Islam Diprediksi Jadi Agama dengan Pengikut Terbanyak pada 2075

Islam Diprediksi Jadi Agama dengan Pengikut Terbanyak pada 2075

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO -  Saat ini Islam telah berkembang menjadi salah satu agama dengan jumlah pemeluk paling banyak di dunia. Dilansir dari worldpopulationreview.org, jumlah umat Islam di dunia mencapai lebih dari dua miliar. Hal tersebut membuat Islam menjadi agama dengan jumlah pemeluk terbanyak kedua di dunia setelah Kristen. 

Namun, beberapa penelitian ternyata menunjukkan bahwa jumlah umat Islam diperkirakan akan mampu melebihi umat Kristen dalam beberapa dekade mendatang. Dilansir dari pewforum.org, jumlah orang Islam diperkirakan akan meningkat sebanyak 73 persen dari total populasinya saat ini. Sementara itu, jumlah umat Kristen juga akan mengalami peningkatan, tetapi hanya sebesar 35 persen. Peningkatan tersebut diperkirakan mampu membuat jumlah orang Islam menyamai jumlah umat Kristen pada 2050.

Peningkatan jumlah orang Islam yang pesat tidak terlepas dari pertumbuhan penduduk muslim di dunia. Dikutip dari npr.org, kebanyakan orang Islam tinggal di negara-negara yang mempunyai laju pertumbuhan penduduk tinggi. Hal tersebut membuat jumlah orang Islam meningkat lebih cepat daripada agama lain. 

Dilansir dari theguardian.com, laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat di negara-negara muslim diperkirakan membuat Islam menjadi agama dengan pengikut terbanyak pada 2075. Selain karena laju pertumbuhan penduduk, menurunnya populasi orang-orang atheis dan agnostik secara global juga diperkirakan akan membuat jumlah orang Islam meningkat. Di sisi lain, jumlah orang Kristen di Eropa dan Amerika diperkirakan akan mengalami penurunan. Hal tersebut membuat 4 dari 10 populasi orang Kristen yang tersisa hanya ada di Afrika. 

Isu perpindahan agama diperkirakan juga akan mempengaruhi jumlah umat Muslim di dunia. Dilansir dari pewresearch.com, banyaknya umat beragama lain yang pindah ke Islam juga membuat jumlah umat Muslim mengalami peningkatan sebanyak 73 persen pada 2050. [tempo]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita