Siswi Punya Riwayat Sesak Nafas tapi Divaksin Juga, Akhirnya Masuk RS, Orang Tua Murka

Siswi Punya Riwayat Sesak Nafas tapi Divaksin Juga, Akhirnya Masuk RS, Orang Tua Murka

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Seorang siswa SMK Negeri 1 Lhokseumawe, Khansa Dara Naswa (15) terkapar usai menerima suntikan vaksin covid-19 di sekolah, pada Rabu 22 September 2021 kemarin.

Siswi 15 tahun yang lemas usai divaksinasi itu mengaku sebelumnya telah menyampaikan bahwa dirinya memiliki riwayat menderita sakit sesak sejak kecil. “Saya sudah bilang sama orang medis yang suntik saya, ada riwayat sesak kalo banyak makan pedas, terus dijawab jangan dimakan,” katanya terbata.

Usai divaksin, Khansa terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Orang tua siswi pun mengaku marah dan kecewa saat mengetahui anaknya divaksin covid-19.

Aji Usman (50) selaku ayah siswi asal Blang Weu Panjoe Kecamatan Blang Mangat itu mengaku sangat kecewa karena sebagai orang tua tidak diberitahu apalagi diminta izin anaknya untuk divaksin.

Ia juga berang karena pengakuan anaknya yang mengaku punya riwayat sesak seakan tidak didengar. Bahkan, pria yang mengaku Geuchik Blang Weu Panjoe itu menjelaskan, semua anggota keluarganya sudah divaksin kecuali Khansa.

Gampong (desa) yang ia pimpin telah mengadakan kegiatan vaksinasi di Meunasah, dan Khansa dinyatakan memang tidak boleh divaksin karena punya riwayat sakit sesak sejak masih kecil.

“Termasuk saya sudah divaksin. Alhamdulillah tidak ada gejala apapun. Tapi anak saya itu memang tidak bisa dilakukan vaksin karena ada riwayat sesak napas. Jadi, saat kemarin (Rabu) itu tanpa sepengetahuan kami keluarga divaksin,” jelasnya.

Menurut pengakuan Usman, pihak sekolah tidak memberitahukan apalagi meminta izin kepada dirinya untuk melakukan suntik vaksin terhadap anaknya. “Pihak sekolah kan melakukan vaksinasi dan tidak diberitahukan kepada kami mengenai anak saya divaksin,” ujar Aji Usman.

Orang tua siswa yang menderita sesak dan terkapar usai divaksin itu menuturkan, dirinya sangat kecewa dengan tindakan pihak sekolah dan dinas terkait, yang dinilainya terkesan memaksa vaksinasi terhadap anaknya.

Ia mengaku sama sekali tidak menerima pemberitahuan baik melalui surat atau via telpon terhadap rencana vaksinasi terhadap anaknya.

“Kemudian, dia (korban) dibawa pulang ke rumah oleh adiknya dari sekolah. Saya pun tidak mengetahui atas kejadiannya seperti itu sudah disuntik, karena saya sedang tidak berada di rumah,” ungkapnya.

Setelah mengetahui anak divaksin, ia langsung membawa anaknya ke Rumah Sakit Umum Melati Lhokseumawe untuk mendapatkan perawat agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

“Sampai saat ini masih dipasang selang oksigen, belum bisa dilepas karena masih sesak napas,” bebernya.

Bukan itu saja, dia bahkan mengaku bakal memperkarakan masalah itu secara hukum, agar tidak terulang kembali kepada orang lain. “Insya Allah akan dilaporkan dalam waktu dekat, karena masyarakat juga punya haknya masing-masing,” katanya.

Sementara itu, kepala cabang dinas pendidikan Lhokseumawe Anwar Jalil mewakili Irwan selaku Kepala SMK Negeri 1 mengatakan, dirinya berharap orang tua siswi memaafkan pihak sekolah karena kejadian itu tidak seperti yang diharapkan.

“Kami berharap kepada wali murid tersebut untuk memaafkan karena hal ini adalah hal yang tidak disangka akan terjadi,” katanya.

Ia juga berharap kepada media untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, karena vaksin adalah hal yang penting. “Jangan sungkan untuk memberitahu kepada petugas medis apabila tidak bisa divaksin karena hal tertentu,” katanya. [mr]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita