lembab bisa jadi sarang nyamuk di situ. Berarti intinya untuk masyarakat itu wajib untuk kebersihan.” Dampak awal: kesadaran warga naik 60 persen di kecamatan sasaran, dengan penurunan kasus diare 25 persen sejak November 2025.Dengan sorotan Poltekkes Cianjur, musim hujan bukan lagi musuh, tapi peluang edukasi—untuk Cianjur sehat dan lestari.
