Rapat Evaluasi Triwulan IV dan Penyebarluasan Hasil Audit Maternal-Perinatal 2025, yang digelar pada 26 November 2025 di Aula Kantor Dinas Kesehatan Bengkayang, menjadi panggung utama untuk membahas kemajuan ini. Wakil Bupati Bengkayang, H. Syamsul Rizal, yang juga Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Bengkayang, menekankan pentingnya evaluasi dan audit sebagai instrumen kunci. “Evaluasi dan audit maternal-perinatal menjadi instrumen penting untuk mengidentifikasi penyebab kematian, menganalisis faktor risiko, dan menyusun langkah perbaikan layanan. Ini juga menjadi bentuk akuntabilitas kita bersama dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari https://poltekkesbengkayangkab.org
Poltekkes Kemenkes Bengkayang, sebagai lembaga pendidikan kesehatan terdepan di wilayah perbatasan ini, langsung merespons dengan memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) kesehatan. Direktur Poltekkes Bengkayang, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa institusi ini siap menjadi mitra utama dalam pelatihan bidan desa dan perawat puskesmas. “Kami fokus pada program Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa Jurusan Kebidanan dan Keperawatan, di mana mereka mendampingi audit lapangan dan simulasi penanganan darurat neonatal. Ini selaras dengan target nasional AKI di bawah 70 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB di bawah 20 per 1.000 kelahiran hidup pada 2025,” jelas Dr. Siti. Mahasiswa Poltekkes telah terlibat dalam 50 sesi pelatihan sepanjang tahun ini, membantu mengidentifikasi faktor risiko seperti anemia ibu hamil dan infeksi pasca-melahirkan, yang sering menjadi penyebab kematian bayi.
Upaya Bengkayang tidak terlepas dari koordinasi lintas sektor yang digaungkan Wakil Bupati Syamsul Rizal. “Angka kematian bayi masih perlu menjadi fokus perbaikan bersama. Penanganannya tidak bisa hanya dibebankan pada sektor kesehatan, tetapi perlu koordinasi lintas sektor dan evaluasi berkelanjutan,” tegasnya. Program unggulan mencakup peningkatan layanan rujukan darurat dari puskesmas ke RSUD Bengkayang, distribusi tablet tambah darah untuk ibu hamil, dan kampanye edukasi keluarga tentang nutrisi selama kehamilan. Poltekkes Bengkayang turut berkontribusi melalui pengembangan modul pelatihan berbasis digital, yang diuji coba di 17 puskesmas di kabupaten ini. Hasil audit 2025 menunjukkan bahwa 80% kasus AKB disebabkan oleh komplikasi peripartum, yang bisa dicegah dengan deteksi dini—sebuah area di mana Poltekkes unggul dalam melatih tenaga kesehatan.
Keberhasilan penurunan AKI dari 1 kasus pada 2024 menjadi nol hingga Oktober 2025 menjadi bukti efektivitas pendekatan ini. Namun, peningkatan AKB dari 44 kasus pada 2023 menjadi 53 pada 2024 menuntut aksi lebih tegas. Poltekkes Bengkayang merespons dengan rencana kolaborasi lanjutan: workshop bulanan untuk kader posyandu dan integrasi audit perinatal ke dalam kurikulum mahasiswa. “Kita berharap hasil evaluasi hari ini dapat menghasilkan langkah konkret untuk mewujudkan Bengkayang yang sehat, unggul, dan gemilang,” harap Wakil Bupati Syamsul Rizal.
Kolaborasi Pemkab Bengkayang dengan Poltekkes ini menjadi model sukses bagi kabupaten lain di Kalbar, di mana tantangan geografis sering menghambat layanan maternal. Dengan fokus pada evaluasi, pelatihan, dan akuntabilitas, Bengkayang tidak hanya menekan angka kematian, tapi juga membangun fondasi kesehatan ibu dan anak yang berkelanjutan. Poltekkes Bengkayang, melalui pengabdiannya, membuktikan bahwa pendidikan vokasi adalah kunci transformasi—mencetak generasi tenaga kesehatan yang siap menyelamatkan nyawa di setiap kelahiran.
