Poltekkes Cikarang Ingatkan Waspada DBD: Edukasi PSN Jadi Kunci Pencegahan

Poltekkes Cikarang Ingatkan Waspada DBD: Edukasi PSN Jadi Kunci Pencegahan

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, kembali dihadapkan pada ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) yang merebak di Kecamatan Cikarang Utara, khususnya Kelurahan Pulo Pisang, Desa Karangraharja. Beberapa warga, termasuk anak-anak, mengeluhkan gejala demam tinggi, nyeri sendi, dan ruam kulit yang dicurigai sebagai infeksi virus dengue. Seorang warga bernama Mama Cindi menyatakan, “Iya di sini banyak yang terkena DBD,” menggambarkan kekhawatiran masyarakat atas penyebaran cepat penyakit ini. Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Cikarang, sebagai lembaga pendidikan vokasi kesehatan terdepan di wilayah ini, segera mengingatkan warga untuk meningkatkan kewaspadaan melalui penerapan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara konsisten. Direktur Poltekkes Cikarang, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menekankan bahwa deteksi dini dan pencegahan adalah kunci utama. “DBD merebak di Cikarang Utara ini alarm bagi kami. Genangan air di permukiman padat seperti Pulo Pisang jadi sarang nyamuk Aedes aegypti. Kami ingatkan warga terapkan 4M Plus: Menguras, Menutup, Memantau, Mengubur barang bekas, plus Menabur larvasida,” ujar Dr. Siti.


Kepala UPTD Puskesmas Waluya, Ipah Latipah, mengonfirmasi adanya lonjakan kasus DBD di wilayahnya. Sepanjang Januari hingga Agustus 2025, tercatat 12 pasien positif DBD, naik dari periode sama tahun sebelumnya. “Jadi ketika ada laporan warga yang terkena demam berdarah, kita langsung turun untuk melakukan PSN. Jadi kita langsung respon,” katanya, seperti dikutip dari https://poltekkescikarang.org. Respons cepat ini melibatkan koordinasi dengan aparatur desa untuk fogging fokus dan penyuluhan di rumah tangga. Namun, tantangan tetap ada: kebersihan lingkungan yang buruk dan kurangnya kesadaran masyarakat mempercepat penyebaran. “Pencegahan DBD memerlukan partisipasi aktif warga, terutama orang tua yang lindungi anak-anak sebagai kelompok rentan,” tambah Ipah Latipah.

Poltekkes Kemenkes Cikarang merespons dengan mempercepat program pengabdian masyarakat. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes tidak hanya mendokumentasikan kasus, tapi juga mendorong pencegahan proaktif. Dr. Siti Nurhaliza menyoroti urgensi surveilans. “Lonjakan kasus ini alarm bagi kami. Di Cikarang Utara, dengan 1,5 juta penduduk dan drainase buruk, DBD bisa jadi KLB (Kejadian Luar Biasa) jika tidak ditangani dini. Mahasiswa kami dari Jurusan Kesehatan Lingkungan turun lapangan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk edukasi 4M Plus dan demo cuci tangan pakai sabun di 20 RW prioritas,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan layanan skrining cepat DBD di kampus, mendeteksi 50 kasus positif sejak Juli 2025 untuk rujukan ke puskesmas.

Upaya pencegahan meliputi fogging massal dan program “Jumantik Cilik” di sekolah untuk libatkan anak-anak sebagai agen PSN. Dampak awal: kasus DBD turun 15 persen di RW sasaran sejak November 2025, berkat partisipasi masyarakat. Poltekkes rencanakan workshop bulanan untuk 300 kader RW pada 2026, terintegrasi dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Dengan sorotan Poltekkes Cikarang, DBD bukan lagi musuh tak terlihat, tapi tantangan yang bisa diatasi bersama. Edukasi, surveilans, dan kolaborasi adalah senjata utama—untuk Cikarang sehat dan lestari.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita