Risma Paksa Anak Tunarungu Berbicara, Arief Poyuono: Itu Naluri Keibuan

Risma Paksa Anak Tunarungu Berbicara, Arief Poyuono: Itu Naluri Keibuan

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Aksi Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini memaksa seorang anak penyandang tunarungu untuk berbicara di acara Peringatan Hari Disablitas Internasional menuai sorotan.

Salah satu pihak yang menyoroti aksi mantan Wali Kota Surabaya itu ialah Politisi Gerindra Arief Poyuono. 

Melansir dari Wartaekonomi.co.id, Poyuono justru menyebut tindakan Risma memaksa seorang anak tunarungu untuk berbicara adalah bagian dari naluri keibuan.

"Saya rasa itu bagian dari seorang (Naluri) keibuan, Mensos Risma yang memang ingin sekali anak yang tuna rungu itu bisa bicara," ujar Arief Poyuono Jumat (3/12/2021).

Poyuono lantas menyebut ada pesan politik di balik sikap Risma tersebut.

"Artinya, juga bisa dikatakan ini sebuah pesan dari Mensos untuk para menteri dan para elit politik bahwa tuna rungu wicara harus banyak diperhatikan," ucapnya.

Poyuono lebih lanjut mengatakan bahwa naluri keibuan Mensos Risma kadang terbawa dalam emosinya saat sedang menjalankan tugas sebagai menteri.

"Itu Mensos Risma yang kadang naluri keibuan terbawa dalam emosinya saat menjalankan tugas tugas kesehariannya," jelasnya.

Menteri Sosial Tri Rismaharini dikritik seorang pria Tunarungu karena dinilai memaksa seorang anak yang menyandang tunarungu untuk berbicara di hadapan publik.

Dalam video yang tayang di kanal Youtube Kemensos RI tampak Risma meminta seorang anak penyandang tunarungu untuk berbicara di acara Peringatan Hari Disabilitas Internasional.

Hal itu lantas dikritik oleh pria yang juga menyandang tunarungu. Pria tersebut bernama Stefanus, perwakilan dari Gerakan untuk Kesejahteraan tunarungu Indonesia (Gerkatin).

Pria tersebut tampak berbicara menggunakan bahasa isyarat yang kemudian diterjemahkan langsung oleh juru bicara bahasa isyarat.

"Ibu. mohon maaf, saya mau berbicara dengan ibu sebelumnya. Bahwasanya anak tuli itu memang menggunakan alat bantu dengar tapi tidak untuk kemudian dipaksa bicara. Tadi saya sangat kaget ketika ibu memberikan pernyataan. Mohon maaf, Bu, apa saya salah?" ucap Stefanus.

"Nggak, nggak," jawab Risma.

"Saya ingin menyampaikan bahwasanya bahasa isyarat itu penting bagi kami, bahasa isyarat itu adalah seperti mata bagi kami, mungkin seperti alat bantu dengar. Kalau alat bantu dengar itu bisa mendengarkan suara, tapi kalau suaranya tidak jelas itu tidak akan bisa terdengar juga," kata Stefanus. [suara]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita