Poltekkes Tanjungpinang Ciptakan Game Edukasi Monopoli Anemia

Poltekkes Tanjungpinang Ciptakan Game Edukasi Monopoli Anemia

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Tanjungpinang kembali menunjukkan kreativitasnya dalam bidang pengabdian masyarakat melalui pengembangan Game Edukasi Monopoli Anemia (GEMA), sebuah inovasi unik untuk pencegahan anemia pada remaja. Program ini, yang diluncurkan pada 2025, menjadi bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dipimpin oleh Rahmadona, dosen Program Studi D-III Kebidanan Poltekkes Tanjungpinang. Dengan fokus pada remaja sebagai kelompok rentan, GEMA dirancang untuk mengubah edukasi kesehatan menjadi pengalaman interaktif yang menyenangkan, mengatasi masalah anemia yang masih tinggi di Kalangan remaja, terutama di Kelurahan Kampung Bugis, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Inovasi ini tidak hanya edukatif, tapi juga strategis untuk memutus rantai masalah kesehatan reproduksi, termasuk stunting pada generasi berikutnya.


Rahmadona, sebagai ketua tim pengembang, menjelaskan bahwa GEMA terinspirasi dari permainan Monopoly klasik, tapi diadaptasi dengan elemen kesehatan. “Melalui permainan ini, remaja diajak memahami cara mencegah anemia dengan cara yang interaktif dan menyenangkan,” ujarnya, seperti dikutip dari https://poltekkes-tanjungpinang.org. Permainan ini melibatkan 30 siswa kelas IX SMP Negeri 14 Madong sebagai target utama, yang rentan terhadap anemia akibat gaya hidup tidak sehat seperti merokok—yang mengganggu penyerapan nutrisi—dan perilaku seksual berisiko yang berpotensi menyebabkan kehamilan usia dini. Tujuan GEMA adalah meningkatkan kesadaran remaja tentang pencegahan anemia, memutus rantai masalah kesehatan, dan menurunkan angka kejadian anemia melalui edukasi komprehensif yang menarik.

Implementasi program dimulai dengan pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan siswa tentang anemia, dilanjutkan pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) untuk identifikasi remaja berisiko atau yang sudah anemia. Penyuluhan mendalam tentang pencegahan anemia kemudian diberikan, diakhiri dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) sebagai upaya konkret mengatasi kekurangan zat besi. Terobosan utama adalah GEMA, di mana remaja diajak bermain Monopoly dengan kartu bertema kesehatan: “Bayar denda jika lupa minum TTD” atau “Hadiah protein hewani untuk gizi seimbang”. Pendekatan ini berhasil menarik antusiasme tinggi, membuat edukasi kesehatan lebih efektif dan tidak membosankan. Rahmadona menambahkan, “Melalui program berkesinambungan ini diharapkan angka kejadian anemia pada remaja dapat menurun.”

Program ini mendapat sambutan positif dari seluruh pihak, termasuk siswa, guru, kepala sekolah, kepala Puskesmas Kampung Bugis, bidan, kader posyandu, dan kelurahan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan remaja secara signifikan, dengan dampak sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat. Rahmadona menyatakan, “Melalui permainan ini, remaja diajak memahami cara mencegah anemia dengan cara yang interaktif dan menyenangkan.” Kegiatan akan dilanjutkan pada akhir September atau awal Oktober 2025, fokus pada edukasi kesehatan reproduksi remaja untuk mencegah kehamilan usia dini dan komplikasi persalinan.

Politeknik Kesehatan Kemenkes Tanjungpinang, sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, membuktikan peran strategisnya dalam pengabdian masyarakat. Sebagai lembaga pendidikan, Poltekkes tidak hanya mencetak bidan kompeten, tapi juga terlibat langsung dalam program seperti ini melalui PKM. Direktur Poltekkes Tanjungpinang, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa kegiatan ini selaras dengan misi Tri Dharma Perguruan Tinggi. “GEMA adalah inovasi kreatif mahasiswa kami. Di Tanjungpinang, di mana anemia remaja putri mencapai 25 persen, permainan seperti ini jadi alat empowermant yang mudah diakses. Mahasiswa kami dari Jurusan Kebidanan terlibat pengujian, pastikan fitur user-friendly dan berbasis bukti,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan layanan uji Hb gratis di kampus, mendeteksi 50 kasus positif sejak Juli 2025 untuk rujukan ke puskesmas.

Dampak GEMA terasa luas: 90 persen peserta merasa lebih percaya diri terapkan pencegahan, dan 80 persen berkomitmen konsumsi TTD rutin. Ke depan, Poltekkes Tanjungpinang rencanakan integrasi GEMA ke sekolah-sekolah lain, target 1.000 remaja pada 2026. Di Kepulauan Riau, di mana stunting masih 18 persen, GEMA bukan hanya game, tapi gerakan—untuk remaja cantik, sehat, dan bebas anemia.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita