Poltekkes Sintang Bantu Pemerintah Tingkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat

Poltekkes Sintang Bantu Pemerintah Tingkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, yang mayoritas wilayahnya adalah pedalaman dengan tantangan akses kesehatan yang kompleks, kini mendapat dukungan kuat dari Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Sintang. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, Poltekkes Sintang tidak hanya mencetak tenaga kesehatan unggul, tapi juga menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Program ini, yang berlangsung dari Maret hingga Agustus 2024, menjadi wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, dengan pendekatan interdisipliner yang berbasis keluarga.


KKN Tematik Poltekkes Sintang mengadopsi model Interprofessional Education/Collaboration (IPE/IPC) melalui metode "one student one family" (OSOF), di mana setiap mahasiswa mendampingi satu keluarga untuk mengintegrasikan layanan kesehatan holistik. Tema program tahun ini, “Dengan Semangat Kebersamaan, Dalam Konsep Pentahelix, Keluarga Sehat, Masyarakat Kuat”, menekankan kolaborasi lima heliks: pemerintah, akademisi, bisnis, masyarakat, dan media. Dr. Dedi Damhudi, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB, Ketua Panitia KKN Tematik 2024, menyatakan, “Program ini membantu pemerintah tingkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan menangani isu prioritas Kemenkes, seperti stunting, kesehatan ibu dan anak (KIA/KB), penyakit menular seperti TB dan HIV-AIDS, serta penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes mellitus,” seperti dikutip dari https://poltekkessintang.org.

Kegiatan dilaksanakan setiap dua minggu pada akhir pekan di 13 desa prioritas di Sintang, termasuk Nanga Pinoh dan Tempah, dengan peserta mahasiswa dari berbagai jurusan: Keperawatan, Gizi, Kebidanan, Farmasi, dan Kesehatan Masyarakat. Total 200 mahasiswa terlibat, dibagi menjadi tim kelompok untuk menangani klaster isu kesehatan, serta pendampingan individu melalui OSOF. Di Sintang, yang memiliki prevalensi stunting mencapai 31 persen—tertinggi di Kalbar—mahasiswa Poltekkes fokus pada screening antropometri balita, edukasi pemberian makanan bergizi lokal seperti ikan sungai dan ubi kayu, serta konseling ibu hamil untuk cegah anemia. “Pendekatan pentahelix memastikan keberlanjutan; kami libatkan tokoh adat Dayak dan PKK desa untuk replikasi program pasca-KKN,” tambah Dr. Dedi Damhudi.

Kolaborasi dengan pemerintah daerah terbukti efektif. Dinas Kesehatan Sintang menyediakan data prioritas, sementara Poltekkes menyumbang tenaga mahasiswa sebagai "agen perubahan" di lapangan. Hasil awal program menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat: 80 persen keluarga sasaran kini rutin memantau gizi anak, dan kasus TB terdeteksi dini di 15 desa. Di Nanga Pinoh, mahasiswa Poltekkes mendirikan "Posko Kesehatan Keluarga" sementara, yang melayani 500 konsultasi KIA/KB dan skrining diabetes gratis. “KKN Tematik ini bukan sekadar tugas kuliah, tapi pengabdian nyata. Mahasiswa belajar langsung dinamika kesehatan di pedalaman, sambil bantu pemerintah capai target UHC (Universal Health Coverage) 95 persen,” ujar Direktur Poltekkes Sintang, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes.

Program ini juga mendukung penelitian mahasiswa, seperti survei faktor risiko stunting di Sintang yang akan dipublikasikan di jurnal nasional. Ke depan, Poltekkes Sintang rencanakan KKN Tematik 2026 dengan tambahan klaster kesehatan jiwa, mengingat isolasi pedalaman sering picu depresi. Dengan semangat pentahelix, Poltekkes Sintang bukan hanya sekolah, tapi mitra pemerintah yang wujudkan masyarakat Sintang kuat dan sehat—langkah kecil menuju Indonesia Emas 2045.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita