Bripka Madih, Pelapor Duit Pelicin Dijemput Petugas untuk Pemeriksaan di Polda Metro Jaya

Bripka Madih, Pelapor Duit Pelicin Dijemput Petugas untuk Pemeriksaan di Polda Metro Jaya

Gelora Media
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO -Bila Bripka Madih menyatakan dimintai duit pelicin dan lahan, ada pelapor yang menyatakan ia pemasang patok tanah di rumah warga.

Pada Senin (6/2/2023), anggota Provos Polsek Jatinegara, Bripka Madih yang menyatakan diminta uang pelicin dan sebidang tanah oleh penyelidik TG di Polda Mtero Jaya saat mengurus tanah orangtuanya, menjalani pemeriksaan di Bid Propam Polda Metro Jaya.

Dikutip dari kanal News Suara.com, istri Madih, Seli menyatakan bahwa Bripka Madih diperiksa Bid Propam Polda sejak pagi.

"Sedang diinterogasi saja, sebentar," demikian paparnya pada Senin.

Seli juga menambahkan bahwa dalam pemeriksaan kali ini, pihak kepolisian Polda Metro Jaya menjemput suaminya langsung dari rumah.

"Dijemput Pak Kanit Paminal," kata Seli.

Bripka Madih masuk ruang pemeriksaan mulai pukul 09.00 WIB pagi, hingga pukul 18.35 WIB belum keluar gedung Bid Propam Polda Metro Jaya.

Selain menyatakan adanya pemerasan dari pihak penyidik Polda Metro Jaya,  Bripka Madih menyatakan tanah milik orangtuanya kini menjadi hak pihak lain.

Sementara itu di sisi lain, warga RT 4, RW 3, Jatiwarna, Bekasi, Jawa Barat menggeruduk Polda Metro Jaya guna melaporkan anggota Polsek Jatinegara, Bripka Madih, karena pematokan lahan.

"Hari ini saya mendampingi warga kami yang di RT 04, RW 03, untuk pengaduan kepada Bripka Madih karena telah memasuki pekarangan tanpa izin dan memasang patok dan pos di depan rumah warga kami, hanya itu yang kami laporkan tidak lebih tidak kurang," jelas Nur Asiah di Polda Metro Jaya, Senin.

Ia menyatakan Bripka Madih mulai memasang patok di depan rumah warga pada Selasa (31/1/2023) sekira pukul 14.00 WIB. Ada dua rumah warga yang dipatok, yaitu rumah Soraya, dan Victor.

"Punya saya 100 m. Data yang lain saya tidak tahu," papar Soraya di Polda Metro Jaya, Senin.

Soraya menambahkan kejadian patok tanah peninggalan orangtuanya bermula ketika Bripka Madih datang ke lokasi tanah yang dianggap warisan orangtua Bripka Madih.

Saat itu ada sekitar 10 orang turut bersama Bripka Madih. Saat itu Soraya yang ketakutan hanya bisa melihat tanahnya dipatok dari jendela rumah.


"Ada juga orang yang bawa pacul. Jadi tidak di dalam pekarangan saya, tapi di depan gerbang. Saya juga cuma melihat dari balik jendela rumah," jelas Soraya.

Setelah orang-orang yang dibawanya menancapkan patok, Bripka Madih kembali lagi membawa pos atau saung yang terbuat dari baja ringan. Lantas membentangkan spanduk soal penyerobotan lahan. Tepat di depan pagar rumah Soraya.

Akibatnya, akses jalan keluar-masuk rumah Soraya terganggu terutama jika menggunakan mobil.

Sumber: suara
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita