Fakta Soal Guinea yang Dikudeta Militer Gegara Jabatan Presiden 3 Periode
logo

6 September 2021

Fakta Soal Guinea yang Dikudeta Militer Gegara Jabatan Presiden 3 Periode

Fakta Soal Guinea yang Dikudeta Militer Gegara Jabatan Presiden 3 Periode


GELORA.CO -  Militer Guinea merebut kekuasaan dalam kudeta dan menangkap Presiden Alpha Conde. 

Kudeta di Guinea, yang merupakan salah satu negara termiskin di Afrika Barat meskipun kaya akan sumber daya alam, terjadi setelah ada amandemen konstitusi pada 2020 yang memungkinkan presiden menjabat 3 periode.

Dilansir dari AFP, kudeta tersebut dilakukan oleh Pasukan khusus Guinea pada Minggu (5/9) dan langsung memberlakukan jam malam. Mereka juga membubarkan konstitusi.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Senin (6/9/2021), berikut fakta-fakta tentang Guinea:

- Rezim otoriter -
Bekas koloni Prancis itu adalah satu-satunya negara berbahasa Prancis di benua Afrika yang pada tahun 1958 menolak komunitas Prancis-Afrika yang diusulkan oleh Presiden Prancis Charles de Gaulle. Sebagai gantinya, negara itu meraih kemerdekaan dan memasang rezim sosialis yang akan dipimpin oleh Ahmed Sekou Toure dengan tangan besi selama seperempat abad. Di bawah pemerintahannya, sekitar 50.000 orang terbunuh atau hilang begitu saja, menurut organisasi hak asasi manusia.

Guinea telah menghabiskan beberapa dekade di bawah rezim otoriter atau diktator, dimulai dengan Sekou Toure, diikuti oleh Lansana Conte, yang meninggal pada 2008. Junta militer di bawah kapten Moussa Dadis Camara kemudian mengambil alih dalam kudeta tak berdarah.

Pada tanggal 28 September 2009, pasukan keamanan membantai 157 orang dalam aksi demo yang mengumpulkan puluhan ribu pendukung oposisi di Conakry, yang memprotes rencana partisipasi Camera dalam pemilihan presiden berikutnya, sementara 109 wanita diperkosa, menurut sumber-sumber PBB.

- Transisi demokrasi -
Pada tanggal 7 November 2010, andalan oposisi lama Alpha Conde menjadi presiden pertama yang dipilih secara bebas dalam sejarah Guinea. Dia terpilih kembali pada tahun 2015 untuk masa jabatan kedua setelah pemilihan yang diwarnai kekerasan dan di tengah tuduhan kecurangan.

Terpilihnya Conde untuk masa jabatan ketiga pada Oktober lalu menyebabkan ketegangan serta penangkapan puluhan oposisi, tetapi ia tetap dinyatakan sebagai pemenang pada 7 November, meskipun ada gugatan terhadap hasil dari saingan utama Cellou Dalein Diallo dan tiga kandidat lainnya yang mengklaim adanya kecurangan-kecurangan.

- Sumber daya alam yang kurang dieksploitasi -
Guinea, yang berbatasan dengan Sierra Leone, Liberia, Pantai Gading, Mali, Senegal dan Guinea-Bissau, adalah 80 persen Muslim, tetapi terdiri dari berbagai kelompok etnis, termasuk etnis Fulani dan Malinkes yang paling besar. Guinea sedikit lebih besar dari Inggris dan memiliki banyak kekayaan sumber daya alam.

Negara ini adalah salah satu produsen utama bauksit dunia, mineral utama yang digunakan dalam produksi aluminium. Selain itu Guinea juga produsen besi, emas, berlian dan minyak.

Pertanian adalah sumber utama pekerjaan di negara itu.

PDB tumbuh 5,6 persen pada 2019 dan 5,2 persen pada 2020, menurut Bank Pembangunan Afrika, yang memperkirakan kenaikan mencapai lima persen tahun ini berdasarkan kinerja yang kuat di pertambangan dan juga mulai beroperasinya pembangkit listrik tenaga air Souapiti di timur laut ibu kota Conakry.

Namun, korupsi tetap menjadi masalah utama. Transparency International menempatkan Guinea di peringkat 137 dari 180 pada indeksnya tahun lalu dan kesenjangan sosial sangat mencolok dengan sekitar setengah dari 13 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, menurut lembaga statistik nasional negara itu.

Banyak orang juga tidak memiliki akses listrik dan air mengalir, menurut Bank Dunia.

- Sunat perempuan, Ebola -
Guinea tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah sunat perempuan tertinggi di dunia, menurut UNICEF, sekitar 97 persen anak perempuan dan kaum wanita menjalani sunat.

Negara ini juga dilanda wabah Ebola terburuk hingga saat ini, yang dimulai di negara itu pada Desember 2013 dan berlangsung selama tiga tahun. Wabah itu menyebabkan 11.000 orang Afrika barat tewas, sebanyak 2.500 orang di antaranya di Guinea.(detik)