Beda Suara di Senayan soal Ancaman Kapal Selam Nuklir Australia bagi RI
logo

19 September 2021

Beda Suara di Senayan soal Ancaman Kapal Selam Nuklir Australia bagi RI

Beda Suara di Senayan soal Ancaman Kapal Selam Nuklir Australia bagi RI


GELORA.CO - Australia, Inggris dan Amerika Serikat mengadakan proyek kapal selam nuklir di Australia. Komisi I DPR RI merespons rencana itu dan berbicara ancaman keamanan terhadap Indonesia.

Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid kecewa dengan rencana itu. Meutya mengatakan rencana kapal selam nuklir itu berpotensi meningkatkan tensi keamanan di kawasan.

"Saya kecewa atas rencana Australia dalam membangun kapal selam nuklir. Keberadaan kapal selam bertenaga nuklir tersebut sudah pasti akan meningkatkan tensi keamanan di kawasan. Komisi I meminta Australia mempertimbangkan ulang rencana pembangunan kapal selam nuklir," kata Meutya, Jumat (17/9/2021).

Australia sebagai negara tetangga ASEAN, menurut Meutya, seharusnya berkomitmen menjaga stabilitas kawasan. Komisi I DPR khawatir rencana Australia bisa meningkatkan ancaman militer di kawasan.

"Sebagai negara tetangga, Australia sebaiknya juga mendukung program regional ASEAN untuk menjaga keamanan dengan tetap memprioritaskan pendekatan nonkekerasan dan menghormati hukum internasional, termasuk UNCLOS 1982 dan perjanjian nonproliferasi," kata Meutya.

"Kami khawatir keberadaan kapal selam ini meningkatkan perlombaan senjata dan proyeksi ancaman kekuatan militer di kawasan. Di Indonesia sendiri, ancaman itu beberapa kali terjadi dengan ditemukan unmanned underwater vehicle (UUV) atau drone laut awal tahun ini di Pulau Tenggol, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, dan pada 2019 di Kepulauan Riau," imbuh Meutya.

Dia menilai Indonesia pantas khawatir dengan rencana Australia, Inggris dan AS ini. Politikus Golkar itu meminta pemerintah mempertimbangkan untuk menolak kapal selam nuklir Australia tersebut.

"Kekhawatiran Indonesia cukup beralasan karena sejumlah negara juga mengutarakan penolakannya, seperti Selandia Baru, China, dan Prancis. Bahkan, jika perlu, Indonesia perlu mempertimbangkan menolak kapal selam nuklir Australia tersebut melintas di perairan Indonesia," ujar Meutya.


Golkar soal Kapal Selam: Harus Dilarang Masuk RI
Anggota Komisi I DPR dari fraksi Golkar, Bobby Adhityo Rizaldi meminta Indonesia waspada. Bobby mengatakan kapal selam bertenaga nuklir itu harus dilarang masuk wilayah Indonesia.

"Ya kita perlu mewaspadainya karena bukan soal alutsista, tapi karena ada ketidakadilan. Negara yang belum mempunyai senjata nuklir dilarang mengembangkannya, tapi negara yang sudah punya dipersilakan menyimpannya, dan ini Australia malah akan membangunnya," kata Bobby kepada wartawan, Jumat (16/9).

Dia menilai rencana Australia mengadakan armada kapal selam bertenaga nuklir tak terlepas dari konflik di Laut China Selatan (LCS). Sikap pemerintah dengan memberikan perhatian khusus terhadap rencana armada kapal selam nuklir Australia tersebut dianggap sudah tepat.

"Ini memang adalah bagian dari aliansi AS-Australia-Inggris dalam konteks konflik LCS. Walaupun Indonesia tidak berdampak langsung, bila menyangkut adanya senjata nuklir di kawasan, ini perlu perhatian khusus," ujar Ketua DPP Golkar itu.

TB Hasanuddin Anggap Bukan Ancaman Bagi RI

TB Hasanuddin memberikan pandangan yang berbeda mengenai rencana kapal selam nuklir Australia itu. Anggota Komisi I DPR dari fraksi PDIP itu menilai kapal bertenaga nuklir itu bukan ancaman bagi Indonesia. Dia pun memberikan beberapa alasan.

Proyek kapal selam Australia itu menurut TB Hasanuddin tak terlepas dari ketegangan AS dan China. Dia menyebut Australia merupakan salah satu sekutu AS di kawasan Asia Pasifik.


"Ini menimbulkan ketegangan karena sepertinya yang dihadapi China. Amerika tidak ingin jalur logistik dan perdagangan Amerika terganggu. Karena, kita tahu bahwa sekutu Amerika di Asia Pasifik kan salah satunya Australia," kata TB Hasanuddin, Kamis (17/9).

Indonesia, kata TB Hasanuddin tidak perlu menyikapi secara berlebihan terhadap proyek kapal selam nuklir Australia ini. Dia mengingatkan Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif.

"Indonesia bersyukur politik luar negeri bebas aktif, jadi sejak dulu tidak pernah bergabung ke salah satu blok. Semua sahabat, semua teman. Kita tidak ambil blok kiri, kanan, atau ke mana," ucapnya.

Berdasarkan penjelasan tersebut, TB Hasanuddin menilai rencana kapal selam nuklir Australia bukan ancaman bagi RI. Sebab Indonesia tidak menganggap Australia sebagai musuh.

"Karena bukan ancaman. Bukan ancaman karena kita tidak melakukan sikap permusuhan. Bukan ancaman. Kita semua bersahabat, berteman. Karena prinsip kita, tidak ingin melakukan agresi terhadap negara tetangga," ujarnya.

Lebih lanjut, TB Hasanuddin menilai rencana kapal selam nuklir Australia juga masih belum jelas. Dia juga menyebut kapal selam bertenaga nuklir merupakan hal yang biasa.

"Tapi kalau kapal selam tenaga nuklir itu, itu sudah biasa di negara maju. Ada kapal selam bertenaga nuklir atau kapal bersenjata nuklir. Ini Australia yang mana?" katanya.


Sikap Indonesia
Indonesia telah menanggapi rencana pembangunan kapal selam Australia ini. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan Indonesia akan mencermati secara hati-hati.

"Indonesia mencermati dengan penuh kehati-hatian tentang keputusan pemerintah Australia untuk memiliki kapal selam bertenaga nuklir. Indonesia sangat prihatin atas terus berlanjutnya perlombaan senjata dan proyeksi kekuatan militer di kawasan," kata pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Indonesia seperti dikutip Jumat (17/9).(RMOL)
close
Subscribe