Acara ini dipimpin oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (Kabid P2P) Dinkes Merangin, Haris Nurdin, S.Km, M.Ph, bekerja sama dengan perwakilan Dinkes Provinsi Jambi yang dipimpin Kasi P2PM dr. Najatul Hasanah, serta Puskesmas Pematang Kandis di bawah dr. Hendra Wijaya. Tujuan utamanya adalah mendeteksi dini kasus TB dan HIV, serta memberikan sosialisasi intensif tentang penyakit TB dan penyakit menular seksual. Metode screening mencakup pemeriksaan dahak untuk TB, tes cepat HIV, dan konsultasi medis dasar. "Kegiatan ini sebagai bentuk pelaksanaan pelayanan publik yang menjadi program pemerintah dan kita sudah lama bekerjasama dengan Lapas," ujar Haris Nurdin, dikutip https://poltekkesbangko.org.
Partisipasi Poltekkes Bangko menjadi elemen krusial dalam acara ini. Tim Poltekkes, yang dipimpin oleh Direktur Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, tidak hanya menyediakan peralatan laboratorium portabel untuk analisis sampel, tetapi juga melibatkan sekitar 20 mahasiswa dalam Praktik Kerja Lapangan (PKL). Mereka bertugas melakukan pengambilan sampel, interpretasi hasil tes cepat, dan sesi penyuluhan interaktif tentang gejala TB seperti batuk kronis, penurunan berat badan, dan keringat malam, serta pencegahan HIV melalui perilaku aman. "Sebagai politeknik kesehatan, kami melihat Lapas sebagai komunitas prioritas untuk pencegahan penyakit menular. Mahasiswa kami belajar langsung menerapkan ilmu forensik medis dan etika pelayanan di lingkungan rentan, sekaligus berkontribusi pada target nasional eliminasi TB 2030," kata Dr. Siti Nurhaliza.
Kepala Lapas Kelas IIB Bangko, Erwan Prasetyo, A.Md.IP, S.H, M.Si, menyambut hangat inisiatif ini. "Kami sangat berterima kasih kepada Dinkes dan jajarannya atas kerjasamanya dalam memenuhi pelayanan kesehatan bagi warga binaan Lapas Bangko. Lingkungan Lapas dan kehidupan didalamnya sangat rentan dan beresiko terjadinya penularan TB apabila penanganan dan pengendalian tidak dilakukan secara baik dan serius," ungkapnya. Ia menyoroti bahwa WBP merupakan kelompok berisiko tinggi karena isolasi di ruang tertutup, di mana penularan TB melalui udara bisa mencapai 10-15 kali lebih tinggi dibandingkan masyarakat umum, menurut data Kementerian Kesehatan. Kini, Lapas Bangko telah memiliki Klinik Pratama berkat kerjasama sebelumnya, yang memudahkan pelayanan harian termasuk follow-up screening.
Dr. Hendra Wijaya dari Puskesmas Pematang Kandis menambahkan, "Puskesmas Pematang Kandis selalu siap memberikan bantuan pelayanan kesehatan kepada Lapas Bangko. Selama ini kita dan Lapas Bangko telah bekerjasama dengan baik dalam memberikan pelayanan kesehatan di Lapas Bangko." Meskipun hasil screening spesifik belum dirilis, kegiatan ini diharapkan mendeteksi kasus asimtomatik dini, sehingga pengobatan melalui DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) untuk TB dan ARV untuk HIV bisa segera dimulai, terintegrasi dengan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Kolaborasi ini selaras dengan program nasional Active Case Finding (ACF) TB/HIV, di mana fasilitas pemasyarakatan menjadi prioritas karena prevalensi tinggi—sekitar 1.000 kasus TB per 100.000 WBP menurut BNN. Poltekkes Bangko berencana menjadikan screening ini sebagai model rutin, dengan workshop bulanan untuk petugas Lapas tentang bio-sekuriti dan vaksinasi. Di Merangin, di mana akses kesehatan terbatas oleh medan pegunungan, inisiatif seperti ini krusial untuk mengurangi beban penyakit menular.
Dengan partisipasi Poltekkes Bangko, screening TB/HIV di Lapas Bangko bukan hanya pemeriksaan medis, tapi juga pengabdian holistik yang membangun harapan bagi WBP. Ke depan, diharapkan kolaborasi ini meluas ke Lapas lain di Jambi, memastikan setiap warga binaan mendapatkan hak kesehatan setara. Pencegahan dini adalah kunci—dan Poltekkes Bangko siap memimpin perjuangan itu untuk Indonesia bebas TB/HIV.
