Jenderal M. Jusuf Jadi Panglima ABRI Setelah 14 Tahun Tidak Aktif di Militer

Jenderal M. Jusuf Jadi Panglima ABRI Setelah 14 Tahun Tidak Aktif di Militer

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Pada masa Orde Baru, hampir atau bahkan semua jabatan di negara ini ditentukan oleh Soeharto. Termasuk tentang siapa yang menjadi Panglima ABRI, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Termasuk penunjukan Jenderal M Jusuf, jenderal asal Sulawesi Selatan sebagai Panglima ABRI atau dulu sering disingkat Pangab. Siapa yang menduga, 14 tahun tidak memegang tongkat komando dan tak lagi berseragam militer, tiba-tiba saja M Jusuf melesat menjadi Panglima ABRI.

Dan selama 14 tahun tidak aktif dalam militer, ternyata sudah terjadi perubahan cara baris-berbaris. Sehingga, Andi Muhammad Jusuf Amir atau yang dikenal sebagai M. Jusuf atau Jusuf bahkan harus latihan baris berbaris selama tiga hari sebelum pelantikannya.

Kisah mengenai Jenderal M. Jusuf salah satunya tertuang dalam buku Salim Said berjudul "Dari Gestapu ke Reformasi Serangkaian kesaksian". Pangkat terakhir M. Jusuf dalam ABRI adalah Brigadir Jenderal dengan jabatan Panglima Kodam XIV/Hasanuddin. Ia lalu dipromosikan menjadi Menteri Perindustrian Ringan pada 1965 setelah berhasil menumpas pemberontakan Kahar Muzakkar.

Salim Said yang juga pernah menjadi wartawan Tempo itu menulis, jalan M Jusuf menuju Panglima ABRI dimulai saat 1 Oktober 19965 ketika G30S meletus.

Saat itu ia masih berada di Beijing, tapi ia langsung terbang ke Indonesia begitu mendengar kabar kerusuhan. Begitu sampai di Kemayoran, ia tidak segera melapor ke Presiden Soekarno selaku atasannya.

Ia justru pergi ke Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), tempat Soeharto memimpin operasi penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI). Keputusannya itu diduga karena insting politiknya yakin era Soekarno sudah berakhir dan Soeharto-lah yang bakal naik.

M. Jusuf juga turut berperan sebagai king maker. Ia bersama Jenderal Basuki Rahmat dan Jenderal Amir Mahmud mendatangi Soekarno dan mendesaknya untuk mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar yang menjadi legitimasi Soeharto menggantikan Soekarno.

Soeharto lantas membalas jasa mereka. Basuki Rahmat ia jadikan sebagai Menteri Dalam Negeri. Tatkala Basuki mendadak wafat, Amir Mahmud menggantikan posisinya. Berbeda dengan keduanya, Soeharto justru menempatkan Jusuf sebagai pemimpin ABRI.

Penjelasan pengangkatan Jusuf menjadi panglima ABRI bisa ditemukan dalam memoar Jusuf Wanandi, "Shades of Grey". Menurut Wanandi, muncul suara-suara kritis terhadap kebijakan Soeharto, terutama mengenai sikap keras kepada mahasiswa, saat rapat para Jenderal di Markas ABRI pada awal 1978.

Ketika itu, Jusuf selaku Menteri Perindutrian tampil sebagai pendukung utama Soeharto maupun kebijakan-kebijakan kerasnya terhadap mahasiswa. Jusuf bahkan mengancam ia akan melawan setiap usaha pelemahan atau bahkan perebutan kekuasaan itu.

Tapi, dengan cara apa Jusuf melawan para jenderal yang kritis terhadap Soeharto? Tak lama setelah Jusuf memperlihatkan kesetiaannya terhadap Soeharto di depan hampir semua Jenderal, Presiden Soeharto lalu mengangkatnya menjadi Panglima ABRI.

Saat menjadi Panglima ABRI, Jenderal M. Jusuf selalu menyampaikan salam dari Soeharto kepada prajurit yang ia temui. Ia juga sosok yang perhatian. Perhatian dan kunjungannya sontak membuatnya populer di mata prajurit maupun masyarakat. [tempo]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita