Kisah Danjen Kopassus Pertama yang Ternyata Bekas Sopir Ratu Belanda
logo

5 Oktober 2021

Kisah Danjen Kopassus Pertama yang Ternyata Bekas Sopir Ratu Belanda

Kisah Danjen Kopassus Pertama yang Ternyata Bekas Sopir Ratu Belanda


GELORA.CO - Komando Pasukan Khusus (Kopassus) merupakan pasukan elite di bawah naungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat. Sebelum menjadi Kopassus yang dikenal sekarang, terdapat sosok yang berperan besar dalam berdirinya pasukan yang awalnya bernama Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) ini.

Adalah Rokus Bernardus Visser atau lebih dikenal Mochammad Idjon Djanbi, yang menjadi pelopor berdirinya Kopassus ini. Baca Juga: Ketika Preman Terminal Menjadi Prajurit Elite TNI.

Lahir pada 13 Mei 1914, Visser muda sempat berada di London, Inggris saat Perang Dunia II. Awalnya, Visser berada di Inggris karena ingin membantu ayahnya jadi pedagang bola lampu. Namun, setelah Jerman menguasai Inggris, Visser memilih untuk kembali berdinas sebagai tentara.

Namun, di Belanda, Visser ternyata hanya ditugaskan menjadi sopir Ratu Wilhelmina yang saat itu juga berada di Inggris. Sempat keluar ketentaraan, Visser masuk lagi dan bergabung ke Pasukan Belanda ke-2 sebagai operator radio.

Di pasukan ini, Visser akhirnya ikut terjun ke pertempuran di Perang Dunia (PD) II pada Operasi Market Garden, pendaratan sekutu dengan terjun payung di Arnhem pada September 1944. Visser juga sempat kembali ke Belanda tahun 1947.

Dirinya harus menerima kenyataan pahit dalam bentuk perceraian, lantaran sang istri tidak mau mengikuti Visser diajak ke Indonesia. Sekembalinya ke Indonesia, Visser dipromosikan jadi kapten, untuk menjabat pelatih kepala hingga 1949.

Pada masa itu, terjadi peristiwa pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) dari Kerajaan Belanda. Visser memutuskan pensiun menjadi tentara dan memilih jadi petani di Lembang, Bandung bersama istri barunya keturunan Sunda. 

Visser yang sudah jadi mualaf dan berganti nama jadi Mochammad Idjon Djanbi, kedatangan seorang tamu familiar. Tahun 1951, Letda Sugianto, yang saat itu merupakan ajudan Kolonel Alexander Evert Kawilarang, Panglima Komando Tentara Teritorioum III/Siliwangi, membutuhkan jasa Idjon Djanbi di TNI.
Kawilarang mempunyai harapan untuk mewujudkan permintaan salah satu temannya yang tewas dalam pemberantasan Republik Maluku Selatan. Kolonel Ignatius Slamet Rijadi, kolega Kawilarang, ingin membuat pasukan khusus dengan kualifikasi para-komando.

Namun, TNI belum punya perwira yang bisa memproduksi prajurit-prajurit berkualifikasi. Nama Idjon Djanbi muncul sebagai salah satu kandidat perwira yang dianggap cocok untuk melatih prajurit TNI baru.

Sugianto akhirnya meminta Idjon melatih para prajurit Kesatuan Komando Tentara Teritorium (Kesko TT-III) Siliwangi di Batujajar, Jawa Barat. Unit inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal Kopassus TNI-AD.

Idjon Djanbi melatih perwira tersebut setelah pengangkatan resmi Menteri Pertahanan RI kala itu, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, di mana Djanbi dianugerahi pangkat mayor. Setelah itu, Mayor Mochammad Idjon Djanbi menjadi komandan “Kopassus” pertama yang saat itu masih bernama Kesko TT III/Siliwangi.

Unit ini sempat berganti-ganti nama, mulai dari RPKAD (Resimen Para-Komando Angkatan Darat), Puspassus AD (Pusat Pasukan Khusus Angkatan Darat), Kopassandha (Komando Pasukan Sandi Yudha) dan kemudian Kopassus TNI AD. 

Idjon Djanbi mengalami kenaikan pangkat saat RPKAD tengah berulang tahun pada 1969, dari mayor menjadi letnan kolonel. Idjon Djanbi mangkat akibat penyakit usus buntu dan usus besar, hingga dimakamkan di TPU Kuncen, Yogyakarta pada 1 April 1977.

Di tengah perjalanannya, Kopassus saat ini memiliki 5 grup dari sebelumnya 3 grup. Kelimanya adalah Grup 1/Parakomando berlokasi di Serang, Grup 2/Parakomando berlokasi di Kartasura, Grup 3/Pusat Pendidikan Pasukan Khusus — berlokasi di Batujajar, Grup 4/Sandhi Yudha berlokasi di Cijantung dan Grup 5/Anti Teror yang juga berlokasi di Cijantung, Jakarta Timur.

Nama besar Kopassus sudah menuai banyak pengakuan dan pujian dunia internasional, berkat keberhasilan sejumlah operasi khusus. Seperti Operasi Woyla, penugasaan di Timor Timur, Aceh dan lain sebagainya.

Satuan elite yang bermarkas di Cijantung, Jakarta Timur itu bahkan pantas disandingkan dengan pasukan komando negara lain macam SAS (Special Air Service) Inggris dan Delta Force Amerika Serikat. [okezone]
close
Subscribe