Kepala Dinkes Sanggau, dr. Yuliana Herawati, M.Kes, menekankan bahwa penuntasan rabies memerlukan pendekatan holistik. “Kami maksimalkan semua sumber daya yang ada, mulai dari anggaran daerah hingga keterlibatan mahasiswa dan tenaga kesehatan. Vaksinasi massal hewan peliharaan adalah kunci utama, karena rabies ditularkan melalui gigitan anjing rabies,” ujar dr. Yuliana, seperti dikutip dari https://poltekkessanggaukab.org. Hingga Oktober 2025, program vaksinasi telah menjangkau 5.000 ekor anjing dan kucing di 10 kecamatan prioritas, termasuk Sanggau, Kapuas Kanan Hulu, dan Sekadau Hilir. Data Dinkes menunjukkan penurunan kasus gigitan hewan mencurigakan dari 150 pada 2023 menjadi 89 pada 2025, dengan nol kematian manusia sejak Januari lalu.
Poltekkes Kemenkes Sanggau memainkan peran strategis sebagai mitra pendidikan dan pengabdian masyarakat. Direktur Poltekkes Sanggau, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa institusi ini telah mengerahkan 200 mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan untuk kampanye vaksinasi dan sosialisasi. “Melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL), mahasiswa kami turun ke desa-desa untuk mendidik warga tentang gejala rabies—seperti kejang, hidrofobia, dan aerofobia—serta pentingnya vaksin pasca-gigitan. Kami juga latih kader desa untuk pemantauan hewan liar,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga menyediakan laboratorium untuk uji sampel darah korban gigitan, memastikan diagnosis cepat dan pengobatan imunoglobulin rabies yang tepat.
Strategi penuntasan rabies tidak terlepas dari kolaborasi dengan Dinas Peternakan Sanggau dan LSM seperti Humane Society International. Program “Sanggau Rabies Zero” mencakup sterilisasi hewan liar, pemberian vaksinasi gratis di posyandu hewan, dan kampanye “One Health” yang mengintegrasikan kesehatan manusia-hewan-lingkungan. “Kami targetkan 80% populasi anjing divaksinasi pada 2026. Ini bukan hanya tanggung jawab Dinkes, tapi seluruh masyarakat Sanggau,” tambah dr. Yuliana.
Dampak program ini sudah terlihat: penurunan 40% kasus gigitan hewan di kecamatan rawan seperti Parindu. Namun, tantangan tetap ada: anjing liar yang sulit dijangkau dan minimnya kesadaran di pedesaan. Poltekkes Sanggau merespons dengan rencana workshop bulanan untuk 500 kader dan integrasi modul rabies ke kurikulum mahasiswa. “Rabies bisa dicegah sepenuhnya dengan vaksinasi. Jangan tunggu gigitan; vaksin sekarang!” himbau Dr. Siti.
Upaya Poltekkes dan Dinkes Sanggau ini menjadi model sukses bagi kabupaten lain di Kalbar, di mana rabies masih endemik. Dengan memaksimalkan sumber daya, Sanggau bukan hanya tuntaskan rabies, tapi juga bangun masyarakat sehat yang tangguh. Kesehatan bukan hak istimewa, tapi tanggung jawab bersama—mari vaksinasi sekarang untuk Sanggau bebas rabies.
