Ngabalin Diduga Kena Gangguan Jiwa Langka, Syafril Sjofyan: Cuma Satu dari Ratusan Orang

Ngabalin Diduga Kena Gangguan Jiwa Langka, Syafril Sjofyan: Cuma Satu dari Ratusan Orang

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Pengamat kebijakan publik, Syafril Sjofyan menanggapi pernyataan kontroversial yang dilayangkan Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin kepada menteri era Presiden Gus Dur, Rizal Ramli. Dia menilai, sikap Ngabalin berbanding terbalik dengan pencitraannya saat tampil di media hingga membahas soal gangguan jiwa.

Syafril secara khusus menilai perilaku Ngabalin di media yang selalu menekankan agar masyarakat Indonesia menggunakan diksi yang baik dan sopan.

Berbanding terbalik dengan hal tersebut, sementara Ngabalin justru kerap memberikan pernyataan tidak sopan dan terkesan kasar melalui akun jejaring media sosial pribadinya.

Sindrom ini hanya menyerang satu dari ratusan orang

Menurut pengamatan Syafril Sjofyan, sebenarnya Ngabalin bukan orang yang tidak beretika atau orang tak berpendidikan.

Namun hal itu bertolak belakang ketika dia mengeluarkan kata-kata kotor. Oleh sebabnya dia menilai bahwa ada yang terganggu dari kejiwaan Ngabalin sehingga mempengaruhi kondisi fisik dan sosialnya.

“Kasus ini bisa jadi bergejala sindrom kejiwaan. Sindrom ini hanya menyerang satu dari ratusan orang. Kondisi kompleks yang memengaruhi kondisi fisik dan sosial penderitanya,” kata Syafril, mengutip Rmol pada Selasa, 14 September 2021.

Sosok aktivis pergerakan 77-78 ini menduga, Ngabalin seperti orang yang bernafsu menjadi pejabat dengan jabatan tinggi.

Sementara faktanya membuktikan, kata Syafril, bahwa Ngabalin kedudukan yang didapat hanya alang-alang saja.


“Jika diamati dalam setiap diskusi di media selalu menyerang dengan cara ‘merasa paling benar’ dan cenderung sangat sombong, sok kuasa dan tidak tahu aturan. Berbicara dengan mencerocos tanpa peduli waktu diskusi bukan miliknya,” ujar Syafril.

Ketika menghadiri acara diskusi, Ngabalin juga sering menyatakan kepada pihak lawan diskusi agar menggunakan diksi sopan dan beretika. Namun anehnya terkadang dia justru merasa berhasil menggunakan diksi kotor dan kasar dalam menyerang lawannya.

Syafril menyebut perilaku ini sebagai tanda-tanda depresi mental atau sindrom tourette. Sering dianggap sebagai penyakit yang ‘tidak tampak’.

Penderita penyakit ini sering berjuang sendirian dalam sunyi di balik pintu yang tertutup.

Lebih lanjut Syafril menjelaskan, orang yang menderita gangguan jiwa menyadari bahwa kondisinya dapat memengaruhi orang-orang di sekitarnya.

“Karena stigma yang melekat kuat pada gangguan jiwa, seseorang biasanya takut mengakui sikap kasar mereka itu karena penyakit yang dideritanya,” imbuhnya. [hops]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita