Singgung NU, Faizal Assegaf: Fanatisme pada Gus Dur adalah Bentuk Perbudakan Akal

Singgung NU, Faizal Assegaf: Fanatisme pada Gus Dur adalah Bentuk Perbudakan Akal

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Aktivis politik, Faizal Assegaf menyinggung soal fanatisme kader Nahdlatul Ulama atau NU terhadap ulama kharismatik almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Faizal Assegaf lewat kicauannya di Twitter, Jumat 22 Oktober 2021, menyebut fanatisme NU terhadap Gus Dur merupakan bentuk perbudakan.

Oleh karena itu, ia memperingatkan kepada pentolan-pentolan NU dan para loyalisnya agar tak fanatik terhadap Gus Dur.

Sebab, kata Faizal, Islam hadir sebagai ajaran yang melepaskan umat dari perbudakan. Sementara sikap fanatisme itu merupakan bentuk nyata perbudakan.

Selain Gus Dur, Faizal Assegaf juga menyinggung sikap fanatisme kader NU terhadap sosok pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia itu yakni KH Hasyim Asy’ari.

“Saya ingatkan kalian dedengkot NU & loyalisnya, Islam hadir sebagai ajaran yang melepaskan segala bentuk perbudakan. Fanatisme & asabiah pd Hasyim Asy’ari & Gusdur, adalah bentuk nyata perbudakan akal yang menyesatkan!,” ujar Faizal.

Lebih lanjut, Faizal Assegaf juga menilai umat Islam di Indonesia tidak butuh dengan keberadaan NU maupun embel-embel Gus Dur dan Hasyim Asy’ari.

“Islam tidak butuh NU, Gusdur & embel-embel Hasyim Asy’ari. Kualat kalian!,” tegasnya.

Pasalnya, menurut Faizal, umat Islam di Indonesia sudah sangat cerdas. Maka dari itu, ia meminta agar NU tak usah merasa benar sendiri.

“Umat Islam sangat cerdas, urusan ponsel aja mereka bisa bedakn yang orisinil & KW. Jangan ngotot & merasa paling benar,” tuturnya.

Selain itu, Faizal Assegaf juga menyebut ajaran Gus Dur dan Hasyim Asy’ari yang menjadi rujukan NU tidaklah mutlak bagi umat Islam di Tanah Air.

“Hasyim Asy’ari & Gusdur bukan rujukan mutlak. Umat yang waras di republik ini punya banyak akses pada sumber-sumber ilmu Islam yang otentik & jauh dari umbul-umbul ormas yang manipulatif,” ujarnya. [terkini]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita