Edi Harmaeni, Kepala Dinkes Sintang, menekankan urgensi aksi cepat. “Stunting bukan sekadar soal tinggi badan, tetapi menyangkut pertumbuhan otak, perkembangan mental, dan masa depan anak. Jika kita tidak bertindak cepat, dampaknya bisa terasa sepanjang hidup mereka,” ujarnya, seperti dikutip dari https://poltekkesnangapinoh.org/. Ia menambahkan, “Keberadaan tenaga kesehatan di lapangan, terutama bidan, sangat penting. Mereka adalah garda terdepan karena paling dekat dengan masyarakat.” Penanganan terpadu yang didorong mencakup intervensi spesifik untuk kelompok prioritas seperti ibu hamil, menyusui, dan balita usia 0–23 bulan, meliputi deteksi dini, terapi gizi, edukasi nutrisi, konseling, dan stimulasi perkembangan anak. Sementara intervensi sensitif melibatkan kolaborasi lintas sektor untuk perbaikan sanitasi, akses air bersih, dan pemberdayaan ekonomi keluarga.
Poltekkes Kemenkes Nanga Pinoh melihat stunting sebagai isu holistik yang memerlukan pendekatan pendidikan. Direktur Poltekkes, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa institusi ini siap menjadi mitra utama Dinkes Sintang. “Kami dorong penanganan terpadu melalui pelatihan mahasiswa kami, yang turun langsung ke lapangan via Praktik Kerja Lapangan (PKL). Fokus kami adalah edukasi gizi berbasis lokal, seperti pemanfaatan ikan sungai dan sayur daun untuk cegah malnutrisi kronis,” jelas Dr. Siti. Sejak Juli 2025, 150 mahasiswa Jurusan Gizi dan Kebidanan Poltekkes telah mendampingi 50 posyandu di Sintang, melakukan screening antropometri balita dan konseling ibu hamil. Mereka juga berkolaborasi dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Sintang untuk mengelola Gedung Tumbuh Kembang Anak, fasilitas pendidikan nutrisi dan monitoring pertumbuhan yang akan diserahkan ke PC IBI Sintang.
Target Dinkes Sintang adalah menurunkan prevalensi stunting di bawah 14% nasional pada 2027, dengan langkah konkret seperti peningkatan kunjungan rumah bidan dan distribusi suplemen zat besi. Poltekkes Nanga Pinoh memperkuat ini melalui riset mahasiswa tentang faktor risiko stunting di daerah pedalaman Sintang, seperti akses pangan terbatas akibat banjir musiman. “Kolaborasi dengan Dinkes dan IBI adalah kunci. Kami latih bidan desa untuk deteksi dini anemia ibu hamil, yang jadi penyebab utama stunting,” tambah Dr. Siti.
Upaya ini diharapkan jadi model bagi kabupaten lain di Kalbar. Dengan penanganan terpadu yang didorong Poltekkes Nanga Pinoh, Sintang bukan lagi daerah dengan stunting tertinggi, tapi contoh sukses pencegahan. Generasi Sintang yang sehat dan cerdas dimulai dari sekarang—melalui edukasi, kolaborasi, dan aksi nyata.
