Penandatanganan nota kesepahaman ini dihadiri oleh Dini Anggraeini, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, dan perwakilan Poltekkes Kemenkes Jakarta I, didampingi Kemenkes RI. Dini Anggraeini menyambut baik inisiatif ini sebagai langkah maju untuk mengoptimalkan program penurunan stunting yang telah menunjukkan hasil positif. “Kami menyambut baik kerja sama dengan Poltekkes Jakarta I yang akan bersinergi bersama untuk mendorong program penurunan stunting bisa berjalan lebih efektif lagi. Nantinya, Poltekkes Jakarta I akan berperan melalui penelitian, pengembangan program, dan pengabdian masyarakat, serta menghasilkan berbagai rekomendasi, sementara Pemkot Tangerang akan berperan mengimplementasikannya secara maksimal,” ujar Dini, seperti dikutip dari situs https://poltekkestangerang.org.
Kolaborasi ini difokuskan pada program Investing in Nutrition and Early Years (INEY), yang menargetkan 1.000 hari pertama kehidupan anak sebagai periode kritis pencegahan stunting. Poltekkes Tangerang akan berkontribusi melalui riset lapangan, pengembangan modul edukasi gizi, dan pengabdian masyarakat di 13 kecamatan Tangerang. Pembekalan awal yang dilakukan segera setelah penandatanganan mencakup pelatihan bagi kader posyandu dan bidan desa untuk pemberian makanan tambahan (PMT), konseling nutrisi, dan monitoring pertumbuhan anak. Hasil riset Poltekkes diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan, seperti integrasi suplemen multi-mikronutrien (MMS) bagi ibu hamil dan balita untuk cegah anemia dan malnutrisi kronis.
Prestasi Pemkot Tangerang semakin menggembirakan: prevalensi stunting turun dari 17,6 persen pada 2023 menjadi 11,2 persen pada 2024, membuat kota ini meraih penghargaan sebagai daerah dengan penurunan stunting terbaik di Provinsi Banten. Kolaborasi dengan Poltekkes Jakarta I diharapkan mempercepat pencapaian target nasional di bawah 14 persen pada 2024. “Kami optimis sinergi ini akan menghasilkan intervensi komunitas yang tepat sasaran di seluruh wilayah, termasuk daerah rawan seperti Pasar Kemis dan Balaraja,” tambah Dini Anggraeini. Program juga melibatkan pemerintah pusat melalui Kemenkes, memastikan dukungan anggaran dan teknis untuk PMT dan edukasi gizi.
Poltekkes Tangerang, dengan keunggulan di bidang gizi dan kebidanan, siap jadi ujung tombak implementasi. Mahasiswa Poltekkes akan turun lapangan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk dampingi posyandu, lakukan screening antropometri balita, dan edukasi orang tua tentang pola makan seimbang. “Riset kami akan fokus pada faktor risiko lokal, seperti akses pangan terbatas di kawasan industri Tangerang, untuk hasilkan solusi berkelanjutan,” kata perwakilan Poltekkes Jakarta I.
Kolaborasi ini menjadi model sukses bagi kota lain di Banten. Dengan sinergi Pemkot Tangerang dan Poltekkes Jakarta I, penurunan stunting bukan mimpi, tapi realitas—untuk generasi Tangerang yang sehat, cerdas, dan siap bersaing global.
