Saat Bung Karno Puji 'Wahabi'

Saat Bung Karno Puji 'Wahabi'

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Saat Bung Karno Puji 'Wahabi'

Oleh: FITRIYAN ZAMZAMI

"Tjobalah pembatja renungkan sebentar ‘padang-pasir’ dan ‘wahabisme’ itu. Kita mengetahui djasa Wahabisme jang terbesar: ia punja kemurnian, ia punja keaslian, murni dan asli sebagai udara padang-pasir, kembali kepada asal, kembali kepada Allah dan Nabi, kembali kepada Islam dizamanja Muhammad! Kembali kepada kemurnian, tatkala Islam belum dihinggapi kekotorannya seribu satu tahajul dan seribu satu bid’ah. Lemparkanlah djauh-djauh tahajul dan bid’ah itu, tjahkanlah segala barang sesuatu jang membawa kemusjrikan!” 

Demikianlah yang dituliskan proklamator Sukarno dalam bukunya Di Bawah Bendera Revolusi. Jarang diketahui, Bung Karno sempat memiliki ketertarikan dengan ajaran pemurnian Islam yang berjalan beriringan dengan Kerajaan Saudi.

Ketertarikan ini muncul saat Bung Karno belajar Islam secara intens sepanjang 1930-an saat dipenjara di Sukamiskin, Bandung, dan kemudian di Ende, Kepulauan Flores. Di Ende, ia dibimbing dari jauh oleh pendiri ormas Persis, A Hassan. Dari surat-suratnya, kita memahami bahwa Bung Karno cenderung pada Islam yang lebih puritan kala itu. Ia bahkan sempat meminta menerjemahkan biografi Abdulaziz bin Saud, raja Arab Saudi yang juga merupakan patron pemurnian yang didakwahkan Muhammad bin Abdul Wahab sejak abad ke-18.

Bung Karno meminta buku itu untuk terjemahkan dalam bahasa Indonesia. Salah satu alasannya, untuk membantu perekonomian keluarga. Namun, ada juga alasan lain. "Bagi saya buku ini bukan saja satu ikhtiar ekonomi, tetapi adalah pula satu pengakuan, satu confenssion. Ia menggambarkan Ibnu Saud dan Wahabisme begitu rupa, mengkobar-kobarkan elemen amal, perbuatan begitu rupa hingga banyak kaum ‘tafakur’ dan kaum pengeramat Husain c.s (kaum Syiah) akan kehilangan akal nanti sama sekali," tulis Bung Karno.

Ia berharap, terjemahan itu juga bisa disebarkan ke masyarakat guna membentuk kepribadian mereka. "Dan mudah-mudahan nanti ini buku, dibaca oleh banyak orang Indonesia, agar bisa mendapat inspirasi daripadanya. Sebab, sesungguhnya buku ini penuh dengan inspirasi. Inspirasi bagi kita punya bangsa yang begitu muram dan kelam hati."

Namun, jauh sebelum itu, Bung Karno memang lebih dekat dengan gerakan pemurnian Islam. "Aku tak pernah mendapatkan didikan agama yang teratur karena bapak tidak mendalaminya. Aku menemukan sendiri Islam pada usia 15 tahun, ketika aku mengikuti keluarga Pak Tjokro (HOS Tjokroaminoto). Masuk satu organisasi agama dan sosial bernama Muhammadiyah. Gedung pertemuannya terletak di seberang rumah kami di Gang Paneleh. Sekali sebulan, dari pukul delapan sampai tengah malam, seratus orang berdesak-desakan mendengarkan pelajaran agama dan ini disusul dengan tanya jawab. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian," ujarnya dalam "Penyambung Lidah Rakyat", otobiografi yang ditulisnya bersama Cindy Adam.

Islam yang diajarkan Pak Tjokro kita pahami, merupakan agama yang rasional dan menekankan pada keadilan sosial. Sementara Muhammadiyah sejak lama adalah penentang TBC alias Takhayul, Bid'ah, dan Khurafat.

Tak hanya dalam surat, sejumlah praktik Wahabi juga dilaksanakan keluarga Sukarno. Salah satu istri Sukarno, Fatmawati, menuturkan bahwa keluarga mereka tak pernah melakukan ritual-ritual tradisional terkait kelahiran anak atau sebagainya. Dalam bahasa Fatmawati, mereka hanya melakukan yang sesuai ‘Alquran, sunnah, dan yang diajarkan para guru”.

Orang-orang kerap menyematkan klenik dengan Bung Karno, hal yang membuatnya terkesan jauh dari gerakan pemurnian Islam. Namun dalam keterangannya sendiri, Bung Karno justru menyatakan antiklenik. 

Alkisah, pada 1962 Indonesia tengah dilanda kemarau yang cukup panjang. Di tengah kondisi itu, seperti dituturkan ajudan Bung Karno, Bambang Widjanarko, dalam "Sewindu Dekat Bung Karno", datang seorang pria menghadap ke Istana Negara.

Pria tersebut datang sembari membawa sebuah hadiah istimewa. Ia mengklaim, yang ia bawa adalah keris peninggalan jaman Majapahit. Keris dengan lima lekukan alias luk itu menurutnya bertuah dan bisa mengabulkan permintaan empunya.

Bung Karno bertanya kemudian, apa imbalan yang diminta tamu bersangkutan untuk keris itu? Jawabannya adalah satu kendaraan mobil. Bagaimana tanggapan Bung Karno?

"Coba cabutlah keris itu dan mohon hujan turun sekeras-kerasnya agar rumput di tamanku ini menjadi segar dan hijau kembali," ujar Bung Karno dikutip Bambang Widjanarko. Bambang menuturkan, pembawa hadiah keris langsung terdiam.

"Kalau tak bisa sekarang, bawalah keris itu terlebih dahulu dan tetaplah mohon agar hujan turun. Kalau nanti malam atau besok pagi hujan benar-benar turun, akan saya penuhi janji saya memberi dua mobil untuk Bapak," Bung Karno melanjutkan. Tentu permintaan itu tak bisa dikabulkan pembawa keris. Ia kemudian pulang tanpa hasil meski keris tersebut tetap dihadiahkan pada sang Presiden.

Tongkat terkenal yang kerap dibawa-bawa Bung Karno juga beberapa kali menjadi pertanyaan kepala negara negeri lain. Atas pertanyaan itu, Bung Karno selalu menekankan soal kewajaran tongkatnya yang merupakan hadiah dari Presien Filipina Elpido Quirino. "Ini hanya kayu biasa, saya bawa hanya untuk menunjukkan posisi kepala negara, " kata Bung Karno sekali waktu. Ia bahkan sempat mempersilahkan Menteri Transmigrasi dan Koperasi, Achadi, membawa tongkat itu jika tak percaya bahwa itu tongkat biasa.

Bung Karno juga diketahui beberapa kali membawa keris peninggalan Perang Puputan di Bali. Sebagian pihak mengklaim ada tuah pada keris tersebut. Sementara Bung Karno menjawab bahwa keris itu semata pengingat atas perlawanan rakyat Bali melawan penjajah.

Meski saat ini tersebar patung Sukarno, yang bersangkutan sedianya tak suka dengan kultus individu. Salah satu indikasi ini, pada 1961, Sukarno tiba-tiba memerintahkan pembongkaran rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur No 56 yang jadi lokasi pembacaan proklamasi. Rumah itu pada 1960 semasa gubernur Henk Ngantung telah dijadikan Gedung Pola untuk menyiapkan program pembangunan. Semacam Bappenas sekarang ini.

Dalam bukunya Kenang-kenangan sebagai Kepala Daerah, Henk Ngantung menulis, "Ide pembangunan Gedung Pola memang baik. Tapi, dengan membongkar dan mengorbankan  Gedung Proklamasi  Pegangsaan Timur 56 saya rasa sayang dan aneh." Henk memaparkan kisahnya mendatangi Bung Karno ke istana untuk meminta agar gedung bersejarah itu tidak dibongkar. Ia mengajukan pertanyaan, "Apakah keputusan Bung Karno tidak bisa ditinjau lagi?" Sebelumnya tak sedikit juga yang menanyakan hal itu pada Bung Karno. Bung Karno menjawab singkat, "Apakah kamu juga termasuk mereka yang ingin memamerkan celana kolorku (di dalam rumah itu)."

Sumber: republika
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita