Direktur Poltekkes Kemenkes Ketapang, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menekankan bahwa lonjakan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan krisis yang mengancam produktivitas generasi mendatang. “Masalah gizi dan stunting ini sangat penting karena dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan anak sebagai penerus bangsa,” ujar Hikmat Siregar dari Ikatan Dokter Indonesia Cabang Ketapang (INDECH), dikutip https://poltekkesketapangkab.org. Ia menambahkan, “Dari grafik ini kita melihat ada kecenderungan kenaikan jumlah kasus. Ini tentu memerlukan perhatian dan intervensi yang lebih serius dari semua pihak.” Sorotan Poltekkes ini lahir dari data Dinas Kesehatan Ketapang yang dipresentasikan dalam rapat koordinasi triwulanan, di mana INDECH meminta Pemkab Ketapang melakukan pemantauan dan penanganan berkala di 20 kecamatan untuk deteksi dini dan intervensi cepat.
Poltekkes Kemenkes Ketapang, sebagai lembaga pendidikan vokasi kesehatan terdepan di wilayah ini, tidak hanya menyoroti masalah, tapi juga menjadi motor penggerak solusi. Melalui Program Studi Gizi dan Kesehatan Masyarakat, institusi ini telah melibatkan 100 mahasiswa dalam Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk mendampingi posyandu di kecamatan rawan seperti Matan Hilir Selatan dan Sungai Laur. Mahasiswa Poltekkes turun langsung melakukan antropometri balita, edukasi pemberian makanan bergizi lokal seperti ikan sungai dan ubi kayu, serta pelatihan kader untuk screening stunting dini. “Kami melihat lonjakan ini dipicu oleh faktor akses pangan terbatas di pedalaman, pola makan rendah protein, dan minimnya pemantauan rutin. Poltekkes siap kolaborasi dengan Pemkab untuk program 'Balita Ketapang Sehat' yang fokus pada suplementasi dan edukasi keluarga,” tegas Dr. Siti Nurhaliza.
Upaya Poltekkes ini selaras dengan tuntutan INDECH agar Pemkab Ketapang menggelar pemantauan berkala di seluruh 20 kecamatan. Saat ini, Ketapang memiliki 150 posyandu yang menjadi tulang punggung program, tapi masih kekurangan kader terlatih. Lonjakan stunting, yang mencapai 2.448 kasus pada 2024, berpotensi menurunkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kabupaten jika tak ditangani. Stunting bukan hanya masalah fisik—ia menghambat perkembangan kognitif, menurunkan IQ hingga 10 poin, dan meningkatkan risiko penyakit kronis di masa dewasa. Di Ketapang, di mana 60% penduduk bergantung pada pertanian subsisten, akses makanan bergizi sering terhambat oleh banjir musiman dan harga pangan tinggi.
INDECH, melalui Hikmat Siregar, merekomendasikan intervensi serius seperti peningkatan anggaran posyandu dan kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Poltekkes Ketapang merespons dengan rencana workshop bulanan mulai Desember 2025, melatih 200 kader untuk antropometri akurat dan distribusi vitamin A. “Pemantauan rutin adalah kunci. Tanpa itu, lonjakan akan berlanjut dan generasi emas kita terancam,” pungkas Dr. Siti. Kolaborasi Pemkab, Dinkes, dan Poltekkes ini diharapkan menekan stunting di bawah 14% nasional pada 2026.
Lonjakan gizi buruk dan stunting di Ketapang adalah peringatan: kesehatan anak adalah investasi bangsa. Dengan sorotan tajam dari Poltekkes Kemenkes Ketapang, harapan untuk intervensi cepat semakin nyata. Mari bersatu—pemantauan rutin, edukasi, dan akses pangan adalah senjata utama. Ketapang sehat, Indonesia maju.
