Mampukah RI Hidup Berdampingan dengan COVID-19? Ini Kata Pakar
logo

9 September 2021

Mampukah RI Hidup Berdampingan dengan COVID-19? Ini Kata Pakar

Mampukah RI Hidup Berdampingan dengan COVID-19? Ini Kata Pakar


GELORA.CO - Banyak pakar meragukan bahwa COVID-19 mampu dihilangkan dari muka bumi ini, sehingga menilai virus ini akan hidup berdampingan dengan manusia. Meski begitu, siapkah masyarakat Indonesia menjalani kehidupan baru tersebut?

Menurut pengamat vaksinasi dari Universitas Indonesia, Prof Tjandra Yoga Aditama, Indonesia mampu hidup berdampingan dengan virus ini selayaknya penyakit menular lain. Hanya saja, perlu ditekankan bahwa virus ini bisa berjalanan beriringan dengan manusia melalui tiga hal yakni pembatasan sosial dengan protokol kesehatan, vaksinasi, dan tracing.

"Kalau ada PPKM, testing dan tracing dinaikan, dan vaksin diberikan, kasus akan turun. Terlihat dari yang awal Juli kasusnya sampai 50 ribu, di akhir Agustus jadi 5 ribu," tuturnya dalam sesi VIVATalk, Rabu, 8 September 2021.

Untuk bisa hidup berdampingan, setidaknya angka kasus harus dijaga dengan baik melalui tiga langkah dasar tersebut. Tak hanya itu, protokol kesehatan yang dijalani juga harus diperketat agar tak ada lagi yang menularkan sehingga mutasi virus tidak bermunculan.

"Lakukan tes besar-besaran agar ketahuan yang OTG (orang tanpa gejala) lalu diisolasi. Masyarakat juga harus patuh memakai masker," imbuh Dokter Spesialis Paru itu.

Selain protokol kesehatan dan vaksin serta pembatasan sosial, tiap individu diharapkan mampu menjalani pola hidup bersih dan sehat di masa pandemi ini. Agar nantinya, sistem imun meningkat sehingga virus tak lagi bermutasi dan menular namun mampu dihancurkan.

"Makin banyak daya tahan tubuh besar peluangnya (hidup berdampingan dengan virus). Dianjurkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan makan bergizi, istirahat, jangan rokok, kelola stres agar imun baik," tuturnya.

Terakhir, masyarakat diminta memantau dengan ketat angka-angka yang dipaparkan terkait COVID-19. Dengan begitu, tindakan pencegahan akan lebih baik dan cepat untuk dilakukan.

"Jangan sampai naik 5 kali lipat agar kasus tidak berkepanjangan. Kasus banyak karena adanya virus dan manusia. Kalau virus baru lagi, situasi berubah lagi, orangnya kalau makin tidak jaga prokes, situasi berubah juga," pesan Prof Tjandra.[viva]