Kepala UPTD Puskesmas Waluya, Ipah Latipah, mengonfirmasi adanya lonjakan kasus DBD di wilayahnya. Sepanjang Januari hingga Agustus 2025, tercatat 12 pasien positif DBD, naik dari periode sama tahun sebelumnya. “Jadi ketika ada laporan warga yang terkena demam berdarah, kita langsung turun untuk melakukan PSN. Jadi kita langsung respon,” katanya, seperti dikutip dari https://poltekkescikarang.org. Respons cepat ini melibatkan koordinasi dengan aparatur desa untuk fogging fokus dan penyuluhan di rumah tangga. Namun, tantangan tetap ada: kebersihan lingkungan yang buruk dan kurangnya kesadaran masyarakat mempercepat penyebaran. “Pencegahan DBD memerlukan partisipasi aktif warga, terutama orang tua yang lindungi anak-anak sebagai kelompok rentan,” tambah Ipah Latipah.
Poltekkes Kemenkes Cikarang merespons dengan mempercepat program pengabdian masyarakat. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes tidak hanya mendokumentasikan kasus, tapi juga mendorong pencegahan proaktif. Dr. Siti Nurhaliza menyoroti urgensi surveilans. “Lonjakan kasus ini alarm bagi kami. Di Cikarang Utara, dengan 1,5 juta penduduk dan drainase buruk, DBD bisa jadi KLB (Kejadian Luar Biasa) jika tidak ditangani dini. Mahasiswa kami dari Jurusan Kesehatan Lingkungan turun lapangan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk edukasi 4M Plus dan demo cuci tangan pakai sabun di 20 RW prioritas,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan layanan skrining cepat DBD di kampus, mendeteksi 50 kasus positif sejak Juli 2025 untuk rujukan ke puskesmas.
Upaya pencegahan meliputi fogging massal dan program “Jumantik Cilik” di sekolah untuk libatkan anak-anak sebagai agen PSN. Dampak awal: kasus DBD turun 15 persen di RW sasaran sejak November 2025, berkat partisipasi masyarakat. Poltekkes rencanakan workshop bulanan untuk 300 kader RW pada 2026, terintegrasi dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).
Dengan sorotan Poltekkes Cikarang, DBD bukan lagi musuh tak terlihat, tapi tantangan yang bisa diatasi bersama. Edukasi, surveilans, dan kolaborasi adalah senjata utama—untuk Cikarang sehat dan lestari.
