Heldy Djafar, Istri ke-9 Presiden Soekarno Meninggal Dunia

Heldy Djafar, Istri ke-9 Presiden Soekarno Meninggal Dunia

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Istri ke-9 Presiden Soekarno, Heldy Djafar binti Jafar dkabarkan telah meninggal dunia pada 10 Oktober 2021 sekitar pukul 21.55, di Rumah Sakit Cipta Mangun Kusumo (RSCM) Jakarta.

Berdasarkan kabar duka yang beredar melalui pesan singkat, rumah duka terletak di, The Savia, Cluster Visana Blok L6 No. 7, BSD City, Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

"Wafat semalam, 10 Oktober 2021 pada pukul 21.55, di Jakarta. Mohon dimaafkan segala kesalahannya," demikian kabar yang beredar, Senin, 11 Oktober 2021.

Gadis manis berwajah bulat berkulit kuning langsat bernama Heldy ini adalah putri bungsu dari sembilan bersaudara pasangan Djafar dan Hamiah. Heldy lahir pada 10 Agustus 1947 di Tenggarang, Kalimantan Timur.

Hamiah pernah mengatakan, saat mengandung Heldy, dia sempat melihat bulan purnama bulat. Lalu, seorang pria Tionghoa teman suaminya mengatakan, agar Hamiah menjaga bayi yang akan dilahirkannya itu baik-baik.

Setelah menampatkan pendidikan di bangku SMP, Heldy yang sudah tumbuh menjadi remaja putri 16 tahun dan berperawakan mungil itu pun pergi mengikuti jejak kakak-kakaknya ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Cita-citanya menjadi desainer interior.

Di Jakarta Heldy jadi barisan Bhinneka Tunggal Ika. Barisan yang diprakarsai oleh Presiden Soekarno itu terdiri atas remaja putra-putri dari berbagai provinsi. Mereka bagian dari protokol Istana, selalu berdiri berjajar sebagai pagar ayu dan pagar bagus di setiap acara.

Suatu hari di tahun 1964, Heldy berdiri berjajar di tangga Istana Merdeka bersama anggota barisan Bhinneka Tunggal Ika. Hari itu Presiden akan menyambut tim bulutangkis yang baru merebut Piala Thomas.

Tibalah saatnya Bung Karno muncul dan berjalan menapaki anak tangga. Seperti biasa, ia berjalan sambil mengamati kiri dan kanan. Memandang satu demi satu anggota barisan, tersenyum, dan tepat di depan Heldy, Bung Karno mendekat dan menepuk bahu kirinya.

Pada 12 Mei 1965, Bung Karno berkesempatan berkunjung ke rumah Erham tempat Heldy tinggal. Tapi, sebelumnya sejumlah 'orang Istana' tiba di tempat itu terlebih dahulu dan mereka meminta agar ketika Presiden datang, lampu teras dimatikan.

Saat itu, Bung Karno datang dengan penampilan yang sangat berbeda. Tanpa peci, celana panjang hitam, kemeja putih lengan pendek yang kancing atasnya terbuka, bahkan hanya mengenakan sandal.

Di tempat itu, Bung Karno bertemu langsung dengan ayahnda Heldy. Bung Karno dan Djafar pun saling bersapa salam.

Saat itu, Heldy bertugas menghidangkan teh yang dibuatnya sendiri di dalam cangkir terbaik yang ada di rumah itu kepada Bung Karno.

Setelah berbincang cukup lam, akhirnya Bung Karno menyatakan ketertarikannya kepada Heldy di hadapan Djafar. Namun Heldy merasa masih terlalu muda. Heldy meminta agar Bung Karno memilih perempuan lain saja.

 Juni 1966 alias lima hari setelah Bung Karno berulang tahun ke-65. Berita bahagia segera dikabarkan ke Kalimantan. Ayah Heldy yang bersuka cita bergegas ke Jakarta.

Sayang, baru sampai di Samarinda dadanya sakit dan ia dibawa kembali ke Tenggarong. Sehari sebelum akad nikah putrinya, Djafar meninggal dunia karena serangan jantung.

Heldy menjalani upacara pernikahan dengan penuh keprihatinan. Tak ada musik, tak ada gamelan, tak ada kemeriahan. Tak ada harum bunga, tak ada kebaya khusus. Ia hanya bisa memohon petunjuk Tuhan, dan dalam doa minta izin ayahnya untuk menikah dengan Soekarno.

Bung Karno menikahi Heldy Djafar dengan disaksikan Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Idham Chalid, Erham Djafar selaku wali, dan Menteri Agama K.H. Saifuddin Zuhri.[viva]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita