Kasus Raya bermula dari kondisi keluarga yang memprihatinkan: ayahnya, Udin (32 tahun), sakit-sakitan, sementara ibunya, Endah (38 tahun), menderita gangguan jiwa. Akibat keterbatasan biaya, Raya tidak mendapat perawatan medis yang layak, hingga kondisinya memburuk. Relawan Rumah Teduh Sahabat Iin yang menanganinya menggambarkan, “Lebih dari satu kilogram cacing berhasil dikeluarkan dari tubuh Raya, namun jumlahnya seperti tidak pernah habis.” Pemindahan tanggung jawab antar dinas di Kota Sukabumi sebelum kematiannya menunjukkan keterlambatan respons, yang kini menuai kritik. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, bahkan mengancam sanksi bagi aparat desa yang lalai, meskipun detail tindakan belum diumumkan.
Askariasis disebabkan oleh infeksi cacing gelang (Ascaris lumbricoides), yang menyerang anak-anak di negara tropis seperti Indonesia dengan sanitasi buruk. Infeksi terjadi saat seseorang menelan telur cacing yang menempel di makanan atau air terkontaminasi. Telur menetas di usus, cacing berpindah melalui aliran darah ke paru-paru, lalu kembali ke usus untuk tumbuh menjadi cacing dewasa berwarna putih atau pink, dengan panjang betina hingga 40 cm. Kebanyakan kasus tidak menunjukkan gejala, tapi jika jumlah cacing banyak, gejala meliputi nyeri perut, mual, muntah, diare atau tinja berdarah, hilang nafsu makan dengan berat badan turun, serta cacing terlihat di muntahan atau tinja. Pada tahap larva di paru-paru, gejala mirip asma atau pneumonia, seperti batuk kering, sesak napas, atau suara mengi.
Komplikasi berbahaya termasuk pertumbuhan anak melambat akibat kekurangan gizi, sumbatan usus yang menimbulkan sakit perut hebat, muntah, atau robekan usus, radang usus buntu, pendarahan internal, serta sumbatan saluran hati atau pankreas yang memerlukan penanganan darurat. Pengobatan sederhana dengan obat anti-parasit seperti Albendazole atau Mebendazole bisa membunuh cacing dewasa, tapi sering terlambat hingga kondisi memburuk.
Politeknik Kesehatan Kemenkes Sukabumi merespons dengan mempercepat program pengabdian masyarakat. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes tidak hanya mendokumentasikan kasus, tapi juga mendorong pencegahan proaktif. Dr. Siti Nurhaliza menyoroti urgensi surveilans. “Kasus Raya ini alarm bagi kami. Di Sukabumi, dengan 2,6 juta penduduk dan sanitasi buruk di pedesaan, askariasis bisa jadi KLB jika tidak ditangani dini. Mahasiswa kami dari Jurusan Kesehatan Lingkungan turun lapangan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk edukasi cuci tangan pakai sabun dan pembersihan lingkungan di 20 desa prioritas,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan layanan skrining cacingan gratis di kampus, mendeteksi 200 kasus positif sejak Juli 2025 untuk rujukan ke puskesmas.
Pencegahan askariasis meliputi mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah toilet, mencuci bersih buah dan sayuran atau memasak/mengupasnya, menggunakan air matang atau botolan di daerah sanitasi buruk, menghindari anak bermain tanah tanpa pengawasan, dan program pemberian obat cacing rutin setiap enam bulan untuk anak-anak. Hygiene dan sanitasi memainkan peran kunci, karena askariasis umum di daerah dengan sanitasi buruk seperti Indonesia. Kontaminasi telur cacing melalui makanan, air, atau tanah dapat dicegah dengan kebersihan tangan, air bersih, dan menghindari kontak tanah langsung.
Dengan sorotan Poltekkes Sukabumi, askariasis bukan lagi penyakit sepele, tapi tantangan yang bisa diatasi bersama. Edukasi, surveilans, dan kolaborasi adalah senjata utama—untuk Sukabumi sehat dan anak-anak bebas cacingan.
