Ribuan Alutsista AS Kini Dipakai Taliban, Nilainya 9 Kali Belanja Pertahanan RI
logo

9 September 2021

Ribuan Alutsista AS Kini Dipakai Taliban, Nilainya 9 Kali Belanja Pertahanan RI

Ribuan Alutsista AS Kini Dipakai Taliban, Nilainya 9 Kali Belanja Pertahanan RI


GELORA.CO - Ribuan alat utama sistem persenjataan atau Alutsista milik Amerika Serikat (AS) dan NATO tinggal di Afghanistan, menyusul kepulangan seluruh pasukan tersebut pada Selasa (31/8). Semula banyak negara sangsi Taliban akan bisa menggunakan peralatan tempur canggih itu.

Tapi parade yang dilakukan pasukan Taliban di Kandahar, Rabu (1/9) lalu, membalik anggapan tersebut jadi kekhawatiran. Pekan lalu, Taliban memamerkan kepiawaian mereka dalam menjalankan peralatan tempur rampasan dari AS dan pasukan NATO di jalan-jalan Kandahar. 

Mengutip Forbes, perlengkapan tempur yang ditinggalkan AS dan pasukan NATO jumlahnya mencapai ribuan. Mulai dari kendaraan lapis baja berbagai jenis sebanyak 2.000 unit, hingga 100 pesawat. 

Sebuah helikopter mengibarkan bendera Taliban terbang di atas pendukung yang merayakan penarikan pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan di Kandahar, Afghanistan.  Foto: JAVED TANVEER / AFP
Termasuk helikopter tempur UH-60 Black Hawk. Sebelumnya, Taliban juga menguasai helikopter tempur MI-17 buatan Rusia.

Sementara media Inggris Inews, menaksir jumlahnya lebih banyak lagi. Yakni Humvee lebih dari 3.000 unit, serta 144 unit pesawat termasuk pesawat angkut jenis Hercules C-130 sebanyak 3 unit. Belum lagi granat, senapan mesin, serta pelontar granat yang jumlah totalnya hampir menyentuh 30 ribu unit. 

Forbes menaksir nilai total berbagai perlengkapan tempur dan senjata itu tak kurang dari USD 85 miliar atau lebih dari Rp 1.213 triliun. Dengan kekuatan militer tersebut, nilai persenjataan yang kini dikuasai Taliban, setara 9 kali anggaran belanja militer Indonesia di RAPBN 2022 sebesar Rp 133,9 triliun.

Bahkan nilai Alutsista yang kini dikuasai Taliban itu, masih lebih besar daripada belanja pertahanan India tahun 2020 lalu. India merupakan negara dengan belanja pertahanan terbesar ketiga di dunia, yang sebesar USD 72,9 miliar dolar. Belanja militer negara ini berada di bawah Amerika Serikat (USD 778 miliar) dan China (USD 252 miliar). 

Meski demikian, Associate Profesor the United States Military Academy, Vikram Mittal menyebut, sebagai senjata bekas pakai, yang kini dikuasai Taliban nilai sudah tidak sebesar yang diperkirakan. "Valuasinya kini ditaksir tinggal USD 18 miliar (Setara Rp 257 triliun)," kata Vikram Mittal. 

Meski kemampuan Taliban mengoperasikan alat-alat tempur itu mengagetkan banyak pihak, namun menurutnya usia pakai perlengkapan militer itu tak akan lama. Karena AS dan NATO tentunya tak akan memberikan pasokan suku cadang.

"Harus diperjelas juga bahwa AS tidak memberikan kepada Tentara Nasional Afghanistan Alutsista paling mutakhir di dunia. Memang Taliban telah berparade dengan Humvee lapis baja serta kendaraan tempur lainnya, namun komponen elektronik sensitifnya telah dilucuti," ujar Vikram Mittal. [kumparan]