TBC tetap menjadi ancaman serius di fasilitas pemasyarakatan, di mana kepadatan populasi dan keterbatasan ventilasi mempercepat penularan melalui udara. Di Indonesia, TBC menewaskan sekitar 100.000 jiwa setiap tahun menurut data Kementerian Kesehatan 2024, dengan angka infeksi di Lapas mencapai 10 kali lipat dibandingkan masyarakat umum. Oleh karena itu, rontgen dada massal ini menjadi strategi krusial untuk mendeteksi kasus asimtomatik, memutus rantai penularan, dan memastikan pengobatan dini. Seluruh WBP Lapas Muara Tebo—tanpa terkecuali, termasuk yang bergejala maupun tidak—menjalani pemeriksaan secara komprehensif. Proses berlangsung lancar di ruang khusus Lapas, dengan tim medis dari TMC dan Puskesmas Muara Tebo menangani pengambilan gambar rontgen, sementara tim Poltekkes Tebo bertanggung jawab atas interpretasi awal hasil serta edukasi pencegahan.
Direktur Poltekkes Kemenkes Tebo, Dr. Hj. Rina Sari, M.Kes, menekankan pentingnya keterlibatan institusinya. "Sebagai politeknik kesehatan terdepan di Tebo, kami melihat Lapas sebagai komunitas rentan yang membutuhkan intervensi cepat. Mahasiswa kami tidak hanya membantu operasional rontgen, tapi juga memberikan penyuluhan tentang gejala TBC seperti batuk kronis, penurunan berat badan, dan keringat malam. Ini bagian dari Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang mengintegrasikan teori dengan pengabdian nyata," ujarnya. Lebih dari 20 mahasiswa dan 5 dosen Poltekkes terlibat, membawa peralatan portabel untuk analisis cepat, memastikan hasil rontgen diikuti tindak lanjut medis sesuai prosedur. Kolaborasi ini selaras dengan visi Kemenkes untuk mencapai eliminasi TBC pada 2030, di mana deteksi dini di fasilitas tertutup seperti Lapas menjadi prioritas.
Kepala Subbagian Pembinaan Warga Binaan Lapas Muara Tebo, M. Riza, menyambut baik partisipasi Poltekkes. "Tidak hanya bagi yang bergejala, semua WBP diperiksa. Hal ini penting untuk memastikan lingkungan Lapas benar-benar sehat dan bebas dari penyakit menular," katanya, seperti dikutip dari https://poltekkestebo.org. Sementara itu, Erison Surianto Mulia Bangun, Kepala Subbagian Bimbingan, Pendidikan, dan Kerja WBP, menambahkan, "TBC masih menjadi ancaman serius di lingkungan tertutup seperti Lapas. Dengan rontgen ini, kami berharap dapat mendeteksi lebih dini dan memutus mata rantai penyebaran TBC di antara WBP." Hasil pemeriksaan akan dievaluasi lebih lanjut; jika ditemukan indikasi TBC, WBP akan dirujuk ke rumah sakit terdekat untuk pengobatan gratis melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), sambil menjalani isolasi untuk mencegah kluster baru.
Kegiatan ini juga menjadi momentum edukasi. Tim Poltekkes Tebo menyisipkan sesi interaktif tentang pencegahan TBC, seperti menjaga jarak, memakai masker di area padat, dan nutrisi tinggi vitamin D untuk meningkatkan imunitas. Di Lapas Muara Tebo, yang menampung ratusan WBP dengan berbagai latar belakang, pendekatan holistik ini tidak hanya medis, tapi juga rehabilitatif—membantu WBP memahami bahwa kesehatan adalah kunci reintegrasi sosial pasca-bebas. Direktur Lapas Muara Tebo, yang turut mengawasi, menyatakan bahwa acara ini memperkuat komitmen Lapas terhadap hak kesehatan WBP sesuai Undang-Undang Pemasyarakatan.
Partisipasi Poltekkes Kemenkes Tebo dalam rontgen dada massal ini bukan yang pertama; sebelumnya, mereka telah mendukung skrining serupa di puskesmas dan sekolah untuk mencegah TBC komunitas. Ke depan, Poltekkes berencana memperluas kolaborasi dengan Lapas melalui workshop rutin tentang bio-sekuriti dan vaksinasi BCG. Inisiatif ini menjadi model sukses bagi daerah lain di Jambi, membuktikan bahwa dengan sinergi, TBC bisa dikendalikan. Di Muara Tebo, yang memiliki tantangan akses kesehatan akibat geografi pedalaman, kegiatan seperti ini bukan hanya pencegahan, tapi juga harapan bagi WBP untuk masa depan bebas penyakit. Mari dukung perjuangan melawan TBC—deteksi dini, pengobatan tepat, dan kolaborasi semua pihak adalah kunci utama.
