Istana Presiden Irak Diserang, 15 Pengunjuk Rasa Tewas

Istana Presiden Irak Diserang, 15 Pengunjuk Rasa Tewas

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Sedikitnya 15 orang pengunjuk rasa tewas dalam unjuk rasa yang berujung penyerangan istana presiden Irak pada Senin (29/8), menyusul pengumuman mundurnya Muqtada al-Sadr, seorang ulama Syiah yang berpengaruh, dari dunia politik.

Para pengunjuk rasa yang setia kepada ulama Muqtada al-Sadr merobohkan penghalang semen di luar istana dan  menerobos gerbang istana.

Bak sebuah pesta, pengunjuk rasa terus menerobos masuk dan menjelajahi semua ruang demi ruang, duduk-duduk di kursi megah, bersorak, menari-nari, berfoto, bahkan berenang. Sebagian lainnya bentrok dengan pasukan keamanan.

Di luar istana, terdengar suara tembakan. Sedikitnya tujuh peluru jatuh di Zona Hijau dengan keamanan tinggi, yang menampung gedung-gedung pemerintah dan misi diplomatik, menurut sumber keamanan,seperti dikutip dari AP

Tidak segera jelas siapa yang berada di balik penembakan itu, tetapi kabar beredar, beberapa tewas termasuk satu tentara dari divisi pasukan khusus, yang bertanggung jawab atas keamanan di Zona Hijau.

Sumber keamanan mengatakan pendukung Sadr melepaskan tembakan ke Zona Hijau dari luar, menambahkan bahwa pasukan keamanan yang berada di dalam "tidak menanggapi".

Laporan menyebutkan bahwa 15 pendukung Sadr tewas oleh tembakan dan 350 pengunjuk rasa lainnya terluka.

Pada Senin malam Militer Irak mengumumkan pemberlakuan jam malam nasional, dan perdana menteri sementara menangguhkan sesi Kabinet sebagai tanggapan atas kekerasan tersebut.

AP dalam laporannya pada Selasa (30/8) menginformasikan bahwa Senin malam, Saraya Salam, milisi yang bersekutu dengan al-Sadr bentrok dengan kelompok keamanan Pasukan Mobilisasi Populer (PMF). Sebuah pasukan kecil dari divisi pasukan khusus dan Divisi 9 Angkatan Darat Irak juga bergabung untuk menahan gerilyawan ketika bentrokan berlanjut selama berjam-jam di dalam Zona Hijau, pusat pemerintahan Irak.

PMF adalah kelompok payung yang terdiri dari kelompok-kelompok paramiliter yang didukung negara, yang paling kuat bersekutu dengan saingan al-Sadr di kubu politik yang didukung Iran.

Gemuruh tembakan senapan mesin bergema di seluruh Baghdad tengah, membuat suasana begitu mencekam.

Irak telah terperosok dalam kebuntuan politik sejak pemilihan legislatif pada Oktober tahun lalu, karena ketidaksepakatan antara faksi-faksi Syiah mengenai pembentukan koalisi.

Pendukung Sadr telah menyerukan agar parlemen dibubarkan dan untuk pemilihan baru. Mereka berminggu-minggu  melakukan aksi duduk di luar parlemen Irak, setelah menyerbu interior legislatif pada 30 Juli, untuk mendesak tuntutan mereka.

Sumber: rmol
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita