Menurut laporan https://poltekkeskayongutarakab.org, Dinas Kesehatan Kayong Utara mencatat 87 kasus DBD hingga Oktober 2025, dengan 2 kasus kematian. Kecamatan Sukadana dan Teluk Batang menjadi wilayah terparah karena banyaknya genangan air di pemukiman padat. “Cuaca ekstrem seperti sekarang sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk. Hanya butuh 7–10 hari bagi telur nyamuk menetas menjadi dewasa jika ada genangan,” jelas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kayong Utara, dr. Rina Wulandari. Ia menambahkan bahwa masyarakat sering abai membersihkan tempat penampungan air setelah hujan, padahal itulah sarang utama nyamuk.
Poltekkes Kayong Utara tidak tinggal diam. Sejak awal November 2025, tim pengabdian masyarakat yang terdiri dari 50 mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan dan Keperawatan turun ke 15 desa prioritas di Sukadana, Seponti, dan Teluk Batang. Mereka melakukan sosialisasi door-to-door, fogging fokus, dan pemberian larvasida abate gratis. “Kami tidak hanya memberi imbauan, tapi juga praktik langsung: menguras bak mandi, menutup tempat air, mendaur ulang barang bekas, serta plus-nya seperti menabur abate dan memasang kelambu,” ujar Dr. Siti Nurhaliza. Mahasiswa juga mengedukasi warga tentang gejala DBD: demam tinggi mendadak, nyeri otot, ruam, hingga tanda bahaya seperti perdarahan gusi dan muntah darah yang harus segera dirujuk ke puskesmas.
Kegiatan ini terintegrasi dengan Gerakan 3M Plus yang digaungkan Kementerian Kesehatan. Poltekkes Kayong Utara bahkan mengembangkan aplikasi sederhana “Kayong Bebas DBD” untuk laporan genangan air secara real-time oleh warga, yang langsung ditindaklanjuti tim fogging. “Kami ingin masyarakat jadi garda terdepan pencegahan. Satu rumah saja lalai, bisa jadi sumber wabah bagi satu kampung,” tambah Dr. Siti. Hasil awal menunjukkan penurunan 30% indeks larva di desa sasaran setelah dua minggu kampanye.
Poltekkes juga menggelar pelatihan kader Jumantik (Juru Pemantau Jentik) di 30 posyandu, melatih 150 warga untuk memantau jentik setiap minggu. “Kami libatkan anak sekolah juga, karena mereka paling rentan dan bisa jadi agen perubahan di rumah,” kata Ns. Rina Sari, M.Kep, koordinator lapangan. Sekolah-sekolah di Sukadana kini rutin mengadakan kerja bakti Jumat bersih dan pemeriksaan tempat perindukan nyamuk.
Dr. Siti Nurhaliza menutup imbauannya dengan pesan tegas: “DBD bukan penyakit musiman biasa; bisa mematikan jika terlambat ditangani. Warga Kayong Utara harus waspada sekarang juga: kuras, tutup, daur ulang, plus jaga kesehatan dan lingkungan. Poltekkes siap dampingi 24 jam.” Dengan cuaca tak menentu yang diprediksi berlanjut hingga akhir tahun, kewaspadaan bersama menjadi kunci utama. Kayong Utara bisa bebas DBD—asal setiap warga bergerak sekarang.
