Poltekkes Cimahi Soroti Peningkatan Kasus Diabetes pada Anak: Dorong Edukasi dan Deteksi Dini

Poltekkes Cimahi Soroti Peningkatan Kasus Diabetes pada Anak: Dorong Edukasi dan Deteksi Dini

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, menjadi salah satu wilayah dengan lonjakan kasus diabetes pada anak yang mengkhawatirkan, mencapai peningkatan 70 kali lipat sejak 2010. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan prevalensi diabetes pada anak mencapai 2 orang per 100.000 jiwa pada Januari 2023, dengan diabetes tipe 1 menyumbang 90 persen kasus. Distribusi usia terparah terjadi pada kelompok 10–14 tahun (46,23 persen), diikuti 5–9 tahun (31,05 persen), 0–4 tahun (19 persen), dan di atas 14 tahun (3 persen). Anak perempuan mendominasi dengan 59,3 persen kasus, dibanding laki-laki 40,7 persen. Lonjakan ini menjadi sorotan tajam dari Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Cimahi, yang menyatakan bahwa layanan kesehatan primer masih belum memadai untuk menangani kondisi kronis ini. Direktur Poltekkes Cimahi, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menekankan urgensi deteksi dini dan edukasi. “Kasus diabetes pada anak yang melonjak 70 kali lipat ini alarm bagi kami. Layanan kesehatan belum memadai, terutama di tingkat sekolah dan puskesmas, di mana guru dan orang tua kurang paham perawatan. Kami dorong program edukasi khusus untuk anak penyintas diabetes tipe 1, karena insulin bagi mereka bagaikan oksigen yang dibutuhkan setiap hari dan sepanjang kehidupan,” ujar Dr. Siti.


Diabetes tipe 1 pada anak disebabkan oleh kerusakan pankreas yang mengakibatkan kekurangan produksi insulin, sehingga glukosa darah meningkat (hiperglikemia) dan mengancam nyawa. Gejala awal seperti haus berlebih, buang air kecil sering, kelelahan kronis, dan penurunan berat badan sering terabaikan, hingga komplikasi seperti koma ketoasidosis muncul. Hotma Rumahorbo, dosen Poltekkes Bandung, menyoroti ketidakpahaman lingkungan. “Guru tidak memahami diabetes pada anak sekalipun mengetahui anak didiknya ada yang menderita diabetes,” katanya, seperti dikutip dari https://poltekkescimahi.org pada 6 Desember 2024. Ia menambahkan bahwa khususnya bagi komunitas anak penyintas diabetes tipe 1, pendekatan layanan primer seperti Pos Binaan Terpadu atau Prolanis belum sesuai, karena diabetes tipe 1 memerlukan manajemen insulin ketat dan dukungan emosional.

Poltekkes Kemenkes Cimahi merespons dengan mempercepat program pengabdian masyarakat. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kemenkes, Poltekkes tidak hanya mendokumentasikan kasus, tapi juga mendorong pencegahan proaktif. Dr. Siti Nurhaliza menyoroti urgensi surveilans. “Lonjakan kasus ini alarm bagi kami. Di Bandung, dengan 2,5 juta penduduk dan pola makan tinggi gula, diabetes tipe 1 pada anak perlu edukasi dini. Mahasiswa kami dari Jurusan Keperawatan turun lapangan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk latih guru sekolah jadi 'Guru Unik Kesehatan'—pantau gula darah, siapkan kit insulin, dan dukung kantin sehat,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan layanan skrining gratis di kampus, mendeteksi 150 kasus risiko diabetes sejak Juli 2025 untuk rujukan ke puskesmas.

Upaya pencegahan meliputi webinar diabetes tipe 1 pada anak pada 2 November 2024, dengan 280 peserta termasuk tenaga kesehatan, dokter, mahasiswa, dosen, dan guru. Hotma Rumahorbo menambahkan, “Kami kembangkan model informasi, komunikasi, dan tata kelola (Inkola) untuk tingkatkan kualitas hidup anak penyintas, termasuk edukasi orang tua dan guru selama tiga bulan.” Dampak awal: kesadaran guru naik 40 persen di sekolah sasaran sejak November 2025, dengan penurunan kasus telat diagnosis 25 persen.

Dengan sorotan Poltekkes Cimahi, diabetes pada anak bukan lagi musuh tak terlihat, tapi tantangan yang bisa diatasi bersama. Edukasi dini, skrining, dan kolaborasi adalah senjata utama—untuk Bandung sehat dan generasi muda bebas risiko.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Tambahkan jadi preferensi di Google