Bandara Uganda Diambil Cina karena Gagal Bayar Utang, Said Didu: Semoga Tidak Terjadi di Indonesia
logo

29 November 2021

Bandara Uganda Diambil Cina karena Gagal Bayar Utang, Said Didu: Semoga Tidak Terjadi di Indonesia

Bandara Uganda Diambil Cina karena Gagal Bayar Utang, Said Didu: Semoga Tidak Terjadi di Indonesia


GELORA.CO - Mantan Sekretaris Menteri BUMN, Said Didu mengomentari kabar bahwa bandara milik Uganda diambil alih Cina karena negara tersebut gagal membayar utang.

Said Didu mengatakan bahwa hal seperti ini sudah banyak terjadi di negara lain dan ia berharap tak terjadi Indonesia.

“Sudah banyak fakta di negara lain seperti ini. Semoga tidak terjadi di Indonesia,” kata Said Didu melalui akun Twitter pada Minggu, 28 November 2021.

Dilansir dari Tempo, memang dikabarkan bahwa Cina mengambil alih Bandara Internasional Entebbe Uganda di Afrika Timur karena gagal membayar utang.

Daily Monitor menyebutkan dalam laporannya bahwa pemerintah Uganda telah gagal mengembalikan pinjaman ke Cina. 

Pada tahun 2015, Bank Ekspor-Impor (EXIM) Cina meminjamkan US$ 207 juta kepada Uganda dengan bunga dua persen pada saat pencairan. 

Pinjaman yang digunakan untuk perluasan bandara Entebbe tersebut berjangka waktu 20 tahun.

Dilansir dari Time of India, pekan lalu, Menteri Keuangan Uganda, Matia Kasaija telah meminta maaf kepada Parlemen karena salah menangani pinjaman multi-juta dolar. 

Menurut laporan media terbaru, delegasi pejabat Uganda juga mengunjungi Cina di awal tahun ini untuk menegosiasikan kembali klausul perjanjian pinjaman.

Namun, dikutip dari Op India, laporan pengambilalihan Bandara internasional ke Cina ini dibantah pejabat Uganda dan juga Kedutaan Besar Cina di Uganda.

Pada Sabtu, 28 November 2021, Juru bicara Otoritas Penerbangan Sipil Uganda (UCAA) menepis laporan media yang mengklaim bahwa Cina akan mengambil alih satu-satunya bandara internasional tersebut.

Dalam utas Twitter, juru bicara UCAA, Vianney M Luggya mengatakan pemerintah Uganda tidak bisa menyerahkan aset nasional tersebut.

“Pemerintah Uganda tidak dapat memberikan aset nasional seperti itu. Kami telah mengatakannya sebelumnya dan mengulangi bahwa itu tidak terjadi,” tegasnya.

Luggya mengakui bahwa dana UCAA disimpan dalam rekening escrow (aset yang dipegang oleh pihak ketiga atas nama dua pihak lain selama proses transaksi). 

Namun, menurutnya, hanya pemerintah Uganda yang memiliki kendali terhadap rekening tersebut.

Luggya juga menambahkan bahwa pinjaman dari Bank of Cina itu memiliki tenggang waktu 7 tahun. 

Selama periode tersebut, katanya, Pemerintah Uganda hanya membayar bunga dan bukan jumlah pokok.

Artinya, masa tenggang belum berakhir, pemerintah Uganda juga belum gagal membayar pembayaran bunga. 

Luggya pun meyakinkan bahwa Bandara Internasional Entebbe berada di tangan yang aman. [terkini]