Poltekkes Kota Mempawah Catat Lonjakan Kasus ISPA: Dorong Pencegahan Dini

Poltekkes Kota Mempawah Catat Lonjakan Kasus ISPA: Dorong Pencegahan Dini

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat, mencatat angka Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang mengkhawatirkan sepanjang Januari hingga Juni 2025, dengan total 18.885 kasus yang melibatkan semua kelompok usia. Data ini menunjukkan stagnasi kasus tanpa kenaikan signifikan, meskipun ancaman kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai terdeteksi pada Juli 2025. Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Mempawah, sebagai lembaga vokasi kesehatan terdepan di wilayah ini, aktif mendokumentasikan dan merespons data tersebut melalui program monitoring dan edukasi pencegahan. Kolaborasi dengan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes-PPKB) Mempawah memastikan intervensi cepat untuk melindungi masyarakat, terutama anak-anak yang paling rentan.


Alpino, Penanggung Jawab Program ISPA Dinkes-PPKB Mempawah, mengungkapkan bahwa kasus ISPA masih stagnan meski karhutla mulai terdeteksi. “Untuk kasus penyakit ISPA sejak Januari-Juni 2025 masih stagnan, belum ada kenaikan yang signifikan,” ujar Alpino, seperti dikutip dari https://poltekkeskotamempawah.org. Ia menambahkan, “Karhutla mulai terdeteksi bulan Juli, sementara laporan bulan Juli dari puskesmas belum masuk. Jadi, kemungkinan bulan Agustus baru bisa dilihat apakah ada kenaikan kasus ISPA akibat karhutla.” Rata-rata bulanan, kunjungan untuk kesulitan bernapas atau batuk mencapai 300 orang, sementara kasus pneumonia mencapai 80 kasus di semua usia, dengan 53 kasus pada balita usia 0-5 tahun. Untungnya, tidak ada kematian pneumonia pada balita atau dewasa.

Distribusi kasus tertinggi terjadi di Kecamatan Jongkat (3.662 kasus), Sungai Kunyit (3.160 kasus), Sungai Pinyuh (2.874 kasus), dan Mempawah Timur (2.478 kasus). Di tingkat puskesmas, Mempawah Hilir mencatat 2.413 kasus, Jungkat 2.338 kasus, Semudun 1.999 kasus, dan Pinyuh 1.994 kasus. Faktor utama pemicu ISPA adalah polusi udara dari karhutla, yang dapat memperburuk kondisi pernapasan, terutama pada anak-anak dan lansia. Alpino menekankan pencegahan sebagai prioritas. “Mengingat saat ini terjadi kabut asap di wilayah Kabupaten Mempawah akibat karhutla, kami menghimbau agar masyarakat menggunakan masker saat berada di luar rumah, membatasi aktivitas di luar rumah, perbanyak minum air putih, terapkan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat), tidak membawa bayi atau balita keluar rumah tanpa keperluan mendesak, serta segera periksa ke fasilitas kesehatan jika mengalami gangguan kesehatan.”

Poltekkes Kemenkes Mempawah merespons data ini dengan memperkuat program monitoring melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa. Direktur Poltekkes Mempawah, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa institusi ini siap berkolaborasi lebih dalam dengan Dinkes-PPKB. “Kasus ISPA 18.885 ini alarm bagi kami. Mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat kami turun ke puskesmas prioritas untuk edukasi PHBS dan skrining dini pneumonia pada balita. Kami juga kembangkan modul edukasi berbasis audio untuk wilayah terpencil, agar himbauan Alpino seperti pakai masker dan minum air putih lebih meresap,” jelas Dr. Siti. Sejak Juli 2025, 100 mahasiswa Poltekkes telah mendampingi 20 posyandu di Jongkat dan Sungai Kunyit, mendistribusikan 5.000 masker dan leaflet pencegahan, serta memantau kualitas udara sederhana.

Upaya Poltekkes ini selaras dengan target nasional Kementerian Kesehatan untuk menekan ISPA di bawah 10 persen pada 2026, terutama di daerah rawan karhutla seperti Mempawah. Dengan stagnasi kasus saat ini, intervensi dini melalui edukasi dan monitoring bisa cegah lonjakan Agustus mendatang. Poltekkes Mempawah membuktikan: pencegahan ISPA bukan tugas Dinkes semata, tapi tanggung jawab kolektif untuk Mempawah sehat dan tangguh.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita