Joe Biden Serukan Jeda Perang Gaza setelah Diprotes Pemimpin Yahudi AS

Joe Biden Serukan Jeda Perang Gaza setelah Diprotes Pemimpin Yahudi AS

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO  - Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, mengatakan perlunya jeda kemanusiaan sementara dalam perang Isreal-Hamas Palestina di Gaza.

Jeda kemanusiaan sementara ini bukan gencatan senjata, namun hanya memberikan waktu untuk memungkinan evakuasi orang-orang di Gaza.

Seruan Joe Biden itu terjadi setelah seorang Rabbi, pemimpin spiritual atau guru agama Yudaisme, memprotes agar AS menyerukan gencatan senjata di Gaza.

Joe Biden sedang berbicara di hadapan sekitar 200 orang ketika Rabbi Jessica Rosenberg berteriak padanya.



“Jika Anda peduli dengan orang-orang Yahudi, sebagai seorang Rabbi, saya ingin Anda menyerukan gencatan senjata sekarang juga,” kata Rabbi bernama Jessica Rosenberg di acara penggalangan dana yang dihadiri Joe Biden, Rabu (1/11/2023).



Rabbi Jessica Rosenberg menuntut penghentian total permusuhan di Gaza antara Hamas Palestina dan Israel.

Insiden itu terekam dalam video dan dibagikan oleh akun Jewish Voice for Peace di X (Twitter).

Akun tersebut mengklaim Rabbi Jessica Rosenberg berbicara atas nama ribuan warga Yahudi Amerika yang menolak membiarkan genosida dilakukan atas nama mereka (Yahudi).

"Saya yakin kita perlu jeda untuk memberi waktu untuk mengeluarkan para tahanan,” kata Joe Biden, yang mengacu pada warga negara asing yang saat ini terjebak di Gaza dan sandera Hamas.


Setelah memprotes Joe Biden, Rabbi Jessica Rosenberg kemudian dikawal keluar dari lokasi.

Joe Biden kemudian mengatakan, dia memahami emosi Rabbi Jessica Rosenberg dan mengakui situasi ini sangat rumit bagi Israel dan dunia Muslim.

“Saya mendukung solusi dua negara; Saya sudah melakukannya sejak awal,” kata Joe Biden, dikutip dari The Guardian.

“Namun, faktanya Hamas adalah organisasi terlarang. Sebuah ancaman yang nyata,” lanjutnya.

AS Serukan Jeda Kemanusiaan, tapi Kirim Bantuan Militer ke Israel
 
Joe Biden menyerukan jeda kemanusiaan untuk mengevakuasi warga asing dan sandera dari Gaza, namun AS juga bersedia mengirim bantuan militer ke Israel di tengah meningkatnya serangan.

Senada dengan perkataannya, pemerintahan Joe Biden menyiapkan langkah diplomatik AS di Israel dengan mengukuhkan duta besar AS di sana.

Jack Lew akan ditugaskan sebagai duta besar AS di Israel untuk mengupayakan kondisi jeda kemanusiaan guna mengatasi memburuknya kondisi kemanusiaan yang dihadapi warga sipil Palestina.

Dalam sidang Senat AS pada Rabu (1/11/2023), Jack Lew mengatakan akan memastikan Israel memiliki apa yang dibutuhkan untuk mempertahankan diri, mengulangi narasi Israel soal perang melawan Hamas yang menewaskan lebih dari 9.000 warga sipil Gaza.

Meski Joe Biden mendukung jeda kemanusiaan, ia sebelumnya mengatakan AS mendukung Israel sepenuhnya dan bersedia mengirim bantuan militer yang dibutuhkan.

AS Tolak Gencatan Senjata di Gaza

Dukungan tanpa syarat AS terhadap Israel ini memicu meningkatnya kritik dan tuduhan kepada pemerintahan Joe Biden yang mengabaikan kekejaman yang dilakukan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) terhadap penduduk sipil di Gaza.

Di tengah protes yang meningkat di AS, Gedung Putih tidak menyerah untuk mendukung Israel.

Bahkan, AS menolak gencatan senjata di Gaza dalam voting yang diadakan oleh Majelis Umum Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat (26/10/2023) lalu.

Hamas Palestina vs Israel

Dukungan AS kepada Israel ini menyusul ketegangan terbaru yang terjadi setelah militan Hamas Palestina menyerang Israel melalui perbatasan Jalur Gaza pada Sabtu (7/10/2023) pagi.

Serangan itu adalah respons terhadap kekerasan yang dilakukan Israel terhadap Palestina selama ini.

Hamas menculik kurang lebih 200 warga Israel dan meluncurkan ratusan roket, yang menewaskan 1.538 warga Israel.

Israel membalas serangan dengan membombardir Gaza, yang diyakini sebagai pusat komando Hamas.


Sementara itu, lebih dari 9.061 warga Palestina meninggal dunia, termasuk 3.760 anak-anak dan 2.326 perempuan di Gaza hingga Kamis (2/11/2023), dikutip dari Al Jazeera.

Jumlah itu termasuk 256 warga sipil yang tewas terkena serangan udara Israel hari ini.

Rumah Sakit al-Shifa menerima 2.600 laporan orang hilang, termasuk 1.150 anak-anak hilang atau terkubur di bawah reruntuhan.

Selain itu, serangan Israel menewaskan 135 staf medis tewas dan menghancurkan 25 ambulans.

Bahkan, 16 rumah sakit tidak berfungsi di Gaza, dan 32 fasilitas perawatan medis tidak beroperasi.

Sumber: Tribunnews
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita