Ternyata Buku Berisi Tulisan Mertua Jenderal Dudung Pernah Diterbitkan Seknas Jokowi Tahun 2015 Lalu

Ternyata Buku Berisi Tulisan Mertua Jenderal Dudung Pernah Diterbitkan Seknas Jokowi Tahun 2015 Lalu

Gelora Media
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Terungkap, buku berisi tulisan-tulisan Mayjen Purn Cholid Ghozali yang merupakan mertua KSAD Jenderal Dudung Abdurrachman, ternyata pernah diterbitkan Seknas Jokowi.

Dari situs http://lib.kemenperin.go.id, terungkap bahwa Seknas Jokowi, Jakarta, pernah menerbitkan buku berjudul ‘Cholid Ghozali dari Belitang ke Leavenworth’ pada tahun 2015 lalu.

Disadur dari situs kemenperin.go.id tersebut, buku berjudul ‘Cholid Ghozali dari Belitang ke Leavenworth’ berisi kumpulan tulisan-tulisan Mayjen Purn Cholid Ghozali.

Secara sepintas buku ini terlihat seperti sebuah biografi. Tapi setelah dibaca, buku setebal xviii + 302 halaman ini, ternyata merupakan kumpulan tulisan Mayjen (Purn) TNI Cholid Ghozali yang sebelumnya tersebar di sejumlah media dalam rentang tahun 1980-an sampai 2015.

Mertua Jenderal Dudung Abdurrachman yaitu Mayjen Purn Cholid Ghozali (ist)


Topik yang ditulis beragam, bukan cuma cerita “sejarah perjuangan bapak” seperti isi buku biografi atau memoar.

Selain tulisan terkait kemiliteran dan pertahanan, sesuai latar belakang Cholid Ghozali sebagai tentara, buku ini juga menghimpun sejumlah tulisan human interest yang menarik untuk dibaca oleh siapa saja.

Ada tulisan tentang sisi humanis presiden-presiden Amerika Serikat. Ada kisah cinta rahasia Laksamana Nelson yang berakhir tragis.

Ada cerita (untold stories) terkait beberapa tokoh yang menentukan perjalanan karir Cholid, antara lain Feisal Tanjung, Akbar Tandjung, dan Taufiq Kiemas.

Juga kenangan Cholid terhadap beberapa orang gurunya saat di SMP, di Kota Palembang, yang berdedikasi dan punya teknik mengajar sangat mengesankan.

Begitu mengesankan, hingga ia bisa terus mengingat apa yang mereka ajarkan.

Seperti diketahui, KSAD Jenderal Dudung yang ditunjuk Presiden Jokowi ini ternyata memiliki kedekatan dengan keluarga Megawati Soekarnoputri.

Jenderal Dudung Abdurrahman secara resmi dilantik Presiden Jokowi menjadi KSAD di Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (17/11).

Meski diketahui dekat dengan Megawati, pengamat politik M Qodari berpendapat, Jenderal Dudung dipilih Jokowi lantaran jabatan KSAD harus memiliki pangkat letnan jenderal.

Di samping itu, Jenderal Dudung merupakan junior dari Jenderal Andika Perkasa.

“Nah kenapa dari sekian jenderal yang terpilih Pak Dudung? Yang pertama terkait juga dengan angkatan. Kan Panglima TNI sekarang 87, berarti KSAD-nya bagus kalau lebih muda yaitu 88 atau 89 atau seterusnya,” kata Qodari lewat keterangan tertulisnya, Rabu (17/11).

“Yang memenuhi, angkatan ini Pak Dudung ketimbang misalnya Wakil KSAD sekarang seingat saya (angkatan) 87 sama dengan Panglima TNI,” imbuhnya.

Selain itu, Qodari menilai Jenderal Dudung memiliki kepribadian yang berani dan tegas ketika berhadapan dengan elemen-elemen intoleransi.

Terbukti Jenderal Dudung kala menjabat sebagai Pangdam Jaya berani mencabut atribut FPI.

“Dulu waktu jadi Pangdam Jaya itu berani mencopot atribut Rizieq Shihab FPI. Dan kita tahu Rizieq Shihab sendiri sudah berusaha mencegah Pak Dudung jadi KSAD dengan mengeluarkan imbuan boikot terhadap Pak Dudung,” ucapnya.

Dia menambahkan, kedekatan dengan keluarga Megawati juga dianggapnya sebagai nilai plus Jenderal Dudung dipilih istana untuk menggantikan Jenderal Andika Perkasa.

“Yang ke empat saya kira juga Bu Mega PDIP merasa nyaman dengan Pak Dudung, karena Pak Dudung ini kan menantunya almarhum Mayor Jenderal Cholid Ghozali, salah satu tokoh asal Palembang yang notabene dekat dengan almarhum Taufik Kiemas,” katanya lagi.

“Jadi ibaratnya dengan keluarga Pak Dudung itu Bu Megawati itu sudah kenal lama. Nah saya kira semua variabel itu membuat akhirnya pilihan jatuh ke Pak Dudung,” tutupnya lagi.[pojoksatu]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita