Ketua Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Garut, Sumarto STP MP, menekankan bahwa Salmonella bukan ancaman baru, tapi sering terabaikan dalam pengolahan makanan massal seperti MBG. “Bahaya salmonella itu nyata. Bisa menyebabkan demam, muntah-muntah, hingga keracunan serius. Apalagi kalau anak yang mengonsumsi sedang dalam kondisi imun menurun,” ujar Sumarto, seperti dikutip dari https://poltekkesgarutkab.org. Bakteri Salmonella, yang ditularkan melalui makanan atau air terkontaminasi feses dari hewan atau manusia terinfeksi, menyebabkan infeksi usus (salmonellosis) dengan gejala diare, kram perut, dan demam. Di Tasikmalaya dan Garut, kasus keracunan MBG diduga berasal dari kontaminasi bahan baku seperti telur atau daging yang tidak dibersihkan dan dimasak sempurna, ditambah proses pengemasan yang tidak higienis.
Sumarto menyoroti faktor-faktor pemicu: kualitas bahan baku buruk, pengolahan tidak matang, tangan pekerja dapur tanpa kebersihan, penyimpanan makanan dalam kondisi panas yang memicu lendir, atau penyimpanan lama hingga makanan basi. “Jangka waktu aman konsumsi adalah 6–8 jam setelah makanan keluar dari dapur. Kemasan harus food grade, bukan styrofoam atau plastik sembarangan yang bisa mencemari makanan,” tambahnya. Ia merujuk Undang-Undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012, yang menetapkan empat indikator makanan aman: bebas bahaya fisik (tidak mengandung kerikil, duri, rambut, atau benda asing) dan bebas bahaya kimia (tidak tercemar logam berat atau bahan berbahaya seperti boraks dan formalin). Keamanan pangan harus prioritas sebelum membahas gizi, karena makanan bergizi tapi tidak aman justru jadi bencana.
Poltekkes Kemenkes Garut merespons dengan memperkuat program pengabdian masyarakat. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes melibatkan 100 mahasiswa Jurusan Gizi dan Kesehatan Masyarakat melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk sosialisasi keamanan pangan di 20 sekolah prioritas Garut. Direktur Poltekkes Garut, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyoroti urgensi pencegahan. “Kasus keracunan MBG ini alarm bagi kami. Di Garut, dengan 2,5 juta penduduk dan pola makan berbasis daging segar, Salmonella mudah menyebar jika pengolahan tidak higienis. Mahasiswa kami turun lapangan edukasi cuci tangan pakai sabun, masak matang, dan uji mikrobiologi makanan di lab kampus,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan layanan skrining cepat Salmonella di kampus, mendeteksi 50 kasus kontaminasi di sampel makanan sekolah sejak Juli 2025 untuk rujukan ke Dinkes.
Upaya pencegahan meliputi kampanye “Garut Aman Pangan” di 15 kecamatan, dengan fokus pengawasan dapur sekolah dan distribusi MBG. Sumarto merekomendasikan penggunaan bahan baku segar, masak hingga matang, dan kemasan food grade. Dampak awal: kesadaran warga naik 40 persen di sekolah sasaran, dengan penurunan kasus keracunan 20 persen sejak November 2025. Poltekkes rencanakan workshop bulanan untuk 300 kader sekolah pada 2026, terintegrasi dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).
Dengan sorotan Poltekkes Garut, Salmonella bukan lagi ancaman tersembunyi, tapi peluang edukasi—untuk Garut sehat dan aman pangan.
