Poltekkes Ngamprah Soroti Munculnya Penyakit Virus Hanta: Kasus Pertama di Bandung Barat

Poltekkes Ngamprah Soroti Munculnya Penyakit Virus Hanta: Kasus Pertama di Bandung Barat

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, mencatat kasus pertama virus Hanta pada 2025, dengan seorang pria berusia 52 tahun berinisial O dari Desa Bojongkoneng, Kecamatan Ngamprah, dinyatakan positif setelah digigit tikus saat bekerja di proyek konstruksi di Ciwidey. Kasus ini, yang dikonfirmasi melalui uji laboratorium oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan RI di Salatiga, menjadi sorotan tajam dari Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Ngamprah. Sebagai lembaga pendidikan vokasi kesehatan terdepan di wilayah ini, Poltekkes menyatakan keprihatinan mendalam atas munculnya penyakit zoonosis mematikan ini di daerah pegunungan yang rawan kontak dengan hewan pengerat. Direktur Poltekkes Ngamprah, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menekankan bahwa kasus ini adalah alarm untuk kewaspadaan dini. “Virus Hanta ini ancaman tersembunyi di Bandung Barat, terutama bagi pekerja konstruksi dan petani yang sering kontak tikus. Gejala seperti demam dan nyeri lambung yang dialami pasien harus jadi peringatan. Mahasiswa kami siap turun lapangan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk edukasi pencegahan, agar kasus impor seperti ini tidak jadi wabah lokal,” ujar Dr. Siti.


Virus Hanta, bagian dari genus Orthohantavirus, merupakan zoonosis berbahaya yang menyerang paru-paru (Hantavirus Pulmonary Syndrome/HPS) atau ginjal (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome/HFRS). Penyakit ini disebarkan melalui kontak dengan kotoran, urine, atau saliva tikus dan celurut terinfeksi, bukan gigitan langsung. Di Indonesia, reservoir utama adalah tikus got (Rattus norvegicus), tikus rumah (R. tanezumi), dan tikus sawah (R. argentiventer). Kasus di Ngamprah ini muncul setelah korban mengalami pusing, demam, dan nyeri lambung sejak 2 Mei 2025. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat, Ridwan Abdullah Putra, mengonfirmasi diagnosis. “Kami sudah lakukan surveilans dan mitigasi. Betul bahwa satu warga Ngamprah KBB positif virus Hanta, hasil uji lab dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan RI di Salatiga,” katanya, seperti dikutip dari https://poltekkesngamprah.id.

Gejala awal virus Hanta umumnya mirip flu, muncul 1–8 minggu setelah paparan: demam, sakit kepala, nyeri otot (terutama paha dan punggung), mual, muntah, dan diare. Pada HPS, fase kedua setelah 4–10 hari melibatkan batuk, sesak napas, tekanan darah rendah, dan denyut jantung tidak teratur akibat kerusakan paru-paru dan penumpukan cairan. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), 30 persen kasus HPS berakibat fatal. Sementara HFRS menyebabkan sakit kepala parah, sakit punggung, demam, mual, penglihatan kabur, tekanan darah rendah, syok akut, pendarahan internal, dan gagal ginjal akut. Penularan terjadi melalui menghirup debu terkontaminasi urine tikus, kontak langsung dengan kotoran hewan pengerat, atau melalui makanan/minuman tercemar, terutama di habitat rumah, sawah, ladang, dan hutan.

Politeknik Kesehatan Kemenkes Ngamprah merespons dengan mempercepat program pengabdian masyarakat. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes tidak hanya mendokumentasikan kasus, tapi juga mendorong pencegahan proaktif. Dr. Siti Nurhaliza menyoroti urgensi surveilans. “Kasus pertama ini alarm bagi kami. Di Ngamprah, dengan 200.000 penduduk dan proyek konstruksi Ciwidey yang ramai, kontak tikus tinggi. Mahasiswa kami dari Jurusan Kesehatan Masyarakat turun lapangan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk edukasi pencegahan: hindari kontak hewan pengerat, gunakan masker saat bersihkan gudang, dan segera periksa dokter jika gejala muncul. Kami juga sediakan layanan skrining cepat virus Hanta di kampus,” jelas Dr. Siti.

Upaya pencegahan meliputi kampanye “Ngamprah Bebas Hanta” di 10 desa prioritas, dengan fokus pekerja konstruksi. Dampak awal: kesadaran warga naik 35 persen sejak Juni 2025, dengan 200 skrining gratis Poltekkes. Ke depan, Poltekkes rencanakan workshop bulanan untuk 300 pekerja, terintegrasi dengan One Health surveilans hewan dan manusia. Dengan sorotan Poltekkes Ngamprah, virus Hanta bukan lagi ancaman tersembunyi, tapi tantangan yang bisa diatasi bersama. Edukasi dini, surveilans, dan kolaborasi adalah senjata utama—untuk Bandung Barat sehat dan aman.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita