Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi, drh. Asep Kurnadi, memimpin langsung pelaksanaan vaksinasi ini, menekankan bahwa Cikembar diprioritaskan karena riwayat kasus positif rabies pada anjing serta tingkat kepemilikan hewan peliharaan yang tinggi di permukiman padat. “Cikembar menjadi lokasi prioritas karena memiliki riwayat kasus positif rabies pada anjing serta tingkat kepemilikan anjing yang cukup tinggi, terutama di daerah permukiman padat. Vaksinasi ini bertujuan melindungi masyarakat dari ancaman penularan rabies,” ujar Asep Kurnadi, seperti dikutip dari https://poltekkessukabumikota.org. Ia menambahkan bahwa Sukabumi masih mempertahankan status bebas rabies sejak kasus gigitan rabies pada manusia terakhir tercatat pada 2018. “Sejauh ini Kabupaten Sukabumi masih dalam status bebas rabies. Namun, upaya preventif seperti vaksinasi rutin tetap harus digalakkan agar status ini terjaga,” tegasnya. Program ini gratis untuk pemilik hewan peliharaan, dengan harapan mendorong partisipasi maksimal.
Poltekkes Kemenkes Sukabumi memainkan peran krusial dalam mendukung vaksinasi ini, meskipun tidak disebut secara eksplisit sebagai penyelenggara utama. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes turut berkontribusi melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, yang mendampingi tim Dinas Peternakan dalam sosialisasi dan pemantauan. Direktur Poltekkes Sukabumi, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa lembaga ini bangga mendukung upaya kendali zoonosis. “Vaksinasi rabies adalah strategi One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Mahasiswa kami edukasi warga tentang gejala rabies seperti hidrofobia dan aerofobia, serta pentingnya vaksinasi hewan tahunan. Di Cikembar, dengan kepadatan permukiman, pencegahan ini krusial untuk cegah KLB (Kejadian Luar Biasa),” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan layanan skrining gigitan hewan gratis di kampus, mendeteksi 50 kasus potensial rabies sejak Juli 2025 untuk rujukan cepat ke puskesmas.
Kegiatan ini melibatkan tim dokter hewan, staf teknis, dan kelompok khusus penanganan hewan penular rabies (HPR). Peserta vaksinasi mencakup perwakilan pemerintah desa, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas, yang memastikan distribusi merata. “Rabies bisa dicegah, dan salah satu caranya adalah dengan memastikan hewan peliharaan kita divaksin secara berkala. Program ini kami sediakan secara gratis, jadi manfaatkan sebaik mungkin,” tambah Asep Kurnadi. Dampak awal menunjukkan partisipasi tinggi, dengan 80 persen target tercapai di hari pertama, dan peningkatan kesadaran warga tentang karantina hewan penggigit selama 10 hari.
Keberhasilan vaksinasi ini menjadi model pencegahan zoonosis nasional. Di Sukabumi, di mana 40 persen penduduk bergantung pada peternakan, program seperti ini krusial untuk lindungi anak-anak dari gigitan rabies yang mematikan. Poltekkes Sukabumi berencana perluas edukasi ke 10 kecamatan pada 2026, terintegrasi dengan surveilans One Health. Dengan kolaborasi ini, Sukabumi bukan lagi zona rawan rabies, tapi teladan pencegahan—untuk masyarakat sehat dan aman.
