Tutup Telinga Challenge Jadi Tren di Medsos, Berawal Anak Santri Dituding Radikal
logo

16 September 2021

Tutup Telinga Challenge Jadi Tren di Medsos, Berawal Anak Santri Dituding Radikal

Tutup Telinga Challenge Jadi Tren di Medsos, Berawal Anak Santri Dituding Radikal


GELORA.CO - Berawal dari anak-anak pesantren tahfiz quran yang menutup telinganya mendengarkan musik cadas, kini 'tutup telinga challenge' malah menjadi tren di media sosial.

Hal ini diungkapkan oleh wartawan senior Hersubeno Arif dalam Youtube Rocky Gerung Official seperti yang dikutip Indozone, Kamis (16/9/2021).

"Setelah saya buka-buka itu, ternyata ini berkaitan dengan ada satu kelompok anak-anak tahfiz quran, anak-anak kecil menghafal alquran. Mereka ini mau antri vaksin dan ada musik lalu mereka tutup telinganya," kata Hersubeno.

Hersubeno mengatakan kalau aksi tutup telinga santri itu kemudian dinilai radikal.

"Mereka bukan mau radikal. Ini kemudian diframing kalau dia itu radikal. Padahal anak-anak ini supaya bisa menghafal 30 jus alquran, tidak boleh mendengar yang macem-macem dulu," katanya.

Terkait dengan isu radikalisme anak-anak pesantren yang menutup telinga dikecam oleh Yenny Wahid putri dari Gus Dur Presiden Keempat RI.

"Yuk kita lebih proporsional dalam menilai orang lain. Janganlah kita dengan gampang memberi cap seseorang itu radikal, seseorang itu kafir," kata Yenny Wahid.

Dia menjelaskan kalau kegiatan menghafal Quran bukan pekerjaan yang mudah.

"Kawan baik saya, Gus Fatir dari pesantren @ponpespi_alkenaniyah belajar menghafal AlQuran sejak usia 5 th. Beliau mengatakan bahwa memang dibutuhkan suasana tenang dan hening agar lebih bisa berkonsentrasi dalam upaya menghafal Quran," sebutnya.

Yenny menegaskan kalau anak-anak ini oleh gurunya diprioritaskan untuk fokus pada penghafalan Quran dan diminta untuk tidak mendengar musik, itu bukanlah indikator bahwa mereka radikal.

"Menyematkan label pada orang lain hanya akan membuat masyarakat terbelah. Mari kita belajar untuk lebih saling mengerti satu sama lain, dan itu bisa dimulai dengan memahami dan menerima bahwa nilai yang kita anut tidak perlu sama untuk bisa tetap bersatu sebagai bangsa Indonesia. Buat adik-adik ma'had tahfidz, semangat terus ya dalam upaya menghafal Al Quran. Semoga Allah SWT memberikan barokah berlimpah untuk kalian semua," jelasnya. [indozone]
close
Subscribe