Mesir Baku Tembak dengan Israel, Bagaimana Sejarah Konfliknya?

Mesir Baku Tembak dengan Israel, Bagaimana Sejarah Konfliknya?

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Mesir Baku Tembak dengan Israel, Bagaimana Sejarah Konfliknya?

GELORA.CO - 
Untuk pertama kalinya selama berpuluh tahun belakangan, tentara Mesir dan Israel kembali terlibat baku tembak. Pemboman keji Israel di kamp penuh pengungsi di Rafah disebut memicu baku tembak yang kabarnya menewaskan dua tentara Mesir tersebut. Bagaimana sejarah konflik kedua negara itu?

Tercatat dalam arsip Republika, konflik Israel-Mesir tak lepas dari skema luas Konflik Israel-Arab. Konflik itu diawali oleh keputusan PBB pada 1947, yang membagi wilayah Palestina menjadi dua bagian: untuk Yahudi dan Palestina. Pihak Yahudi menerima, namun negara-negara Arab sebagai pemilik tanah menolak keras pembagian itu.

Konflik meruncing dan perang terbuka tak terhindari ketika pada 1948, tokoh Yahudi Ben Gurion memproklamasikan negara Israel di bumi Palestina. Tentara Yordania dan Mesir bergabung menggempur kekuatan Israel. Yordania berhasil menguasai Tepi Barat, dan Mesir merebut Jalur Gaza (keduanya wilayah Palestina). Kekuatan Lebanon dan Suriah kemudian menyusul bergabung. Namun, perang selama setahun ini akhirnya dimenangkan Israel, dan dicapai gencatan senjata. Akibat perang ini, sekitar 750.000 warga Palestina terusir dari negerinya menjadi pengungsi di negara-negara Arab sekitar.

Kontak senjata berlanjut antara Mesir dengan Israel yang dibantu Inggris dan Prancis, ketika Presiden Mesir Jamel Abdul Nasir, pada 1956 menasionalisasi Terusan Suez. Dalam perang itu, Israel sempat menguasai sebagian wilayah Sinai, namun kemudian Mesir berhasil merebut kembali. 

50 tahun lalu, tepatnya 1967, perang kembali pecah antara Israel dan negara-negara tetangganya. Perang dikenal dengan berbagai nama, mulai dari Perang 1967, Perang Enam Hari, atau Perang Arab. Namun, sejumlah ilmuwan menilai penyebutan Perang 1967 lebih netral. 

Meski hanya berlangsung selama enam hari, 5-10 Juni 1967, imbasnya terasa hingga setengah abad setelahnya.  Perang pada 1967 adalah hasil dari kulminasi ketegangan sejak lama antara Israel dan negara-negara Arab. Perbatasan antara Mesir dan Israel saat itu relatif kalem. Titik panas ada di perbatasan antara Israel dengan Suriah.

Saat itu, Suriah berupaya merisak Israel dan melindungi pejuang-pejuang Palestina. Israel menyebut mereka teroris dan mencoba memukul mundur. Perang pecah, saat itu semua pihak terlibat, mulai dari negara-negara Barat hingga Uni Soviet.

Menurut data Martin Gilbert dalam The Routledge Atlas Of The Arab-Israeli Conflict, perang yang dimulai pada Mei 1967 itu melibatkan 264 ribu personel pasukan Israel dengan 800 tank dan 300 pesawat tempur. Pasukan Arab merupakan pasukan gabungan Mesir, Suriah, dan Yordania. Mereka terdiri atas 340 ribu personel pasukan, 1.800 tank, dan 660 pesawat tempur.

Pada 5 Juni, Israel melancarkan serangan kejutan. Aksi yang disebut Operation Focus itu bertujuan menghancurkan pasukan udara Arab di darat. Sasaran pertama adalah Mesir.

Tel Aviv sudah berlatih operasi ini selama bertahun-tahun sehingga gelombang pertama begitu dahsyat. Tidak seperti Mesir dan pasukan Arab lain, pasukan Israel banyak belajar dari perang dan menyelesaikan tugas-tugas mereka.

Mereka dengan mudahnya melancarkan ratusan misi penghancuran di setiap pangkalan udara Mesir, Yordania, dan Suriah. Permintaan bantuan dihalangi Israel dan berujung pada serangan lanjutan.

Israel sukses besar. Tel Aviv bersorak. Serangan mereka ternyata lebih baik daripada yang sebelumnya direncanakan. Mereka sukses mengejutkan musuh. Hari berikutnya, Israel menyerang Yordania dan Suriah.

Misi ini pun sukses, Israel mengendalikan udara. Bukannya tanpa perlawanan, Raja Yordania saat itu membalas serangan dan mengerahkan aliansi militer. Begitu juga dengan Mesir yang melakukan perlawanan di darat.

Selama lima hari, Israel berhasil mencaplok Jalur Gaza, Gurun Sinai Mesir, Dataran Tinggi Golan Suriah, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur dari Yordania. Untuk pertama kalinya dalam dua milenium, Israel berhasil menguasai situs Yahudi yang juga tempat suci umat Islam.

Menurut Encyclopaedia Britannica, kerugian yang diderita bangsa Arab amat dahsyat. Korban tewas di pihak Mesir lebih dari 11 ribu orang, Yordania mencapai 6.000 orang, dan Suriah kehilangan 1.000 warganya. Bandingkan dengan Israel yang kehilangan 700 nyawa.

Arab juga menderita pukulan berat di persenjataan dan perlengkapan. Kekalahan telak ini menggerogoti moral masyarakat sekaligus kaum elite Arab. Pemimpin Mesir Gamal Abdul Nasser mundur pada 9 Juni. Namun, massa bergerak meminta ia tetap bertahan di kursi kepresidenan. Sementara, Israel jelas memasuki masa penuh euforia kemenangan.

Perang ini paling buruk berimbas pada warga di Palestina. Sejak saat itu, Israel memulai okupasi daerah Palestina. Mereka menganeksasi Yerusalem timur dan Dataran Tinggi Golan. Aksi ini tidak diakui secara internasional. Perang 1967 membuat Israel semakin dikukuhkan menjadi penjajah. 

Kemudian pada 1973, terjadi Perang Yom Kippur antara Israel melawan Mesir dan Suriah. Perang ini mengakhiri gencatan senjata di wilayah Timur Tengah yang disepakati pada 1970.

Perang itu terjadi pada hari raya Yahudi, Yom Kippur, yang didahului oleh serangan Mesir dan Suriah. Mesir dan Suriah berusaha merebut kembali wilayah mereka yang hilang akibat kekalahan pada perang enam hari melawan Israel pada 1967.

Perang Yom Kippur yang berlangsung 19 hari, mengalami berbagai efek negatif domestik dan internasional sesudahnya. Perang Dingin yang terjadi pada waktu itu turut mewarnai konflik ini dengan Amerika Serikat dan Uni Soviet berusaha membantu sekutu-sekutu mereka.

Setelah kemenangan pada Perang Enam Hari, Israel menduduki wilayah baru, termasuk Dataran Tinggi Golan yang sebelumnya milik Suriah dan Semenanjung Sinai milik Mesir. Para pemimpin Mesir dan Suriah akhirnya sepakat bergabung untuk melakukan operasi bersama meskipun dengan alasan berbeda.

Mesir berharap membuat Israel mengakui kekuatannya untuk kemudian memaksa penyelesaian damai. Sementara, Presiden Suriah berusaha mencari prestise politik dengan merebut kembali Dataran Tinggi Golan.

Perang Yom Kippur dimulai ketika tentara Mesir dan Suriah menyerang bersama pada 6 Oktober 1973. Selama hari-hari pertama Perang Yom Kippur, tentara Mesir dan Suriah berhasil mencetak kemenangan cepat.

Hal ini bisa dipahami mengingat Israel yang tidak menduga akan datangnya serangan sekaligus rasa percaya diri akan superioritas militer yang mereka miliki. Kemudian, turunlah bantuan dari negara superpower. Amerika Serikat memberikan bantuan peralatan militer sehingga mampu membalikkan keadaan.

Meskipun sudah dibantu Soviet, Mesir dan Suriah tidak mampu menahan laju balasan tentara Israel. Akibat kekhawatiran bahwa Perang Yom Kippur bisa memicu konflik terbuka dua kekuatan nuklir dunia (Amerika Serikat dan Uni Soviet), PBB berusaha keras untuk segera menyudahi perang.

Resolusi 338 Dewan Keamanan PBB akhirnya secara resmi mengakhiri Perang Yom Kippur pada 22 Oktober 1973. Sehingga, perang ini dinyatakan tidak ada pemenangnya. Namun, tingginya biaya perang menyebabkan gejolak ekonomi di negara-negara yang terlibat perang, sekaligus memicu perselisihan politik.

Babak baru penyelesaian konflik Arab-Israel terjadi ketika Presiden Mesir Anwar Sadat dan PM Israel Menachem Begin, dengan prakarsa AS, mengadakan perundingan damai di Camp David, AS, pada 17 September 1978. Setahun kemudian, 1979, dicapai kesepakatan damai Mesir-Israel. 

Intinya, kesepakatan itu menegaskan diakhirinya kontak senjata antara Mesir dan Israel, dikembalikannya Semenanjung Sinai kepada Mesir, dan diakuinya Israel sebagai negara oleh Mesir yang ditindaklanjuti oleh pembukaan perwakilan resmi di kedua negara.

Mesir kemudian tercatat sebagai negara Arab pertama yang berdamai dan membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Namun, akibat sikap Sadat ini, Mesir dikecam negara-negara Arab, dan dikeluarkan dari keanggotaan Liga Arab. Markas organisasi ini pun kemudian dipindah dari Kairo ke Tunis, untuk beberapa tahun. Sadat dituding sebagai pengkhianat perjuangan bangsa Arab.

Alasan yang mendasari sikap Sadat yang berdamai dengan Israel, sebagaimana ditulis dalam buku Ayyam Sadat (Hari-hari Sadat) yang kemudian hari difilmkan ini, tak lain adalah, pilihan perang melawan Israel sejatinya tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Ia mengacu pada kenyataan sejarah, yang bukan semata karena takut kepada Isarel, tetapi, seperti yang ia tegaskan itu, di belakang Israel adalah AS.

Hal ini pula yang coba ia jelaskan kepada para pemimpin Arab saat itu. Dengan bergulirnya waktu, negara-negara Arab menyadari bahwa solusi konflik berkepanjangan itu tidak bisa dibiarkan tanpa jalan keluar yang adil. Maka, mereka menerima jalan keluar itu melalui media perundingan, dengan mediator utama AS dan Uni Eropa.

Peristiwa penting di tahun 1979, dimana dicapai kesepakatan damai Mesir-Israel itu kemudian menjadi fase baru interaksi Arab-Israel secara keseluruhan. Sayangnya, 'cetak biru' perdamaian tak semulus di atas kertas. Di sinilah masalah Palestina muncul sebagai masalah global dan menjadi isu sentral dalam sejarah konflik Arab-Israel.

Wilayah-wilayah Palestina baik di Tepi Barat maupun Jalur Gaza yang dianeksasi Israel membuat konflik makin rumit dan jauh dari penyelesaian. Sikap Israel yang tak mau tunduk pada resolusi PBB maupun kesepakatan internasional lainnya, tak jarang melahirkan sikap antipati dunia Arab dan Islam terhadap Israel, bahkan AS, sebagai negara yang senantiasa berpihak pada negeri Yahudi itu.

Sumber: republika
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita