Poltekkes Paser Perkuat Pengawasan Keamanan Pangan MBG: Antisipasi KLB Keracunan

Poltekkes Paser Perkuat Pengawasan Keamanan Pangan MBG: Antisipasi KLB Keracunan

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur, semakin gencar memperkuat pengawasan keamanan pangan dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk mencegah wabah keracunan massal (KLB) sejak dini. Inisiatif ini menjadi prioritas utama Dinas Kesehatan (Dinkes) Paser, yang melihat MBG bukan hanya sebagai upaya peningkatan gizi anak, tapi juga jaminan keamanan yang mutlak. Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Paser, sebagai lembaga pendidikan vokasi kesehatan terdepan di wilayah ini, turut berkolaborasi erat dengan Dinkes untuk mendukung program melalui pelatihan dan pengabdian masyarakat. Kegiatan ini selaras dengan cita-cita Presiden RI dalam memenuhi gizi anak dan mencegah stunting, di mana makanan bergizi harus aman agar tidak berujung bencana kesehatan.


Pada Kamis, 30 Oktober 2025, Dinkes Paser menggelar orientasi keamanan pangan dalam penanganan wabah keracunan pangan di ruang Seratai Sekretariat Daerah Kabupaten Paser, Tanah Grogot. Acara ini dihadiri oleh Tim Pengawas Internal Sekolah (TPIS), Puskesmas, Petugas Kesehatan Lingkungan (Kesling), Petugas Sentra Pengolahan Pangan Gizi (SPPG), dan Taruna Siaga Bencana (Tagana). Kepala Dinkes Paser, Amri Yulihardi, membuka kegiatan dengan menekankan urgensi pengawasan. “Makanan yang bergizi tetapi tidak aman justru akan menjadi bencana. Sebagaimana insiden KLB Keracunan MBG yang terjadi di beberapa daerah, selain berbahaya bagi kesehatan penerima manfaat juga dapat merusak kepercayaan publik terhadap keberlangsungan program MBG ini,” ujar Amri Yulihardi, seperti dikutip dari https://poltekkespaser.org.

Poltekkes Kemenkes Paser memainkan peran strategis dalam mendukung orientasi ini. Sebagai politeknik vokasi kesehatan, Poltekkes menyumbang tim dosen dan mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan serta Teknologi Laboratorium Medis untuk menjadi narasumber dan fasilitator. Direktur Poltekkes Paser, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa lembaga ini siap jadi mitra utama Dinkes dalam pengawasan pangan. “Kami komitmen perkuat pengawasan MBG melalui pelatihan mahasiswa yang turun lapangan. Di Paser, di mana program MBG menjangkau ribuan anak sekolah, pencegahan KLB harus dimulai dari uji laboratorium air dan bahan pangan di SPPG. Mahasiswa kami lakukan PKL (Praktik Kerja Lapangan) untuk monitor higiene pengolahan makanan, sehingga antisipasi keracunan sejak dini,” jelas Dr. Siti.

Orientasi ini fokus pada peningkatan kapasitas pengawas dan pelaksana untuk kewaspadaan dini. Instruksi spesifik diberikan kepada setiap elemen, termasuk TPIS untuk inspeksi sekolah, Kesling untuk uji mikrobiologi, dan SPPG untuk SOP pengolahan. Narasumber dari Dinas Kesehatan Kaltim, Carla, membahas strategi provinsi dalam penanganan KLB, termasuk koordinasi cepat dengan BPOM untuk tracing kontaminan seperti bakteri E. coli atau pestisida. Amri Yulihardi memberikan apresiasi kepada semua pihak. “Semoga kegiatan ini dapat diberikan kelancaran dan memberikan manfaat bagi kita semua, terutama dalam mengawal keamanan pangan pada program MBG untuk anak-anak tercinta di Paser ini,” katanya.

Kolaborasi Poltekkes Paser dengan Dinkes menjadi model sukses pencegahan. Di Paser, di mana MBG menargetkan 50.000 siswa SD-SMP, pengawasan ketat cegah insiden seperti KLB di daerah lain. Poltekkes rencanakan workshop bulanan untuk 200 kader sekolah pada 2026, terintegrasi dengan uji lab gratis. Dengan penguatan ini, Paser bukan lagi rawan keracunan, tapi teladan keamanan pangan—untuk anak-anak sehat dan program MBG yang berkelanjutan.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita