Kepala Bidang Pelayanan Promosi dan Sumber Daya Kesehatan Dinkes P2KB Mahulu, Regina Hiyang, menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk pengabdian langsung kepada masyarakat. “Ini merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat. Dari hasil skrining, terdapat 162 kasus kesehatan indera, namun hanya 40 pasien yang dinyatakan siap operasi. Karena keterbatasan sumber daya, tahun ini kami hanya dapat melayani 24 pasien, masing-masing berasal dari setiap puskesmas di kecamatan,” jelas Regina Hiyang kepada media usai kegiatan, seperti dikutip dari https://poltekkesujohbilang.org. Ia menambahkan bahwa operasi ini sebelumnya rutin dilakukan setiap tahun sebelum terhenti akibat pandemi COVID-19. Dari 24 pasien yang dioperasi, masing-masing mewakili satu puskesmas di kecamatan, sementara 16 pasien lainnya yang belum siap akan dijadwalkan ulang tahun depan. Beberapa kasus memerlukan penanganan lebih lanjut di Samarinda, khususnya yang membutuhkan bius total atau mengalami infeksi. “Pasien yang belum siap operasi akan kami jadwalkan ulang di tahun depan, sementara yang harus dirujuk ke Samarinda akan dibantu oleh puskesmas masing-masing,” tambahnya.
Poltekkes Kemenkes Ujoh Bilang, yang berlokasi strategis di ibu kota kabupaten, memainkan peran krusial dalam mendukung program ini. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes tidak hanya menyediakan tenaga ahli, tapi juga melibatkan 30 mahasiswa Jurusan Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL). Direktur Poltekkes Ujoh Bilang, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa lembaga ini siap jadi mitra utama Dinkes Mahulu untuk program serupa. “Mahasiswa kami turun langsung mendampingi skrining pra-operasi di 10 desa prioritas, edukasi pencegahan katarak seperti istirahat mata dari layar digital, dan pemantauan pasca-operasi. Di Mahulu, di mana akses ke spesialis mata jauh, program seperti ini selamatkan penglihatan ratusan warga,” jelas Dr. Siti. Mahasiswa Poltekkes juga memberikan penyuluhan tentang pentingnya pemeriksaan mata rutin, terutama di era digital di mana mata lelah dari gadget menjadi penyebab utama katarak dini.
Keberhasilan operasi 24 pasien ini menjadi momentum untuk Dinkes Mahulu mengupayakan pendanaan melalui BPJS Kesehatan. Regina Hiyang menjelaskan, “Kami berharap ke depannya operasi katarak dapat dibiayai melalui BPJS Kesehatan. Saat ini, pihaknya sedang mengupayakan pemenuhan persyaratan seperti kredensial kamar operasi dan tenaga dokter spesialis agar program ini dapat dilakukan secara rutin di Mahakam Ulu hingga empat kali setahun.” Ia juga mengimbau masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan indera. “Jika ada gejala atau keluhan, segera periksakan ke puskesmas, pustu, atau posyandu agar dapat ditangani lebih awal. Era digital saat ini juga berdampak pada kesehatan mata, jadi penting untuk memberikan waktu istirahat bagi mata, seperti melihat pemandangan hijau selama 20 detik setiap 1-2 jam bekerja.”
Dengan dukungan Poltekkes Ujoh Bilang, program operasi katarak gratis ini bukan hanya layanan sekali jadi, tapi fondasi untuk pencegahan jangka panjang. Di Mahulu, di mana jarak ke Samarinda mencapai 300 km melalui sungai, inisiatif seperti ini selamatkan penglihatan dan tingkatkan kualitas hidup. Poltekkes Ujoh Bilang membuktikan: pendidikan vokasi kesehatan adalah jembatan antara kebijakan dan kesejahteraan masyarakat—untuk Mahulu yang lebih terang dan sejahtera.
