Kegiatan dipimpin langsung oleh Kalapas Sarolangun, Ibnu Faizal, A.Md.IP, S.Sos, bersama Kepala Subseksi Pelayanan Tahanan, Kesehatan, dan Perawatan, M. Riza. Dalam sambutannya, Ibnu Faizal menegaskan bahwa kesehatan warga binaan adalah prioritas utama. “TBC masih menjadi ancaman serius di Lapas karena tingginya kepadatan dan keterbatasan ventilasi. Dengan screening massal ini, kami ingin memastikan tidak ada kasus yang terlewat,” ujarnya, seperti dikutip dari https://poltekkessarolangun.id. Hasil awal menunjukkan tidak ada kasus positif aktif, namun beberapa WBP dengan riwayat kontak erat tetap dimonitor intensif selama enam bulan.
Peran Poltekkes Kemenkes Sarolangun menjadi kunci keberhasilan kegiatan ini. Tim yang dipimpin Dr. Hj. Siti Aisyah, M.Kes, membawa peralatan laboratorium portabel untuk pemeriksaan mikroskop dahak (BTA), rapid molecular test (TCM), serta edukasi tentang gejala TBC seperti batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, dan keringat malam. Mahasiswa yang terlibat—sekitar 25 orang—mendapatkan pengalaman Praktik Kerja Lapangan (PKL) berharga dalam penanganan kasus TBC di populasi rentan. “Kami tidak hanya melakukan screening, tapi juga memberikan penyuluhan kepada petugas Lapas dan WBP agar mereka paham pentingnya ventilasi yang baik, penggunaan masker, serta pola makan bergizi untuk meningkatkan imunitas,” jelas Dr. Siti Aisyah.
Kegiatan ini sejalan dengan program nasional Eliminasi TBC 2030 dan instruksi Kementerian Kesehatan untuk Active Case Finding (ACF) di fasilitas pemasyarakatan. Di Indonesia, prevalensi TBC di Lapas mencapai 10–15 kali lebih tinggi dibandingkan masyarakat umum. Oleh karena itu, Poltekkes Sarolangun berkomitmen menjadikan kegiatan ini agenda rutin setiap semester, termasuk tindak lanjut pengobatan bagi kasus positif melalui program DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) yang terintegrasi dengan puskesmas setempat.
Antusiasme WBP sangat tinggi. Banyak di antara mereka yang mengaku baru pertama kali menjalani pemeriksaan lengkap. “Saya senang diperiksa gratis, apalagi kalau ada penyakit bisa langsung diobati,” ujar salah seorang WBP. Petugas Lapas juga mendapat pelatihan dasar untuk mengenali gejala dini TBC sehingga bisa segera melaporkan ke tim kesehatan.
Dengan screening TBC massal ini, Poltekkes Kemenkes Sarolangun tidak hanya berkontribusi pada kesehatan warga binaan, tetapi juga menunjukkan bahwa pendidikan vokasi kesehatan mampu menjadi motor penggerak program kesehatan masyarakat di daerah terpencil. Lapas Sarolangun kini menjadi contoh bagi Lapas lain di Jambi bahwa dengan kolaborasi yang solid, lingkungan pemasyarakatan bisa benar-benar sehat dan bebas TBC. Ke depan, Poltekkes berencana memperluas screening ke Lapas Muara Bungo dan Tebo, serta mengintegrasikan modul TBC ke dalam kurikulum mahasiswa. Langkah kecil ini adalah wujud nyata pengabdian untuk Indonesia bebas tuberkulosis.
