Karam DPD Depok Imbas Dualisme Partai Ummat
logo

10 Oktober 2021

Karam DPD Depok Imbas Dualisme Partai Ummat

Karam DPD Depok Imbas Dualisme Partai Ummat


GELORA.CO - DPD Partai Ummat Depok karam. Masalah dualisme kepengurusan Partai Ummat dituding menjadi salah satu pemicu karamnya DPD Depok.

Kabar soal karamnya Partai Ummat Depok itu dibenarkan Wakil Ketua DPD Partai Ummat Kota Depok, Syahrial Chan. Dia mengatakan mayoritas pengurus DPD Partai Ummat Depok membubarkan diri.

"Iya. Mayoritas pengurus membubarkan diri. Dijamin kebenarannya, Partai Ummat Depok akhirnya karam," kata Syahrial saat dimintai konfirmasi, Sabtu (9/10/2021).

Syahrial mengatakan pengunduran diri mayoritas pengurus itu terjadi karena berbagai persoalan yang disebutnya tak mampu diselesaikan DPP Partai Ummat. Salah satunya, kata Syahrial, ada dualisme dalam kepengurusan Partai Ummat di sejumlah daerah.

"Kemunduran sahabat-sahabat pengurus karena berbagai persoalan yang tidak mampu diselesaikan oleh DPP. Ditambah statement Waketum kemarin di media yang mengatakan ada dualisme," kata Syahrial.

"Persoalannya, apakah Waketum mampu menunjukkan SK lain selain SK yang diberikan kepada kami dan persoalan lain adalah 10 kabupaten/kota di Jabar mengalami hal yang sama," tambahnya.

Syahrial juga curhat soal pengurus DPD Partai Ummat Depok yang sudah bekerja keras hingga mendapat SK Kemenkumham namun malah mendapat hadiah yang menyakitkan. Hadiah pahit itu disebutnya menjadi penyebab mayoritas pengurus mundur.

"Setelah kami bekerja hingga DPP akhirnya lolos jadi partai malah kami dihadiahi untuk meleburkan kelompok lain, bagi kami itu menyakitkan. Seperti hanya dimanfaatkan saja, habis manis sepah dibuang. Kasus Bogor sama dan sembilan kabupaten lainnya," ucapnya.

"Kasusnya mirip-mirip. Di saat kita sudah bekerja malah disuruh berbagi struktur dengan kelompok yang sama sekali tidak punya andil apapun saat pendirian partai. Jadi wajar bertanya kenapa memaksakan kami?" sambung Syahrial.

Dualisme Partai Ummat
Wakil Ketua Umum Partai Ummat, Nazaruddin, menyebut ada dualisme kepengurusan di sejumlah daerah. Hal itu menyebabkan beberapa kader Partai Ummat mundur.

"Ada hal-hal yang itu mungkin tidak sesuai dengan ekspektasi dirinya begitu. Nah yang saya maksud ekspektasi ini bukan sesuatu yang sifat idealisme atau ideologis tapi adalah dirinya begitu," kata Nazaruddin kepada wartawan, Rabu (6/10).

"Yang kedua, di beberapa daerah itu memang terjadi dualisme kepengurusan. Kemudian kalau ada mundur, geser dan sebagainya itu bagian dari upaya penyelesaian dualisme-dualisme itu," sambung Nazaruddin.

Nazaruddin menyebut Amien Rais tak perlu turun tangan mengatasi masalah ini. Dia mengatakan Amien yang menjabat sebagai Ketua Majelis Syuro Partai Ummat tak perlu memberikan komentar soal mundurnya dua elite partai.

"Iya nggak perlu lah (Pak Amien turun tangan). Apalagi itu mundur, mau turun tangan diapain wong mundur," kata Nazaruddin.

Karamnya Partai Ummat Depok Dianggap Alamiah
Ketua Umum Partai Ummat, Ridho Rahmadi, menganggap karamnya DPD Partai Ummat Depok merupakan hal yang alamiah. Dia menduga para pengurus mundur karena ada kesibukan lain.

"Depok ya, jadi gini, mengundurkan diri ada beberapa sebab. Mungkin yang pertama kategorinya yang kira-kira alamiah. Alamiah kira-kira, setelah bergabung dengan Partai Ummat, kemudian dengan aktivitas baru di Partai Ummat ini, kadang tidak sinkron dengan pekerjaan, dengan aktivitas-aktivitas pribadinya," jelas Ridho di Kantor DPP Partai Ummat, Jakarta Selatan, Sabtu (9/10/2021).

Ridho mengatakan ada sejumlah pengurus yang melapor kepada dirinya kesulitan mengatur waktu. Menurutnya, posisi yang kosong segera diisi lagi.

"Itu beberapa memang menyampaikan, memang kesulitan untuk mengatur waktu dan segala macam. Itu satu hal, gitu ya, biasanya mengundurkan diri atau nanti ketuanya atau pengurus intinya mengajukan pergeseran," kata Ridho.

"Yang kedua, kategorinya kalau kita lihat, yang datang ke partai ini sedari awal itu barangkali punya kepentingan-kepentingan yang sifatnya pribadi. Ini tidak ideologis, tidak prinsipal, tapi kepentingan pribadi," sambungnya.

Ridho tetap optimistis dengan masa depan Partai Ummat. Dia yakin Partai Ummat dapat menegakkan keadilan di Indonesia.

"Tapi kemudian kami melihat yang coba kami bangun di Partai Ummat. Insyaallah itu adalah kepentingan bersama untuk melawan kezaliman dan menegakkan keadilan, kemudian tidak ada jalan kemudian keluar. Jadi bisa dilihat dari situ," katanya.(detik)
close
Subscribe