Nasib Jalan Layang Non Tol Warisan Ahok, Mangkrak dan Dihuni Gelandangan

Nasib Jalan Layang Non Tol Warisan Ahok, Mangkrak dan Dihuni Gelandangan

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO -  Jalan Layang Non Tol (JLNT) yang merupakan warisan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta kini memprihatinkan. Pasalnya, JLNT itu dibiarkan terbengkalai selama bertahun-tahun dan dihuni gelandangan. 

JLNT dibangun pada 2015 di sepanjang kawasan Pluit barat dari Pluit Utara ke Pluit Selatan, Jakarta Utara. Sumber dana pembangunan ini adalah Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan pengembang swasta yakni PT Agung Podomoro Group.

Jalan sepanjang 10,1 kilometer yang dibangun selebar 10 hingga 11 meter itu untuk menghubungkan Jalan Pluit City menuju Tol bandara Soekarno Hatta dan Tol Tanjung Priok.

Ahok saat itu mengklaim pembangunan JLNT ingin dibangun di bawah alias setara dengan jalur sebelahnya yakni Jalan Pluit Barat Dya. Namun karena untuk mengurangi kemacetan saat pembangunan, konsep jalan layang pun yang disetujui.

Meski disetujui, perhitungan pembiayaan pembangunan mengalami kenaikan hingga 4 kali lipat dari harga yang disepakati. 

"Jadi untuk pengawasan pengerjaan jalan layang harus sesuai standar Pemprov DKI. Dan sudah harus kelar 2016," kata Ahok pada 2015 lalu.

Proses pembangunan JLNT ini justru menuai pro dan kontra warga setempat. Warga yang mendukung melihat manfaat dari JLNT ini. Namun warga yang menolak beralasan proyek ini mengganggu kenyamanan warga dan menimbulkan beragam masalah.

Pembangunan JLNT ini dinilai membuat jalur sekitar JLNT Pluit tergenang air mencapai 5 hingga 10 cm. Pasalnya pada proses pembangunan JLNT itu dibuat pula pipa air PT Palyja yang retak hingga 2 meter.

Setelah dibangun, proyek JLNT tidak pula. Kondisi jalur itu justru semakin memprihatinkan karena tidak ditindaklanjuti.

Di sisi utara jalan layang yang berhubungan dengan Jalan pluit Barat Raya tertutup tumpukan tanah dan beton pembatas jalan. Selain itu, banyak pula rerumputan dan tumbuhan merambat di dalamnya.

Terlihat penghubung jalan layang ini belum dibeton dan hanya banyak batu dan kerikil. Sepanjang jalur JLNT juga banyak retakan dan kerikil.

Kemudian pada bahu jalan, dibangun pembatas jalan yang tingginya kurang lebih 1,5 meter. Namun ada celah di pembatas jalan dan sisa tiang lampu jalan sekitar setiap 20 meter.

Sumber: suara
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita